Forum Download app Gifts
0.46% Mengukir Namaku di Hatimu / Chapter 2: Bukan Masalah Besar, Aku Yang Terlalu Sulit Untuk Mengerti

Bukan Masalah Besar, Aku Yang Terlalu Sulit Untuk Mengerti - Mengukir Namaku di Hatimu - Chapter 2 by Skyb_019 full book limited free

Chapter 2: Bukan Masalah Besar, Aku Yang Terlalu Sulit Untuk Mengerti

Sudah seminggu sejak Bian dan Jackran pulang dari liburan mereka, dan semenjak itu juga Jackran tidak menghubungi Bian, bahkan panggilan dan text dari Bian pun diabaikannya. Hal ini tentu membuat Bian resah.

Hari ini sepulang kuliah Bian berencana mendaftar magang di perusahaan ayahnya Jackran. Hal ini sangat penting buat Bian untuk mempertahankan beasiswanya. Perusahaan ayahnya Jackran memang bekerjasama dengan universitas Bian saat ini.

Bian baru saja turun dari bus, saat ini tidak terlalu banyak orang duduk di halte, untuk mempersiapkan mentalnya, Bian memilih untuk istirahat sejenak untuk menetralkan dirinya sebelum bertarung. Letak perusahaan J tidak jauh dari halte, gedung tinggi nan mewah itu memperlihatkan keindahan dan kesibukan orang-orang yang ada disana. Bian dengan mantap melangkahkan kakinya menuju meja informasi.

"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu," sapa ramah seorang perempuan muda yang berada di meja informasi tersebut.

"siang, saya Bian kak dari universitas AJ, saya mau daftar buat program magang disini,"

"sudah janjian sebelumnya?" Tanya perempuan itu masih mempertahankan senyumannya..

"kebetulan professor menyuruh saya untuk langsung datang ke sini, dan beliau menyuruh saya untuk bertemu dengan pak Frasa,".

Setelah itu Bian disuruh menunggu di lobi yang ukurannya sangat luas ini. Jackran memang sudah terjun langsung sebagai direktur di perusahaan ini, tapi Jackran tidak pernah membahasnya dengan Bian, Bian mendengarnya dari gosip yang tersebar di kampus.

Ini pertama kalinya Bian menginjakan kakinya di gedung semewah ini, ia tidak menyangka kalau dia sampai pada tahap ini. Saat sedang asyik menunggu, mata Bian menangkap sosok yang sangat ia kenal. Jackran tampak keluar lobi dengan seorang perempuan yang Bian tidak tau siapa dia, mereka duduk di kafe yang terletak di seberang perusahaan J. Bian mencoba menghubungi Jackran, namun, ia sangat kaget, ia tidak percaya dengan apa yang barusan ia dapatkan. Jackran mengabaikan panggilannya, Bian melihat sendiri Jackran hanya melihat dan membiarkan begitu saja panggilan dari Bian. Dengan perasaan campur aduk Bian kembali ke lobi perusahaan J.

Pagi-pagi sekali Bian sudah rapi bersiap-siap untuk pergi. Bian berencana untuk mengunjungi apartemen Jackran. Seharusnya hari ini Bian akan santai di rumah karena hari ini ia tidak ada jadwal kuliah ataupun janji dengan seseorang, tapi rasa penasaran dengan sikap Jackran yang tidak mengabarinya ia memilih untuk mengunjungi lelaki tersebut, dan alasan Bian pergi pagi-pagi agar ia bisa bertemu dengan Jackran karena sebelum-sebelumnya apartemen itu selalu kosong.

Bian memencet bel apartemen Jackran dan benar saja, tidak lama kemudian Jackran membukakannya pintu. Bian tidak mengerti dengan ekspresi seperti apa yang saat ini sedang ditampilkan Jackran.

"hy, masuk?" Jackran tampak belum bersiap-siap akan pergi. Bian mengikuti Jackran masuk dan duduk di bar minimalis tempat favorit Bian setiap kali ke apartemen ini.

"kamu nggak kuliah hari ini?" Bian tau itu hanya pertanyaan basa-basi Jackran, karena soal jadwal Bian Jackran sangat mengetahuinya.

"kamu nggak mau jelasin sesuatu" Bian memilih untuk mengabaikan pertanyaan Jackran.

"apa,"

"ya udah, aku pulang," Bian segera bangkit dari duduknya. Ia kesal dan marah dengan jawaban yang dilontarkan Jackran. Ia kecewa dengan sikap Jackran yang tidak membahas sama sekali alasan kenapa dirinya di abaikan.

"bahkan kamu nggak nahan aku," gumam Bian. Saat seperti inilah Bian merasa dirinya terabaikan, dan ini bukan pertama kalinya mereka seperti ini. Jackran adalah tipe yang keras.

Saat hendak berjalan di trotoar, ponselnya berdering, melihat siapa yang menghubungi membuat Bian malas untuk mengangkatnya. Ia kembali memasukkan handphone nya ke dalam tasnya. Bian segera menuju halte. Saat tengah duduk di halte tiba-tiba ada seseorang yang duduk di sampingnya. Sebenarnya sudah 30 menit Bian duduk di sini, bukan karena busnya tidak datang tapi Bian saat ini sedang dalam mood yang buruk. Jackran tengah menatap kejalan, memperhatikan kendaraan yang berlalu lalang, sedangkan Bian menatap Jackran tidak percaya lelaki itu di sini setelah 30 menit berlalu atau setelah 30 menit Bian meninggalkan apartemennya.

"ngapain," setelah keheningan beberapa saat, akhirnya Bian buka suara.

