Forum Download app Gifts
9.3% Esostrefis Gynaíka / Chapter 4: Kencan Yang Membosankan

Kencan Yang Membosankan - Esostrefis Gynaíka - Chapter 4 by Vienna_Gu full book limited free

Chapter 4: Kencan Yang Membosankan

Tepat jam 6 sore ponsel Lena berbunyi, dia mengambil ponselnya di meja dan membaca sms Evan.

Len, saya berangkat sekarang. Nanti kalo  udah sampe di depan rumah kamu, saya telepon, ya.

Ya, Van. 

Sehabis sms-an, Lena menunggu Evan datang menjemput ke rumahnya.

******

Di tempat lain Evan sudah rapi dan bersiap-siap berangkat ke rumah Lena. Dia sudah ijin kepada papanya untuk pergi kencan ke mall dengan Lena.

Evan mengenakan kemeja polos lengan pendek berwarna biru tua, celana jeans hitam, jaket tebal berwarna coklat tua, syal putih di leher dan sepatu kats putih.

Sore ini dia akan bertemu Lena, dia berpikir siapa tahu dari pertemuan ini dirinya bisa lebih dekat dengan Lena.

Evan keluar dari kamar lalu berjalan menuju garasi mobil. Waktu hendak masuk ke dalam sedannya, tiba-tiba ada sedikit keraguan di hati Evan. Dia takut kencan pertamanya dengan Lena nanti gagal seperti sebelumnya.

Evan pun bertekad agar kencan sore ini tidak gagal, dia akan membuat Lena nyaman saat berada di dekatnya nanti. Evan tidak ingin mengecewakan teman kencannya lagi.

Evan pernah mengalami kekecewaan yang begitu dalam karena dua tahun yang lalu,  seorang perempuan idamannya menjauhi dia sesudah pertemuan pertama mereka.

Alasannya adalah Evan tidak dapat membuat perempuan itu merasa nyaman ketika kencan berdua di sebuah tempat wisata di Ciwidey.

Hal itu menyebabkan Evan tidak mau berhubungan dengan seorang perempuan selama satu tahun lebih. Dan kini ketika dia sudah merasa siap menjalin hubungan kembali, dia mencoba untuk mengenal Lena lebih dekat.

Evan berharap kali ini usaha perkenalannya dengan Lena berhasil. Kalau sampai gagal lagi, keinginan Evan untuk segera menikah tidak akan terwujud. 

Setengah jam kemudian, Evan sampai di depan rumah Lena, dia pun bergegas keluar dari mobil dan menelepon Lena.

"Halo, Len. Saya udah nyampe di depan rumah kamu. Pintu rumahnya yang cat abu-abu, kan?"

"Halo. Betul yang catnya abu-abu, bentar saya keluar dulu.

Lena segera keluar dari kamarnya dan mengajak Ivana menemui Evan di depan rumahnya. Lena ingin memperkenalkan Ivana dengan Evan.

Di luar,  Lena melihat seorang laki-laki berambut hitam agak acak-acakan dan berkacamata minus sedang menyandar di mobil sedan tuanya. 

Lalu tanpa ragu sedikitpun sambil menggandeng tangan Ivana, dia mendekati Evan dan menyapanya dengan ramah dan sopan.

"Hai, kamu Evan, ya? Kenalin saya Lena dan ini Ivana, kakak saya."

Evan kemudian menyapa dan menjabat tangan Lena dengan erat, mereka saling bertatapan satu sama lain. Setelah itu dia mengalihkan pandangannya pada Ivana.

"Hai, Len. Salam kenal."

"Salam kenal juga," balas Lena.

"Sore,  Kak. Saya Evan, temannya Lena."

"Iya, saya sudah tahu dari Lena. Katanya kamu mau ajak Lena ke  mall, ya?"

"Betul, Kak. Boleh saya ajak Lena jalan-jalan ke  mall?"

"Boleh, tapi nanti pulangnya jangan terlalu malam, ya. " Ivana mengingatkan Evan.

"Baik, Kak. Kami pamit, Kak."

Ivana mengangguk dan tersenyum pada Evan.

"Aku pergi dulu, Kak." Lena juga pamit pada Ivana. "Makasih buat ijinnya, tolong bilang ke papi dan mami aku pergi sama Evan, bye."

"Oke, bye," sahut Ivana.

Setelah itu Ivana masuk ke rumah, dia berharap kali ini adiknya dapat melupakan masa lalunya dengan Rendy dan mau membuka hati untuk Evan.

"Van, kalau pergi ke Lavender City Mall gimana? Mau gak?"

