Forum Download app Gifts
27.27% Another World I Be Here / Chapter 15: Bantuan

Read Another World I Be Here - Chapter 15 online

Chapter 15: Bantuan

Di hutan daerah luar yang ada di Archdale ...

Seorang Jomblo mencari nafkah dengan mengambil sebuah quest yaitu memburu dua puluh sapi hutan. Meskipun imbalannya tidak seberapa, Sema tetap menjalankan quest ini sembari latihan menggunakan keenam pedang pendeknya atau yang bernama dagger.

Akhirnya Sema mengerti dengan sistem dunia dan sistem yang lainnya, setiap kata yang ia ucapkan membuat orang lain mengerti dan itu seperti terjemahan otomatis. Meskipun begitu, Sema harus tetap belajar mengenai huruf-huruf yang ada di dunia ini.

Kemampuan Sema dalam melempar dagger sudah mahir apalagi digabung dengan sihir tingkat paling rendahnya yaitu membayangkan mananya menjadi bentuk lain berupa benang-benang tipis yang dapat dikendalikan.

Meskipun begitu, tingkat mana yang dimiliki oleh si Jomblo ini terbilang ada di tingkat paling rendah. Oleh karena itu, si Jomblo membuat benang mana setipis mungkin sampai-sampai tidak terlihat namun akan silau jika mengenai pancaran sinar matahari.

Saat ini, ia telah memburu beberapa sapi hutan setidaknya sebelas ekor yang sudah ia buru sedari tadi. Meskipun Sema sudah mahir melempar, namun tenaga dalam melempar dagger tidak cukup untuk melumpuhkan sapi hutan karena itu ia harus cepat-cepat membunuhnya dengan cara yang cepat agar tidak tersiksa.

Sema kembali melempar dua dagger dengan kedua tangannya, mengejar dengan berlari cepat di mana sapi hutan tersebut terluka dengan dua dagger tadi. Sema mengambil dua dagger lagi di wadah yang ada di pinggangnya lalu menyayat leher sapi itu dengan serangan beruntun dan menyerang urat nadi yang ada di dekat leher.

*Brugg

   "Tinggal delapan lagi, tapi perut sudah demo minta makan ... makan dulu."

Pikir Sema seraya melihat langit yang cerah dengab matahari yang tertutup oleh awan-awan yang tipis. Tengah hari sudah lewat karena ketika tadi berburu, matahari ada di atas kepala dengan kata lain dalam tiga jam lagi akan memasuki waktu sore.

Seperti biasa, akan ada seorang pedagang keliling yang menjadi pengantar barang. Sema menitipkan dua belas sapi hutan yang telah ia buru kepada pedagang keliling tersebut karena mereka juga akan masuk ke kerajaan Archdale.

Sema tidak terlalu khawatir jika saja sapi hutannya dicuri atau pun dijual kembali, karena pedagang keliling tersebut adalah pelanggan tetap di bar Sema. Sehingga mereka berdua menjadi teman akrab, usianya yang cukup tua sekitar tiga puluhan membuat Sema dapat melakukan kompromi.

Karena jika Sema menghadapi orang tuanya apalagi ayahnya, ia akan berlaku dan menganggap ayahnya itu seperti teman karibnya. Karena itu, jika Sema menghadapi lawan bicara seperti ayahnya itu. Maka ia akan akrab karena sudah sering mengalami kondisi itu, apalagi ia dikenal dengan kepribadiannya yang baik dan juga ... Jomblo.

Setelah menitipkan dua belas sapi hutan tersebut ke pedagang keliling, ia berniat untuk memburu delapan lagi. Akan tetapi, perutnya sudah demo minta makan dan dia lupa untuk membeli makanan ke pedagang keliling tadi.

Ia pun pergi ke sungai yang ada di belakang penginapan Kamina dengan harapan memancing ikan dengan daggernya.