"Hari ini Filmnya tayang," Jackran menyodorkan dua tiket. Dan tentunya ini membuat Bian sedikit heran dan juga secara bersamaan ia menyukai sosok Jackran yang seperti ini. Jackran mengingat hal-hal kecil yang Bian katakan padanya ataupun kebiasaan-kebiasaan kecil Bian.

"kamu nyuruh aku nonton sendiri?", Bian memang udah mengerti tabiat Jackran, sengotot apapun Bian jika Jackran tidak ingin membahasnya maka percakapan tentang topik itu takkan pernah terjadi.

"malam ini aku nggak bisa, ada hal yang harus aku lakuin," ucap Jackran,

"ngelakuin apa?" Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click <a href="https://www.webnovel.com/book/mengukir-namaku-di-hatimu_18459454506909105/bukan-masalah-besar-aku-yang-terlalu-sulit-untuk-mengerti_49573313894209268">www.webnovel.com/book/mengukir-namaku-di-hatimu_18459454506909105/bukan-masalah-besar-aku-yang-terlalu-sulit-untuk-mengerti_49573313894209268</a> for visiting.

"aku pergi," belum sempat Jackran pergi, tangannya dihentikan Bian, Bian mengembalikan kembali tiketnya.

"aku nggak ada teman nonton, mending kamu kasih ke yang lain aja, mubazir ntar," Bian segera berlalu menaiki bus.

"Bi tungguin aku," Fio berlari mengejar Bian.

"nih," Fio menyodorkan dua tiket film ke Bian. "buat apa," racau Bian nggak jelas.

"ya buat nonton lah, emang mau buat apa," jawab Fio sewot.

"uluh-uluh Fio cantik emang the best lah," Bian memeluk Fio senang.

"dari Jackran, tadi dia nitip, jangan bilang kalian lagi berantem," Fio mulai kepo setelah melihat reaksi Bian kalau tiket itu dari Jackran.

"kemarin dia juga ngasih aku tiket buat jadwal malam, tapi karena nggk ada temen buat nonton aku balikin lagi,". "trus ini aku nonton sama siapa," Bian sedikit mengeluh ke Fio berharap kali ini Fio mau menemaninya untuk menonton film yang diangkat dari novel kesayangannya ini. "malam ini nggak bisa beb," Bian tau jawaban ini yang akan diucapkan Fio, karena Fio saat ini lagi ujian, Fio adalah tipe orang yang kalau ujian nggak bisa diganggu gugat.

Saat sedang asyik berjalan sama Fio, Bian sedikit terkejut melihat perempuan yang bersama Jackran kemarin, saat ini perempuan itu tengah ngobrol asyik bersama teman-temannya Jackran. Jackran memiliki 3 orang teman yang dekat dengan dia semenjak SMA. Dia adalah Jei, tomo, dan Ria. Bian tidak begitu dekat dengan mereka karena memang dari awal mereka pacaran, Ria memperlihatkan ketidaksukaannya pada Bian. Dan karena Ria adalah tipe orang yang suka blak-blakan kalau ngomong membuat Bian tidak nyaman dalam lingkaran pertemanan Jackran dan alhasil Bian yang menjauh.

"siapa?" Tanya bian pada Fio, Bian menanyakan pada Fio karena dia tahu Fio pasti tahu tentang berbagai hal. Bisa dibilang Fio ini teman yang paling uptodate kabar terbaru bahkan ketika ia nggak berangkat kekampus sekalipun.

"emang Jackran nggak ngomong apa-apa," Bian menggeleng.

"dia Tiara, mantannya Jackran, setau gue dulu mereka dekat lumayan lama, dan mereka berlima itu teman masa kecil, tapi untuk jelasnya mending kamu Tanya langsung sama Jackran, dan aku saranin sih jangan ditanyain, jangan mau berurusan sama mereka, ribet ntar urusannya" jawab Fio panjang lebar.

"kenapa emang," Bian berusaha menutupi keterkejutannya, bagaimana mungkin 7 tahun pacaran ia tidak tau sama sekali mantan Jackran, dan yang lebih parah ia tidak tahu kalau mereka berlima adalah teman masa kecilnya, karena setau Bian mereka temanan dari SMA.

"udahlah lupain, yuk kekelas, keburu dosen yang nungguin kita,". Bian harus menanyakan ini langsung ke Jackran, Bian meyakinkan dirinya sendiri ini bukan masalah besar. Dia terus berusaha berpikir positif, mungkin saja Jackran tidak pernah cerita karena memang dirinya tak pernah menanyakan hal itu, dan mungkin saja Jackran menganggap ini tidak penting sehingga dirinya tak perlu tahu, dan kemungkinan-kemungkinan lain yang ia ciptakan sendiri. Untuk saat ini ia harus menahan rasa penasarannya, ada hal penting yang harus diselesaikan, yaitu perihal Jackran yang masih belum memberinya kabar sedikit pun.


next chapter
Load failed, please RETRY

Gifts

Gift -- Gift Received

    Weekly Power Status

    Rank -- Power Ranking
    Stone -- Power Stone

    Batch unlock chapters

    Table of Contents

    Display Options

    Background

    Font

    Size

    Chapter comments

    Write a review Reading Status: C2
    Fail to post. Please try again
    • Writing Quality
    • Stability of Updates
    • Story Development
    • Character Design
    • World Background

    The total score 0.0

    Review posted successfully! Read more reviews

    Cost Coin to skip ad

    You can get it from the following sources

    1. 1. Daily check-in
    2. 2. Invite friends invite now >
    3. 3. Vote for new stories Vote >
    learn more >
    Vote with Power Stone
    Rank NO.-- Power Ranking
    Stone -- Power Stone
    Report inappropriate content
    error Tip

    Report abuse

    Paragraph comments

    login