Forum Download app Gifts
100% MIMPI MIA SEMALAM / Chapter 29: Epilogue

Read MIMPI MIA SEMALAM - Chapter 29 online

Chapter 29: Epilogue

"Ting tong ting tung... Perhentian berikutnya, Stasiun Bandung. Para penumpang dipersilahkan untuk mempersiapkan diri. Berhati-hatilah dengan barang bawaan anda, jangan sampai tertinggal. Terima kasih telah menggunakan layanan PT. Kereta api Indonesia, sampai jumpa di perjalanan selanjutnya."

Aku segera bersiap, membereskan barang-barangku untuk turun dari kereta. Udara pagi di kota Bandung lebih dingin daripada di Surabaya, maka aku segera memakai jaketku, membereskan semua barang bawaan dan segera keluar gerbong ketika kereta mulai berhenti.

Aku segera mencari taxi untuk mengantarku ke rumah Tante Nadia. Dan kini taxi yang kutumpangi mulai melaju meninggalkan stasiun kereta api dan menuju alamat yang tertulis di secarik kertas. Beberapa saat kemudian, taxi ini telah berhenti di depan sebuah rumah.

"Sudah sampai, Neng," kata supir taxi.

"Terima kasih, Pak," kataku sambil memberikan ongkos taxi dan sejumlah tips sebagai tanda terima kasihku..

Tante Nadia pernah mengatakan bahwa rumahnya tidak luas. Sejak suaminya meninggal dunia, dan anak-anaknya sudah menikah, rumahnya memiliki banyak kamar kosong. Setelah melihat sendiri rumah Tante Nadia, kurasa apa dikatakan Tante Nadia sangat sesuai dengan keadaannya. Rumahnya memang tidak besar, tetapi sangat asri. Halamannya besar dan pohon-pohonnya rindang dan cukup terawat. Setelah puas melihat-lihat, aku segera masuk dan mengetuk pintu rumah.

"Permisi," kataku sambil mengetuk pintu.

"Ya, sebentar," terdengar suara seseorang dari dalam rumah.

Setelah berapa lama aku menunggu, pintu itu belum juga terbuka. Karena itu aku mengetuknya sekali lagi.

"Permisi," kataku sekali lagi.

"Iya....Iya...sebentar.....," kata suara itu sedikit kesal sambil membuka pintu yang ada di depanku.

"Oh, kamu anak Surabaya itu ya? Ayo, masuk!" kata seorang lelaki yang kira-kira seumuran denganku, ketika membukakan pintu.

"Ma, Ma, anak teman mama sudah datang," teriak lelaki itu ke dalam rumah.

"Tunggu sebentar ya, Mama baru selesai mandi. Oh ya, siapa namamu?" tanya lelaki itu.

"Mia," jawabku.

"Ok, baiklah, Mia. Perkenalkan, saya Alexander. Panggil saja Alex," kata pemuda itu sambil menjabat tanganku.

Tidak lama kemudian Tante Nadia datang ke ruang tamu dan segera menyapaku.

"Halo, Mia," katanya sambil memeluk dan mencium kedua pipiku.

"Halo tante, apa kabar?" kataku sambil tersenyum.

"Kabar baik, Mia. O ya, kalian sudah berkenalan?" tanya Tante Nadia sambil mencolek Alex.

"Sudah, Ma," kata Alex.

"Ma, Alex ketinggalan barang di kamar, biar aku ambil dulu," kata pemuda itu sambil berlari menaiki tangga.

"Itu anak tante yang paling kecil, Mia. Kakak-kakaknya semua sudah menikah, tinggal dia seorang yang tinggal bersama tante," kata Tante Nadia memberi penjelasan.

"Oh, dia yang tidak pernah ikut ke Surabaya ketika tante datang berkunjung?" tanyaku.

"Betul, Mia. Alex memang tidak suka ikut tante berpergian. Tetapi sesungguhnya dia cukup perhatian. Hanya saja, anak lelaki terkadang gengsi buat menunjukkan perhatiannya," jawab Tante Nadia.

Kini pembicaraan kami terhenti sebentar. Walaupun aku sering ketemu Tante Nadia di Surabaya, ini pertama kalinya aku datang ke rumahnya di Bandung. Tidak lama kemudian, Tante Nadia kembali berbicara. Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click <a href="https://www.webnovel.com/book/mimpi-mia-semalam_17771818305817605/epilogue_47706108554438469">www.webnovel.com/book/mimpi-mia-semalam_17771818305817605/epilogue_47706108554438469</a> for visiting.

