Forum Download app Gifts
0.7% Mengukir Namaku di Hatimu / Chapter 3: Mencari Jawaban Yang Kita Pun Tak Pernah Tau

Mencari Jawaban Yang Kita Pun Tak Pernah Tau - Mengukir Namaku di Hatimu by Skyb_019 - Webnovel

Chapter 3: Mencari Jawaban Yang Kita Pun Tak Pernah Tau

Setelah seminggu lebih pusing karena urusan kantor akhirnya Jackran bisa bernafas lega, bagaimana tidak, karena masalah yang tak terduga yang terjadi di kantor membuat ia menghabiskan tenaga dan pikirannya untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Jackran menghempaskan tubuhnya ke ranjang, ia segera memejamkan mata berharap ia bisa istirahat setelah berbagai hal yang melelahkan.

Belum sempat matanya terpejam, ia teringat beberapa hari lalu Bian menghampirinya ke apartemen, ia pun segera bangkit dan mengambil handphonenya. Saat ini sudah banyak pesan dan panggilan tak terjawab dari Bian. Jackran pun segera bergegas kekamar mandi untuk membersihkan dirinya, ia mengurungkan niatnya untuk beristirahat, ada hal penting yang harus ia selesaikan.

…

"temui aku di kafe biasa" Jackran mematikan sambungan telefonnya. Tanpa basa-basi Jackran segera menghubungi Bian, sosok yang saat ini ia abaikan karena kesibukannya. Jujur karena mengurus permasalahan kantor membuat Jackran tidak bisa berpikir hal yang lain. Jackran adalah tipe orang yang fokus terhadap suatu hal, ia tidak bisa membagi pikirannya kepada dua hal yang berbeda.

Tak berselang lama, Bian datang dan segera duduk di depan Jackran. "aku pikir kamu nggak bakal ngehubungin aku lagi," ucap Bian dengan wajah datarnya.

Jackran tersenyum melihat tingkah gemas dari Bian, dan tanpa ia sadari ternyata ia merindukan sosok ini "mau minum apa"

"langsung aja mau ngomongin apa, aku sibuk," Bian masih dengan wajah datarnya, sebenarnya sih dia ingin marah tapi dia takut hanya akan memperkeruh suasana, mengingat Bian adalah tipe yang suka mengungkit hal yang telah berlalu kalau marah, jadi ia mengurungkan niatnya itu. Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click <a href="https://www.webnovel.com/book/mengukir-namaku-di-hatimu_18459454506909105/mencari-jawaban-yang-kita-pun-tak-pernah-tau_49573520874725391">www.webnovel.com/book/mengukir-namaku-di-hatimu_18459454506909105/mencari-jawaban-yang-kita-pun-tak-pernah-tau_49573520874725391</a> for visiting.

"aku minta maaf, beberapa hari ini ada masalah kantor yang harus aku selesaiin," ucap Jackran jujur.

"sampe nggak bisa ngabarin aku," dan Jackran hanya mengangguk. Saatnya Bian tak ingin menanyakannya lagi, ia ingin mempermasalahkan alasan Jackran yang sengaja mengabaikan telfonnya beberapa hari yang lalu tapi Bian belum siap dengan kemungkinan terburuknya. Keheningan meliputi keduanya. Jackran menatap Bian yang saat ini sedang asyik melihat ke ponselnya. Jackran benar-benar merindukan sosok Bian. "mau aku anterin kekampus," tawar Jackran. "nggak usah, dekat," jawab Bian.

Setelah pertemuan singkat dengan Jackran tadi membuat Bian sedikit bernafas lega, ntah kenapa dia percaya dengan alasan Jackran, dia percaya Jackran tidak akan berbohong kepadanya, meskipun sebenarnya ia tidak benar-benar percaya.

Saat sampai tiba di kampus, Bian disamperin oleh Ria.

"Lo penasaran kan sama cewe itu," Ria menunjuk kearah perempuan yang bersama Jackran waktu itu.

"dia Tiara, dia cinta pertamanya Jackran, dan lo tau, sampai sekarang pun Jackran masih suka sama tuh cewe, begitu pun sebaliknya, dari awal gue udah bilang kalau lo Cuma pelarian, ok" Ria emang berkali-kali mengatakan bahwa Bian hanya pelarian bagi Jackran setelah ditinggal sekolah keluar negri oleh mantannya.

"yakin lo, gue ama dia udah tujuh tahun lo," ucap Bian sedikit sinis.

"karena selama ini cewe itu nggak ada disini, dan sekarang dia balik lagi buat kembali sama Jackran," ucap Ria yakin,

"dan lo tau, awalnya memang buat pelarian tapi mungkin perasaannya ke lo sedikit goyah seiring lamanya waktu yang kalian habiskan bareng tapi nggak menutup kemungkinan Jackran nggak benar-benar melupakan cewe itu, karna Jackran yang gue kenal, dia kalau udah suka sama satu orang dia nggak akan pernah berpaling ke lain hati," Ria pergi meninggalkan Bian dengan sejuta kekesalannya.

Bian sebenarnya sedikit berpengaruh sama apa yang Ria ucapkan, tapi Bian seakan meyakinkan dirinya bahwa Jackran tidak akan sejahat itu kepadanya. Dan selama ini Bian bisa merasakan perasaan Jackran kepadanya. Bian segera membuka hp nya dan menelfon seseorang.

"lagi dimana, sibuk nggak?" ucap Bian langsung tanpa ada salam pembuka, "Lagi nungguin dosen," jawab seseorang dari seberang sana.

"ntar malam temenin aku nonton, bisa nggak,"

"ok, nanti malam aku jemput kamu,". Setelah sambungan terputus Bian segera bergegas untuk pulang ke kosannya.

