Forum Download app Gifts
84.09% MIKA & DONI / Chapter 73: Bantul, Lomba Perakitan Roket

Read MIKA & DONI - Chapter 73 online

Chapter 73: Bantul, Lomba Perakitan Roket

Beberapa hari setelahnya, Mika dan Doni tak bertemu. Setelah UAS, Mika lebih banyak menghabiskan waktu di Amerta. Dia hanya perlu ke kampus sehari untuk mengurus KRS.

Pengisian KRS adalah salah satu syarat yang harus dilakukan oleh setiap mahasiswa agar dapat mengikuti perkuliahan. Setiap mahasiswa wajib melakukan pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) diawal semester sebelum mengikuti perkuliahan sesuai dengan jadwal kalender akademik.

Kosnya sepi. Semua penghuninya pulang ke rumah masing-masing termasuk Gill dan Tria. Mika memutuskan untuk menginap, karena hari sudah sore dan hujan deras ketika dia hendak menuju terminal. Masih banyak waktu yang akan ia habiskan di Amerta, bukan masalah jika dia menginap semalam di kosnya sendiri.

Hujan tak kunjung reda, hingga malam. Dia hanya ditemani suara penyiar radio dan camilan manco manis di pelukannya. Tak lama, dering ponselnya berbunyi, dari Doni.

"Halo, Sayang. Lagi dimana?"

"Di kos, Mas. Mas dimana, kok kayaknya disana berisik."

"Masih di kampus. Ini ada pemilihan delegasi untuk lomba roket lusa."

"Lomba roket?"

"Iya, Mas disuru ikut lomba perakitan roket untuk pemula, besok berangkat ke Bantul."

"Kok mendadak sih, Mas. Berarti kita gak bisa ketemu di Amerta?"

"Iya, maaf Sayang. Ini pengumumannya mendadak. Mas berangkat tiga orang dengan dosen Mas besok sore naik kereta."

"Bantul? Jauhnya.."

"Hehe.. iyaa.. sabar dulu ya. Travel list kita banyak yang ketunda, tapi malah Mas sendiri yang sibuk kemana-mana sendirian."

"Ya udah, mau gimana lagi.. Mika besok pagi banget udah balik ke Amerta. Berarti fix Mas gak pulang Amerta sama sekali, ya?"

"Enggak, Sayang. Kita ketemu mungkin sabtu atau minggu ya.."

"Haa.. luamaaa sekali.."

"Gimana lho. Mas di Bantul sekitar lima atau enam hari. Kebetulan sama Gusti juga. Nah kurang satu orang, itu di dalam kelas masih pemilihan."

"Oh, ya sudahlah. Good luck ya Sayang."

"Nanti pasti Mas kabarin terus kok. Tapi gak janji bisa beli oleh-oleh ya.."

"Hehe, gak perlu. Pokoknya Mas cepet pulang aja, Mika udah seneng."

***

Besoknya, Doni memberi kabar bahwa dia sudah berada di stasiun dan sedang menunggu keberangkatan keretanya. Mika telah berada di Amerta saat itu. Sekitar sepekan libur, dan minggu depannya perkuliahan semester baru akan dimulai.

Paginya Doni tiba di Bantul, berlanjut menuju ke hotel dan membersihkan diri beserta kedua orang temannya ditemani satu orang dosen pendamping. Hari berikutnya, lomba perakitan roket dimulai. Doni dan tim telah mempersiapkan modul untuk presentasi disusul perakitan roket di lapangan LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) Bantul. Beberapa momen saat peluncuran roket pertama sempat didokumentasikan oleh Gusti lalu dikirimkan ke nomor Mika.

"Wah, Mas Doni.. gak nyangka aja sih, ternyata bisa sampe kesana. Ikutan lomba peluncuran roket.. Mika ikut bangga rasanya.." ucap Mika lirih sembari terus memandang foto Doni di layar ponselnya.

Seharian Doni tak memberi kabar. Mika tahu, pastinya Doni dan teman-temannya sibuk dengan lombanya. Dia tak mempermasalahkan hal itu meski sebenarnya dia sangat merindukan Doni.

Hari berikutnya, Doni meneleponnya sebentar. Memberi kabar baik pada Mika bahwa dia lolos ke babak berikutnya. Mika bersorak kegirangan meski sebenarnya hatinya tidak demikian.

"Halo, Sayang. Hari ini lancar.."

"Wah, syukurlah, Mas."

"Trus, tau gak.."

"Haha.. enggakk.. gak tau.. memangnya ada apa?"

"Mas tuh.. lolos babak penyisihan. Jadi ikut lagi ke babak semi final, untuk menjaring tiga besar."

"Bentar, Mika gak paham. Berarti.. apa bener, Mas sekarang masuk urutan lima besar?"

"Iyaaa.. bener Sayang! Aku masuk lima besar. Tapi untuk semi final, kita gak teamwork lagi. Jadi dosenku memilih pertahanin aku sedangkan yang lainnya pulang duluan nanti sore."

"Lho.. sendirian berarti ya?"

"Iya! Doain ya, biar lancar semua ya.. malam ini mau nyicil bikin kerangka dulu."

"Ah, pastilah Mas.. pasti Mika doain.."

"Iya. Ga tau kenapa, kalo abis cerita sama Mika, jadi lega, jadi enteng. Karena tadinya Mas ketar-ketir aja.. gak yakin bisa.."