"Sebelum ibumu pergi ke Malang, dia sempat menelepon tante. Ibumu menitipkan kamu kepada tante. Tante kira karena Mia baru lulus dan mau cari kerja di Bandung. Tapi, tante sungguh tidak menyangka kalau kejadiannya akan seperti ini. Tante sudah berjanji sama mamamu kalau tante akan menjaga Mia. Jadi selamat datang di Bandung. Jangan sungkan disini, anggap saja rumah sendiri," ujar Tante Nadia dengan nada sedih .

"Terima kasih, tante. Mereka memang pergi terlalu cepat, kuharap mereka sudah berbahagia di sana," jawabku sambil tersenyum.

"Dan sekali lagi, terima kasih, kalau tante sudah mau menerima Mia di rumah tante," ujarku melanjutkan kata-kataku yang sempat terpotong.

Tante Nadia membalas senyumanku dan merangkulku sekali lagi.

"Jangan begitu, sejak dahulu, Mia sudah tante anggap seperti anak tante sendiri. Sudah, sudah, jangan menangis lagi. Ayo masuk, Tante sudah siapkan sarapan," kata Tante Nadia ramah.

Kami segera masuk ke dalam rumah. Ketika sampai di ruang keluarga, ada seorang anak laki-laki yang sedang membereskan tas sekolahnya. Melihat anak kecil itu, tante Nadia langsung memperkenalkannya padaku.

"Kenalkan Mia, ini cucu keponakan tante yang juga tinggal di sini. Mamanya sibuk kerja, dan kadang harus pergi dinas ke luar kota. Ayo, Danny perkenalkan diri sama Kak Mia," kata tante sambil menyuruh anak kecil itu memperkenalkan diri.

Anak itu tampak terkejut melihatku, dan langsung mengambil sesuatu dari dalam tas sekolahnya, dan menyembunyikannya di belakang badannya. Aku segera mendekati anak itu dan mengulurkan tangan sambil memperkenalkan diri.

"Halo, salam kenal, namaku Mia, " kataku sambil menjulurkan tangan sebagai salam perkenalan.

Anak itu membalas uluran tangaku sambil mengatakan namanya "Daniel. Dan tiba-tiba saja anak laki-laki itu menarik tanganku dan menggambar sesuatu di telapak tanganku. Setelah selesai dengan coretannya dia pun segera berlari mengembalikan spidol ke dalam tasnya.

Tidak lama kemudian, kudengar tante Nadia berteriak memanggil dari ruang makan.

"Alexander Aaron Sidharta, Daniel Elior Saputra, Ayo makan! Sarapan sudah siap," teriak Tante Nadia.

"Ayo, Mia kita sarapan. Sudah lapar kan?" kata Tante Nadia padaku.

Aku terdiam mendengar nama kedua pemuda itu. Dan pelan-pelan kubuka gambar di telapak tangaku, dan kini aku mengerti tentang rencana besar untukku.

7 garis lekung dengan bulatan seperti awan di bawahnya.

Aku teringat perkataan Elior sebelum aku meninggalkan Arco Iris.

"Lambang keluarga, Mia. Kami akan selalu menjadi keluargamu."

Lambang keluarga, baiklah, lambang keluarga. Mataku kembali berkaca-kaca. Bukan karena sedih, tetapi karena terharu. Tidak ada jaminan kalau orang-orang ini tidak akan membuatku bersedih. Tetapi setidaknya, hari ini aku memiliki keluarga baru.

"Iya tante, ada yang bisa Mia bantu?" jawabku dengan penuh semangat.

-TAMAT-


next chapter
Load failed, please RETRY

The End Write a review

Privileged

More Privileged Chapters

Download the app and become a privileged reader today! Come take a sneak peek at our author's stockpiled chapters!

Download

Weekly Power Status

Rank -- Power Ranking
Stone -- Power Stone

Batch unlock chapters

Table of Contents

Display Options

Background

Font

Size

Chapter comments

Write a review Reading Status: C29
Fail to post. Please try again
  • Writing Quality
  • Stability of Updates
  • Story Development
  • Character Design
  • World Background

The total score 0.0

Review posted successfully! Read more reviews
Send Gifts
Gifted
Thank you for your generous gift.

Cost Coin to skip ad

You can get it from the following sources

  1. 1. Daily check-in
  2. 2. Invite friends invite now >
  3. 3. Vote for new stories Vote >
learn more >
Vote with Power Stone
Rank NO.-- Power Ranking
Stone -- Power Stone
Report inappropriate content
error Tip

Report abuse

Paragraph comments

login
Report inappropriate content
error Tip

This's an experimental test for reading assistance in case.

We highly recommend you to enjoy the beauty of the original words.