…

Tepat pukul 7 malam, bel kosan Bian berbunyi. Ding Dong

"ia bentar," Bian segera berlari kecil menuju pintu.

"udah yuk" Bian segera keluar dan mereka segera meluncur ke bioskop tidak jauh dari kosan Bian.

"hari ini aku nggak bisa lama," ucap Jackran, Ya yang diajak Bian untuk menemaninya adalah Jackran dan malam ini Bian harus menanyakan semua yang ingin ia ketahui, karena itulah ia mengajak Jackran untuk menemaninya.

Bian mengenakan mini dress berwarna navy, dengan slingbag favoritnya, rambutnya ia biarkan terurai bebas. Sedangkan Jackran jangan ditanya, dimata Bian ia keren seperti biasanya.

"kamu mau ngapain," balas Bian

"hari ini aku mau ngumpul sama anak-anak,"

"pesta penyambutan kembalinya Tiara," hanya wajah datar yang ditampilkan oleh Jackran, dia mengangguk dan tidak terlihat terkejut sama sekali Bian mengetahui tentang pesta itu, dan jangan ditanya Bian tau darimana, ia hanya menebaknya saja.

Setelah selesai menonton, Bian dan Jackran duduk di sebuah kafe jam baru menunjukkan pukul 9. Mereka memesan makan malam.

"kamu kenapa nggak pernah cerita," buka Bian setelah mereka menghabiskan makanannya.

"soal,"

"Tiara," Bian sudah mengumpulkan keberaniannya untuk menanyakan hal ini sejak tadi sore. Jadi perjuangannya tidak boleh sia-sia, dia harus mendapatkan jawabannya malam ini juga.

"buat apa?" jleb, bukan jawaban ini yang Bian inginkan. Dia ingin jawaban yang bisa membuatnya yakin kalau Jackran udh sepenuhnya miliknya.

"kamu sama Tiara pernah punya status dan sekarang Tiara disini, kamu sama dia akan sering ketemu kan? secara kalian punya kelompok pertemanan yang sama," Jackran tidak menggubris ucapan Bian, "atau jangan-jangan kamu masih ada rasa sama dia," Jackran hanya memandangi Bian, ia tidak menjawab pertanyaan Bian. "udah jam 9, aku anter kamu pulang," Jackran segera bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan Bian yang masih syok dengan apa yang terjadi. Jackran tidak menjawab pertanyaan penting yang bisa membuat hubungan mereka hancur. Jackran seperti tidak peduli dengan apa yang Bian pikirkan tentang perasaanya. Jackran membiarkannya begitu saja.

Bian segera menyusul Jackran keparkiran. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam membisu, keduanya berkutat pada pikirannya masing-masing. Bian menatap keluar jendela, memperhatikan setiap gedung yang mereka lewati, Bian menahan tangisnya, ia ingin segera sampai kekamarnya, menumpahkan segala kegundahan dan keresahannya, tapi jalan yang mereka lalui seakan semakin menjauhkannya dari kamarnya. Sedangkan Jackran menyetir dengan tatapan lurus kedepan, memperhatikan setiap jalanan, ntah apa yang saat ini laki-laki itu pikirkan.

Sesampai di kosan Bian, Bian segera membuka seatbeltnya dan segera membuka pintu, ia turun dari mobil tanpa berbicara sepatah katapun.

"aku sama Tiara cuma temenan," suara itu menginterupsi langkah Bian. Bian menoleh dan membalikkan badannya "pertanyaan aku, kamu masih ada rasa sama Tiara,"

"aku harap kamu nggak jadiin Tiara sebagai masalah untuk kita," dan jawaban Jackran bukan jawaban yang Bian inginkan. "Apa susahnya sih jawab iya atau nggak doang,"

Keduanya saling bertatapan, Bian menangkap manik mata Jackran, "aku juga nggak tahu," Jackran segera masuk kemobilnya dan pergi meninggalkan Bian mulai meruntuhkan pertahanannya. Bian segera masuk kekamarnya dan menangis. Jawaban yang diberikan Jackran mampu membuat perih hatinya, Jackran masih tidak mengetahui tentang perasaanya, meskipun selama ini ia dan Bian bersama.

Bian berharap ini bukan akhir dari segalanya, akhir dari hubungan yang susah payah ia pertahankan. Bian berharap ini bukan akhir dari kesabarannya untuk menghadapi sikap Jackran yang susah ditebak dan susah dimengerti. Bian belum siap untuk ditinggalkan, dan menghancurkan hubungan yang telah lama mereka jalin. Bian sangat mencintai Jackran, dia berharap Jackran merasakan hal yang sama. Dia harap jawaban Jackran tadi hanya omong kosong semata..


next chapter
Load failed, please RETRY

Gifts

Gift -- Gift Received

    Weekly Power Status

    Rank -- Power Ranking
    Stone -- Power Stone

    Batch unlock chapters

    Table of Contents

    Display Options

    Background

    Font

    Size

    Chapter comments

    Write a review Reading Status: C3
    Fail to post. Please try again
    • Writing Quality
    • Stability of Updates
    • Story Development
    • Character Design
    • World Background

    The total score 0.0

    Review posted successfully! Read more reviews

    Cost Coin to skip ad

    You can get it from the following sources

    1. 1. Daily check-in
    2. 2. Invite friends invite now >
    3. 3. Vote for new stories Vote >
    learn more >
    Vote with Power Stone
    Rank NO.-- Power Ranking
    Stone -- Power Stone
    Report inappropriate content
    error Tip

    Report abuse

    Paragraph comments

    login