Beberapa menit kemudian, ia sampai di penginapan Kamina dan meminta izin dulu kepada pemilik penginapan yang berupa sepasang suami istri. Setelah mendapatkan izin, kini si Jomblo ini terpaku melihat aliran sungai yang bersih dan terdapat beberapa ikan cukup besar berenang bebas di hadapannya.

Sema mengambil dua dagger yang ada pada wadah di pinggangnya, melempar dagger tersebut dengan mengincar ikan yang sedang berenang. Akan tetapi, ikan-ikan yang ia incar dapat menghindari laju dagger dengan kecepatan yang hebat.

   "Astaga ... jika seperti ini aku bisa mati kelaparan, lebih baik membeli makanan."

Pikir Sema setelah melihat usahanya sia-sia, ia melangkahkan kakinya untuk pergi dari sungai menuju penginapan Kamina lalu pergi ke gang yang menuju kota.

Akan tetapi, terdapat seorang perempuan yang memanggil namanya dari belakang. Dengan insting Jomblonya yang hebat, ia langsung menyadari bahwa orang yang memanggil namanya dari belakang adalah Nekomata.

   "Apa yang kau lakukan di sini?"

Tanya Sema seraya berbalik badan namun wajahnya menunjukkan wajah yang malas untuk menghadapi lawan bicara. Nekomata menunjukkan wajahnya yang kecut karena reaksi Sema berbeda dengan apa yang ia bayangkan.

   "Bisakah kau lebih semangat? Ngomong-ngomong bukankah ka-"

*Groaaar

Tiba-tiba saja perut Sema berbunyi nyaring di hadapan Nekomata yang sedang berbicara. Perlahan-lahan tapi pasti, wajah Sema mulai memerah karena ia malu ketika orang lain tahu bahwa ia kelaparan.

   "Ma-malu ... malu sekali!?"

Panik Sema seraya menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya. Nekomata menanggapi tingkah Sema dengan senyuman licik dan wajahnya cukup membuat kesal.

   "Ngomong-ngomong ... apa yang sedang kau lakukan di sini?"

Tanya lagi Sema kepada Nekomata seraya menurunkan kedua tangannya, ia pun menghela napas untuk menanggapi pertanyaan dari Sema.

   "Mencari makanan, cadangan makananku sudah hampir habis. Saat ini juga aku kehabisan uang, kalau begitu sampai jumpa."

Sahut Nekomata seraya berbalik badan, Sema menghampirinya dengan cepat lalu memegang pundak Nekomata dengan tangan kanan.

   "Kerja samalah denganku."

Ucap Sema dengan niat terselubung, Nekomata dapat merasakannya dan menanggapinya dengan wajah yang kecut. Ia pun berbalik badan kemudian menanyakan rencana yang akan dilakukannya bersama dirinya.

   "Kau kucing, kan? Itu ikan yang sedang berenang ... tangkap saja."

Ucap Sema seraya menunjuk ikan-ikan yang sedang berenang di sungai, Nekomata menoleh ke samping kanan dan ia menganggukkan kepala pertanda mengerti.

   "Lalu? Aku hanya harus melakukan itu saja? Bagaimana denganmu?"

Tanya Nekomata seraya menatap mata Sema, ia pun menanggapinya dengan berpikir seraya tangan kanan di dagu dan ia menunjukkan ekspresi yang serius.

Setelah memikirkannya beberapa kali, ia pun mendapatkan sebuah kesimpulan yang menurutnya memang seperti itu. Ia pun menurunkan lengan kanannya lalu menunjukkan wajah yang bego.

   "Melihatmu sedang menangkap ikan."

   "Nyaa!?"

* * * * * *

Di pinggiran sungai, Sema berdiri dengan bersandar di pohon yang daunnya rindang. Memperhatikan Nekomata sedang menangkap ikan, di pandangannya saat ini hanya terlihat seekor kucing sedang menangkap ikan.