"Mau dong, aku udah lama gak kesana. Ayo, pergi sekarang," ajak Evan.

Sebelum pergi, Lena memperhatikan lagi penampilan Evan yang sederhana, memakai kacamata minus, berjaket tebal, dan sebuah syal putih melingkar di leher Evan.

Unik banget ini cowok. Batin Lena.

Evan juga memandang Lena yang tomboy, tidak modis dan berwajah pas-pasan. Dia agak kecewa terhadap penampilan Lena sore itu.

Gua pikir lo cantik dan modis seperti ucapan kak Eva, tapi  ternyata biasa aja.  Evan membatin.

Lena risih diperhatikan seperti itu. Dia kemudian memanggil Evan yang sedang memperhatikannya. 

"Van ... Evan ...."

"Ya?"

"Kamu ngelamun, ya? Gimana, jadi ke  mall  gak?" tanya Lena.

"Jadi, Len."

Mereka berdua kemudian masuk ke dalam mobil dan pergi menuju  mall.  Kedua orang itu tidak saling bicara satu sama lain.

Tak lama, Evan mengajak Lena mengobrol terlebih dulu.

"Len, kamu kerja di mana?"

"Kerja di CV. Scarlett Digital Printing, kamu sendiri kerja di mana?" Lena balik bertanya

"Aku di CV. Pasific Digital Printing. Kebetulan banget ya kita kerja di perusahaan percetakan digital, kok bisa sih?" Evan senang ternyata Lena bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang yang sama dengannya.

"Iya, kok bisa, ya? Aneh," balas Lena.

"Di sana kamu bekerja di bagian apa?" tanya Lena lagi.

"Aku bekerja sebagai  designer,"  balas Evan datar." Kalau kamu bekerja di bagian apa?"

"Aku kerja di bagian akunting. Kamu dulu kuliah di mana dan mengambil jurusan apa? Gak semua orang bisa jadi  designer, lho." Lena menatap kagum pada laki-laki yang duduk di sebelahnya.

"Aku kuliah di Universitas Taruna Negeri, Jurusan Komputer Design Komunikasi Visual. Kamu sendiri kuliah di mana, jurusan apa?" Evan memborong pertanyaan.

"Aku kuliah di Universitas Dharma Mulia , Jurusan Manajemen," jawab Lena.

"Jurusan Manajemen? Wah hebat," puji Evan tulus.

"Gak ah, biasa saja. Apanya yang hebat? Malahan kupikir kamu lebih hebat," balas Lena merendah.

"Kamu ini ... pintar memuji orang." Evan tersenyum manis. Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click <a href="https://www.webnovel.com/book/esostrefis-gyna%C3%ADka_20215833706324405/kencan-yang-membosankan_54266611758059110">www.webnovel.com/book/esostrefis-gyna%C3%ADka_20215833706324405/kencan-yang-membosankan_54266611758059110</a> for visiting.

Lena membalas senyuman Evan. Dia begitu mempesona ketika tersenyum.

"Ngomong-ngomong sebelum kerja di sana kamu kerja di mana?" Evan bertanya.

"Sebelumnya aku kerja di  pabrik tekstil," jawab Lena.

"Pabrik Tekstil? Bekerja di bagian apa?" tanya Evan lagi.

"Di bagian akunting juga. Kamu sendiri sebelumnya kerja di mana, Van?"

"Kerja di pabrik garment." Evan menanggapi pertanyaan Lena dengan nada suara yang datar.

Selama perjalanan ke Lavender City Mall,  mereka hanya mengobrol seputar pekerjaan dan kuliah sehingga Lena merasa bosan.

Emang gak ada topik selain kuliah sama kerja di mana, bagian apa, ya? Dari tadi nanyanya itu melulu. Bosen gua. Batin Lena.

~~~~~


next chapter
Load failed, please RETRY

Gifts

Gift -- Gift Received

    Weekly Power Status

    Rank -- Power Ranking
    Stone -- Power Stone

    Batch unlock chapters

    Table of Contents

    Display Options

    Background

    Font

    Size

    Chapter comments

    Write a review Reading Status: C4
    Fail to post. Please try again
    • Writing Quality
    • Stability of Updates
    • Story Development
    • Character Design
    • World Background

    The total score 0.0

    Review posted successfully! Read more reviews

    Cost Coin to skip ad

    You can get it from the following sources

    1. 1. Daily check-in
    2. 2. Invite friends invite now >
    3. 3. Vote for new stories Vote >
    learn more >
    Vote with Power Stone
    Rank NO.-- Power Ranking
    Stone -- Power Stone
    Report inappropriate content
    error Tip

    Report abuse

    Paragraph comments

    login