"Yakin dong! Udah sampe sejauh ini loh.. tinggal dikit lagi.."

"Semi finalnya masih lusa. Kalo misalnya, Mas lolos sampe final, itu artinya Mas lebih lama lagi disini, sampe minggu depan.."

"Oya? Mika doain masuk final. Semangat Mas!"

"Makasi, Sayang.. Tapi kan kita bakalan lamaaa lagi gak ketemunya.. Minggu depan lho.."

"Haha, santai dong. Mika gak kemana-mana juga. Pokoknya lakukan yang terbaik, OK?"

"Gak papa ya, serius?"

"Beuuh, kayak anak kecil aja, gak bisa ketemu trus jadi cengeng. Haha.."

"Thank you loh, kamu selalu bisa jadi semangatku.."

"Me too.. makasih juga.. buat semuanya.. hehe.."

"Wot, mewek nih.. mau nangis nih.."

"Haha! Ya kali.. enggak bakalan lah nangis. Lebai amat.. haha.."

Mika dan Doni, akhirnya merasakan bagaimana sensasi rindu setelah lama tak bertemu. Beberapa bulan setelah Doni pindah kuliah di Surabaya, jarak tak ada artinya bagi mereka. Dan kali ini mereka kembali terpisahkan oleh ruang dan waktu.

***

"Begini ya, rasanya kembali mencintai. Tapi kali ini kenapa beda. Terasa lebih dewasa menyikapi segala sesuatunya. Punya temen ngobrol untuk sekedar minta semangat. Gak ada yang sembarangan dalam berucap. Gak ada yang menyepelekan komitmen.. Ah, rasanya Mika gak bakal nemu orang lain sebaik Mas Doni."

***

"Sepertinya Mika memang anak baik. Gak ada dia prasangka buruk aku akan aneh-aneh selama jauh dari dia. Anaknya positif thinking banget ya.. Ngomongnya itu selalu pake logika, jadi hati ini gak ngerasa berat ninggalin dia jauh."

***

"Kira-kira, Mas Doni bakalan balik kapan ya? Kalo masuk final, berarti seminggu lagi kita gak ketemu. Gitu itu, dia ngapain aja ya di hotel? Masak iya ngerjain modul dan kerangka mulu. Pasti jalan-jalan dong. Eh, trus pas jalan kecantol cewek sana. Tapi gak mau jujur.. Ais.."

***

"Ini kemarin peserta dari Jakarta, namanya Lisa ngajak kenalan. Ditanggepin gak ya, SMS-nya. Tapi buat apa juga.. Gak butuh banget sih. Palingan buat penuhin phone book aja. Hapus gak ya? Kalo gak dihapus, trus Mika tahu, bisa panjang ntar.."

***

"Kok tadi nelpon, Mika gak nanya Mas Doni udah makan atau belum ya. Terlalu happy dengerin cerita dia sampe lupa mau nanya. Trus, bajunya gimana tuh. Apa cukup untuk dua minggu disana. Gimana nyucinya coba.."

***

"Mika lagi ngapain ya waktu aku telpon tadi.. Apa dia sudah makan.. Dia tuh kalo lagi suntuk suka males makan, pantes kurus gitu badan. Dari tadi bilangnya happy, tapi aslinya pasti merana karena kangen. Haha.. Kalo aku kirim SMS malam-malam gini, apa masih bisa balas ya?"

***

"Jiyaa.. gak bisa tidur.. mana gak ada film bagus di TV. SMS Mas Doni, ganggu gak sih? Udah tidur belom ya?"

***

Sebuah pesan masuk di ponsel Mika, bersamaan dengan pesan masuk di ponsel Doni.

"Mika, sudah makan belum? Mas lupa tadi belum tanya hehe.."

"Mas Doni, udah tidur? Kok, Mika kangen ya. Haha.. becanda.."

Keduanya tersenyum membaca pesan yang masuk berbarengan dengan pesan keluar yang mereka kirimkan. Rupanya chemistry sudah terjalin erat di hati mereka. Saling memikirkan satu sama lain, dan saling merindukan satu sama lain.

***


CREATORS' THOUGHTS
Qiy_van_Wilery Qiy_van_Wilery

VOL. 0 PERKENALAN PARA TOKOH

sudah dipublish.

selamat membaca

next chapter
Load failed, please RETRY

Privileged

More Privileged Chapters

Download the app and become a privileged reader today! Come take a sneak peek at our author's stockpiled chapters!

Download

Batch unlock chapters

Table of Contents

Display Options

Background

Font

Size

Chapter comments

Write a review Reading Status: C73
Fail to post. Please try again
  • Writing Quality
  • Stability of Updates
  • Story Development
  • Character Design
  • World Background

The total score 0.0

Review posted successfully! Read more reviews
Send Gifts
Gifted
Thank you for your generous gift.

Cost Coin to skip ad

You can get it from the following sources

  1. 1. Daily check-in
  2. 2. Invite friends invite now >
  3. 3. Vote for new stories Vote >
learn more >
Vote with Power Stone
Rank NO.-- Power Ranking
Stone -- Power Stone
Report inappropriate content
error Tip

Report abuse

Paragraph comments

login
Report inappropriate content
error Tip

Get More Coins

Please switch to the pop-up to complete the payment.

This's an experimental test for reading assistance in case.

We highly recommend you to enjoy the beauty of the original words.