Ia mengangkat tangan kanannya lalu ditempatkan di wajahnya, ia ingin meminta maaf kepada Nekomata karena ia gampang dibodohi. Ia khawatir jika saja Nekomata dibodohi oleh orang lain, lebih baik oleh dirinya sendiri.

   "Maaf Nekomata, saking begonya dirimu aku sangat berterima kasih."

Ucap Sema dalam hati, seharusnya Nekomata bisa saja menangkap ikan-ikan tersebut yang ada di sungai tanpa meminta kerja sama dengan Sema. Malahan, Nekomata sendirilah yang bekerja sedari tadi.

   "Soutarou! Apakah segini cukup!?"

Tanya Nekomata, Sema langsung menurunkan tangan kanannya lalu melihat Nekomata sudah menimbun ikan-ikan yang ia tangkap sendiri.

Setelah melihat kerja keras Nekomata yang menunjukkan wajah polos nan imut, ia merasa berdosa karena telah membohongi Nekomata yang merupakan gadis imut polos ini.

   "Itu sudah cukup, Nekomata ... bisakah kau kemari?"

Tanya Sema seraya menggerak-gerakkan tangan kanannya, Nekomata tidak cukup mengerti namun ia menghampiri Sema dengan kaki, pakaian, dan tangannya yang sedikit basah.

Setelah ia menghampiri Sema dan berdiri di depannya, Sema menyuruh Nekomata untuk menutup matanya. Nekomata memikirkannya sebentar, ia langsung teringat ketika kejadian ia tidak sengaja memergoki Sema dan Kasuvi yang berciuman di ruangan Sema.

Karena pada saat itu Kasuvi membelakangi Nekomata dan terlihat berciuman, Sema menghalanginya dengan telapak tangan ketika dua bibir mereka berdua berciuman.

Namun Nekomata malu untuk menanyakannya, saat ini juga ... ia berpikir apakah Sema menyuruh dirinya menutup kedua matanya agar Sema dapat menciumnya.

Pipinya mulai memerah sampai ke telinga, ia sadar bahwa tidak selamanya ia akan menjadi gadis lugu dan polos sehingga ia berpikir bahwa saatnya untuk menaiki tangga kedewasaan.

Nekomata memajukan sedikit wajahnya dan bibirnya yang bagaikan permen sungguh menggoda, Sema terbingungkan dengan situasi saat ini.

    "Ekh!?"

Nekomata terkejut karena ia mengira Sema akan menciumnya, tetapi Sema mengusap-usap kepalanya dengan lembut. Dengan pemikiran yang sudah ia tetapkan bahwa Sema akan menciumnya, ia mulai malu sendiri sampai-sampai telinganya memerah.

   "A-a-apa!? Ekh!?"

Panik Nekomata dan ia sedikit menundukkan wajahnya agar wajah malunya tidak terlihat oleh Sema. Sema mengucapkan terima kasih kepada Nekomata karena mau membantunya.

   "Ti-tidak apa, itu pekerjaan yang mudah."

Ucap Nekomata dengan bersikap tsundere, Sema sedikit bingung akan sikap Nekomata yang berubah. Sema berhenti mengelus-elus kepalanya, ia pun berjalan melewati Nekomata untuk pergi dan melihat timbunan ikan yang telah ditangkap oleh Nekomata.

   "Tu-tunggu sebentar!"

Seru Nekomata, ketika Sema berniat untuk berbalik badan Nekomata sudah memendamkan wajahnya ke punggung Sema. Perlahan-lahan Sema mencoba berbalik badan, melihat wajah Nekomata yang sedikit memerah dan ia merasa malu.

   "Ada apa? Apakah kau tidak enak badan?"

Tanya Sema seraya memandangi wajah Nekomata, ia pun menanggapinya dengan gelengan kepala lalu menundukkan kepalanya.

   "Bi-bisakah kau mengelus-elus kepalaku ... lagi?"

