Forum Download app Gifts
100% HUJAN... / Chapter 1: HUJAN

Read HUJAN... - Chapter 1 online

HUJAN... original

HUJAN...

Author: jikanyotomare

© Webnovel

Chapter 1: HUJAN

Saat mendung menerpa alam semesta dan mengubah jagad raya menjadi gemuruh yang menggetarkan jiwa seolah yang maha kuasa sedang murka, seorang wanita berdiri dengan gaun birunya yang kuyup dan air menetes dari rambut panjangnya yang basah, matanya yang sekelam malam bertabur bintang, menatap penuh tanya pada tingkah laku manusia di hadapannya.

seorang wanita yang lain sedang memeluk suatu benda di dadanya, seolah ia menyembunyikan itu dari dunia, tapi apalah daya saat hujan merusak rencana dan niatnya.

Malam yang seharusnya hanya dikuasai oleh suara gemuruh halilintar yang bersahut- sahutan terpaksa terganggu oleh suara asing yang nyaring memekakan telinga.

tetesan hujan yang jatuh dari langit telah mengganggu tidur dari bayi kecil dalam dekapan wanita yang terhuyung- huyung mencari tempat berteduh, menimbulkan suara tangis dan tersedak dari makhluk mungil penghuni surga tersebut.

Wanita pertama menatap penuh tanya pada wanita yang menggendong bayi yang sedang menangis, seolah ini pertama kalinya baginya untuk menyaksikan hal ini.

Bukan, sebenarnya yang menarik minat dari wanita bergaun biru tersebut adalah sang bayi itu sendiri.

Wajah manisnya seolah terkesima dengan apa yang ia dengar, suara bayi tersebut menarik minat dan rasa keingintahuannya yang terlarang, karena dia tidak boleh ikut campur dalam urusan manusia.

Namun, getaran yang ia rasakan terhadap sang bayi sungguh kuat.

Wanita bergaun biru tersebut menatap langit dan mengangkat tanganya dengan anggun, menjetikkan jemarinya diantara hujan.

Dan seperti di komando, hujan lebat itu perlahan berhenti dan awan mendung sirna, seolah seseorang tengah membangun suatu tenda raksasa disana dan melindungi bumi di bawahnya.

Seusai itu, wanita bergaun biru tersebut menatap wanita dengan anaknya itu kembali, yang terlihat terkejut namun juga bersyukur.

Tapi, itu tidak menghentikan tangis sang bayi, ia terus saja menangis sambil mengepalkan tangannya yang mungil dan membuka mulutnya selebar- lebarnya, menendang kain yang mengikat tubuhnya seolah ia tidak suka.

Di lain sisi, wanita bergaun biru tersebut mengedipkan matanya berkali- kali seraya mengerutkan wajahnya tidak mengerti, mengapa makhluk mungil tersebut tidak berhenti menangis.

Seiring waktu berjalan, tangisnya tidak juga mereda malah makin menjadi, sementara wanita yang menggendongnya berusaha sekuat yang ia bisa untuk membuatnya sedikit lebih tenang, namun tetap saja tidak berhasil.

Entah apa yang wanita itu tunggu saat ia berdiri di pinggir jalan yang sepi, di tengah malam buta, di bawah guyuran hujan dengan bayi dalam dekapannya.

Wajahnya terlihat suram, seolah ada banyak hal yang bergumul di benaknya.

Kemudian, hal yang tidak terduga terjadi, sebuah motor melaju dengan kecepatan di atas rata- rata ke arah wanita dan si bayi.

Entah apa yang ada di pikiran sang pengendara, atau apakah itu hanya kebetulan semata, saat ia membanting stir motor tersebut untuk menghindari genangan air di depannya dan justru menabrak wanita yang tengah berdiri di pinggir jalan.

Seketika itu juga, suara decitan ban yang menggigit aspal nyaring terdengar, hampir memekakkan telinga dan jeritan penuh kengerian memenuhi udara ketika besi- besi motor tersebut menghantam tubuhnya.

Wanita tersebut mendekap bayi yang masih menangis tersebut erat- erat, berusaha melindungi semampunya walaupun ia tidak akan mungkin dapat menghindari bahaya yang mengincarnya.

Tubuh wanita itu terpental beberapa meter di udara sebelum jatuh ke tanah yang keras di bawahnya dengan suara berdebum dan tulang yang patah.

Kemudian dia tidak bergerak lagi, tidak ada erangan kesakitan darinya ataupun ia berusaha untuk menenangkan sang bayi, yang menjerit dalam dekapannya.

Wanita itu diam tak bergerak.

Sementara si pengendara motor jatuh dari kendaraan yang di tumpanginya, namun tidak sedikitpun ia berusaha untuk menolong ataupun sekedar melirik korban yang telah ia celakai, saat ia naik kembali ke motornya dan pergi begitu saja.

Meninggalkan wanita yang tidak bergerak dan bayi yang menangis kencang.

Langit malam yang telah menjadi cerah, membiarkan sinar bulan menyinari tubuh penuh darah dari sang wanita.