Nekomata mengucapkannya dengan wajah yang imut, Sema yang Jomblo tidak bisa menolaknya begitu saja. Ia menghela napas cukup dalam, wajahnya mulai tenang dan perlahan-lahan ia mengelus-elus kepala Nekomata.

* * * * * *

*Kringg

Terdengar suara lonceng berdentang yang dipasang pada pintu bar, Levius menoleh ke belakang lalu melihat sebuah sepatu yang menekan gagang pintu.

   "Selamat da ... tang ... "

Levius terkejut dengan Sema dan Nekomata yang membawa sebuah daun dengan ukuran besar. Sema segera berjalan ke depan kasir, begitu pula dengan Nekomata lalu meletakkan dua daun berisi ikan yang mereka bawa di atas meja kasir.

   "Apakah kau terlalu giat dalam bekerja, anak muda ... "

Ucap seorang pria yang cukup tua, dia adalah salah satu pedagang yang mengantarkan sapi hutan buruan Sema ke Guild. Sema menghela napas sebentar, ia berbalik badan lalu menghitung jumlah pelanggan.

   "Tujuh ya ... Pak Tua, terima kasih karena selalu membantuku."

   "Hahaha ... tenang saja anak muda, kau adalah Master yang baik."

Pak Tua itu pun menyeruput kopi hitam yang sudah ia pesan sebelumnya, para pelanggan yang lainnya pun menanyakan keadaan Sema, apakah dia butuh bantuan atau tidak.

Namun, Sema menunjukkan senyuman kecilnya lalu meminta para pelanggannya yang berupa orang-orang yang sudah cukup tua. Ada juga pelanggan yang lain yang masih muda, namun mereka ada di sebelah ruangan ini dan diatasi oleh Kasuvi dan Sera.

Setelah menghitung pelanggannya yang berjumlah tujuh orang, Sema menyuruh Ruina yang sedang membersihkan meja untuk mengambil sembilan kantong kertas. Ruina segera mengambilnya dengan cepat yang ada di dalam lemari, ia pun memberikannya kepada Sema.

Membungkus ikan-ikan hasil buruan Nekomata ke dalam kantong kertas dengan setiap kantong kertas berisi enam ikan.

Sema membagi-bagikan kantong kertas tersebut kepada tujuh orang yang hadir di tempat ini. Nekomata terlihat tidak setuju dan ia mulai marah, akan tetapi ... Sema mulai malas menanggapinya.

Ia pun melempar catnip ke belakang kasir yang terdapat Ruina, dengan segera ... Nekomata langsung mengejar catnip yang dilempar oleh Sema karena baunya yang dapat memabukkan kucing.

   "Baiklah ... satu masalah teratasi."

   "Sebentar ... dua kantong kertas sisanya lagi untuk siapa?"

Tanya Pak Tua pedagang keliling, Sema menyuruh Pak Tua tersebut untuk mengantarkannya kepada dua orang lagi yang biasa membantunya di Guild.

   "Berikan ini kepada Houns Rayford dan Lyria Rena, aku dengar ... Lyria sedang mengalami mood yang buruk. Dan Houns, katanya anak laki-laki yang dikandung istrinya sudah lahir ... jika tidak salah ... Ixtab Rayford."

   "Hahaha ... baiklah, sebelum itu ada yang ingin aku sampaikan padamu ... "

Pak Tua pedagang keliling tersebut memberi Sema sepucuk surat yang digulung dan masih terikat dengan tali. Sema menerimanya dengan tangan kanan, ia pun menanyakan surat ini dari siapa.

   "Aku tidak tahu siapa pengirimnya, namun yang aku tahu dia adalah pasukan bayaran. Dan saat memberikannya padaku, ia mengalami luka di tangan kanannya."

   "Begitukah ... "

Sema membuka surat tersebut perlahan-lahan dimulai dari tali, lalu membuka gulungan surat tersebut. Ia tidak bisa membacanya karena ia masih belum belajar huruf-huruf yang ada di dunia ini.