Seiring dengan waktu yang berlalu, detik menjadi menit, menit menjadi jam, suasana di sekitar tempat tersebut seolah mati juga.

Tidak ada yang berubah, semuanya seakan berhenti diiringi dengan tangis si bayi yang baru saja kehilangan seseorang yang menjaganya.

Apakah ia ibunya? Kakaknya? Saudaranya? Entahlah… tidak ada yang bisa ditanya ataupun memberikan jawaban.

Perlahan, saat matahari hampir bersinar di ufuk timur dan bulan kembali ke peraduannya, wanita bergaun biru tersebut melangkahkan kakinya dari tempat persembunyiannya yang gelap.

Seolah keluar dari gelapnya malam, wanita tersebut melangkahkan kakinya dengan pasti ke arah bayi tersebut.

Tapi, ia berhenti tepat beberapa meter saja darinya, seolah bingung apa yang harus ia lakukan.

Namun, satu hal yang pasti, dia tidak ingin membiarkan bayi itu ikut mati bersama dengan sang wanita, dan hal itu akan sangat mungkin terjadi apabila dia tidak melakukan apa- apa.

Wanita bergaun biru tersebut melihat bibir si bayi yang telah membiru dengan wajahnya yang memerah.

Kain yang melilit tubuhnyapun sekarang tidak lagi mampu membendung gerakan- gerakan tidak nyaman sang makhluk mungil tersebut, memperlihatkan kaki dan tangannya yang kecil.

Dinginnya suasana pagi setelah hujan mampu menyengat kulit, bahkan untuk orang dewasa akan sangat sulit untuk membuat tubuhnya tetap hangat dan tidak membeku, apalagi untuk seorang bayi yang masih tidak mampu untuk melindungi dirinya sendiri.

Merupakan suatu keajaiban bayi itu masih bertahan setelah berjam- jam terpapar dinginnya malam.

Setelah pertimbangan yang lama, wanita bergaun biru tersebut kembali melangkahkan kakinya untuk menghampiri bayi tersebut, di titik ini suaranya sudah timbul tenggelam dan nafasnya tersengal, tersedak isakkannya sendiri.

Namun, ketika ia akan melangkahkan kakinya lebih jauh lagi, seseorang menahannya dengan mencengkeram punggungnya.

"Apa yang akan kau lakukan?" Suara pria itu terdengar lantang dan penuh dengan ketidakpersetujuan, seolah ia tahu apa yang akan wanita ini coba lakukan. "Ini bukan tempatmu untuk ikut campur." Ada nada ancaman dalam suaranya.

"Bayi itu akan mati kalau aku tidak melakukan apapun." Wanita tersebut menjawab sembari berusaha menyingkirkan tangan yang menahannya.

"Ribuan manusia mati setiap harinya, dan kau tidak memiliki kewajiban untuk menyelamatkan setiap jiwa. Itu bukan tugasmu." Pria itu tidak setuju. "Jangan mencoba melakukan tindakan yang tidak seharusnya kau lakukan, konsekuensi yang akan kau terima nantinya akan sangat buruk."

Dalam lubuk hatinya, wanita bergaun biru tersebut tahu kalau ia tidak seharusnya melakukan hal yang akan ia lakukan.

Alam tidak akan setuju dengan keputusannya.

Tapi, rasa tertarik yang dalam pada bayi malang itu membuatnya melangkahkan kakinya kembali, tidak mengindahkan apa yang pria tersebut peringatkan.

"Mashika, jangan sia- siakan waktumu untuk sesuatu yang akan menghancurkanmu nantinya." Pria itu memberikan peringatan terakhirnya sebelum menghilang bersamaan dengan sinar pertama matahari pagi, yang menjadi saksi bisu akan akhir dari hujan.


next chapter
Load failed, please RETRY

New chapter is coming soon Write a review

Privileged

More Privileged Chapters

Download the app and become a privileged reader today! Come take a sneak peek at our author's stockpiled chapters!

Download

Weekly Power Status

Rank -- Power Ranking
Stone -- Power Stone

Batch unlock chapters

Table of Contents

Display Options

Background

Font

Size

Chapter comments

Write a review Reading Status: C1
Fail to post. Please try again
  • Writing Quality
  • Stability of Updates
  • Story Development
  • Character Design
  • World Background

The total score 0.0

Review posted successfully! Read more reviews
Send Gifts
Gifted
Thank you for your generous gift.

Cost Coin to skip ad

You can get it from the following sources

  1. 1. Daily check-in
  2. 2. Invite friends invite now >
  3. 3. Vote for new stories Vote >
learn more >
Vote with Power Stone
Rank NO.-- Power Ranking
Stone -- Power Stone
Report inappropriate content
error Tip

Report abuse

Paragraph comments

login
Report inappropriate content
error Tip

Get More Coins

Please switch to the pop-up to complete the payment.

This's an experimental test for reading assistance in case.

We highly recommend you to enjoy the beauty of the original words.