Namun ia tahu arti dan makna apa yang ada dalam surat ini, terdapat bercak darah pada surat tersebut dan huruf-hurufnya ada yang rusak.

Kemungkinan besar, surat ini ditulis ketika terjadi keributan yang besar sehingga surat ini dikirimkan karena membutuhkan bantuan.

Sema melempar surat tersebut kepada Levius lalu menyuruhnya untuk membaca kata demi kata. Levius cukup bingung dengan situasi saat ini karena Sema mulai serius, namun ia dipaksa untuk membacanya terlebih dahulu.

   "Sialan ... main suruh saja, tapi dia adalah Masterku ... "

Kesal Levius dalam hati, ia pun mulai membaca perlahan-lahan dan mencoba menyambungkannya kata demi kata.

   "Kepada sang Jomblo, karena ketahuan menjual tiga budak kepadamu. Kami para pasukan bayaran diserang oleh kerajaan Erinu yang merupakan tempat tinggal kami, aku mohon padamu ... keluarkan semua budak yang mereka kurung di ... maaf Sema, huruf terakhirnya tidak jelas karena bercak darah."

   "Tidak ... tidak apa, kau tidak perlu untuk memaksakannya."

Ucap Sema, Levius menanggapinya dengan anggukan kepala lalu mengembalikan sepucuk surat tersebut kepada Sema. Ketujuh pelanggan yang mendengar akan perkataan dari Levius langsung berdiri serentak.

   "Anak muda, kami akan ikut denganmu."

   "Soutarou, kau bisa mengusik kerajaan Erinu bagian dari Lasfor. Kami akan membantumu sekuat tenaga."

   "Sema, biarkan kami membantumu."

   "Karena aku senggang dan tidak ada kerjaan, aku akan ikut denganmu."

   "Akan hambar jika saja tiga gadis yang selalu ceria bekerja di bar ini ditangkap kembali, aku tidak sudi menerimanya."

   "Kerja sampingan dengan menyerang kerajaan Erinu, aku ikut denganmu. Aku akan bosan jika Ruina, Sera, dan Levius tertangkap oleh kerajaan sialan itu."

   "Ekh? Aku harus ikut ya?"

Sema memandang mereka satu persatu, ia menghela napas karena memiliki teman seperjuangan yang selalu mendukungnya meskipun dia sangatlah lemah.

   "Baiklah ... aku mengandalkan kalian semua, mohon bantuannya!"

To Be Continue ....


next chapter
Load failed, please RETRY

Privileged

More Privileged Chapters

Download the app and become a privileged reader today! Come take a sneak peek at our author's stockpiled chapters!

Download

Table of Contents

Display Options

Background

Font

Size

Chapter comments

Write a review Reading Status: C15
Fail to post. Please try again
  • Writing Quality
  • Stability of Updates
  • Story Development
  • Character Design
  • World Background

The total score 0.0

Review posted successfully! Read more reviews
Send Gifts
Gifted
Thank you for your generous gift.

Cost Coin to skip ad

You can get it from the following sources

  1. 1. Daily check-in
  2. 2. Invite friends invite now >
  3. 3. Vote for new stories Vote >
learn more >
Vote with Power Stone
Rank NO.-- Power Ranking
Stone -- Power Stone
Report inappropriate content
error Tip

Report abuse

Paragraph comments

login
Report inappropriate content
error Tip

Get More Coins

Please switch to the pop-up to complete the payment.

Earn Rewards Earn Rewards

Earn rewards

by completing the missions

Complete daily missions to get rewards.

Learn more about the rules
  • 1. Reward frequency has been adjusted! Receive a reward once you complete two minutes of reading!
  • 2. Rewards adjusted! Earn points reading to exchange for Amazon Gift Cards! Coins that never expire! More rewards to come!(The above rewards are only available on the app.)

This's an experimental test for reading assistance in case.

We highly recommend you to enjoy the beauty of the original words.