Forum Download app Gifts
77.77% MIMPI: Takdir Yang Hadir / Chapter 6: 6 NATAL YANG TERLEWAT

6 NATAL YANG TERLEWAT - MIMPI: Takdir Yang Hadir - Chapter 6 by Om_Rengginnang full book limited free

Chapter 6: 6 NATAL YANG TERLEWAT

Bunda melarangnya untuk pergi. Selalu. Wanita itu bahkan menangis sampai membuat Ginnan curiga kepadanya soal sesuatu.

["Bunda tidak pernah begitu dengan bayi lain,"] batin Ginnan. ["Mereka yang diadopsi, pasti dipersilahkan langsung dan dipermudah—umn, apa jangan-jangan selama ini dia sendiri yang melarang siapa pun mengambilku sebagai anak?"]

Namun tentu saja pemikiran seperti itu terlalu jahat jika benar-benar dia percayai. Ginnan pun menggeleng dan menenangkan wanita itu hampir seminggu sebelum benar-benar dilepas ke Tokyo untuk melakukan apapun yang dia mau.

Toh pada akhirnya Ginnan diizinkan pergi. Jadi, dia pun mencoba mengganti pikirannya dengan hal lain. Semisal … hm … mungkin wanita itu terlalu menyayanginya sebagai bayi 'pertama' yang ada di panti? Jadi dia sudah menganggap Ginnan seperti anak sendiri.

"Kalau ada apa-apa bilang Bunda, hm?" kata Bunda. Dia mengecup pipi Ginnan kanan kiri sebelum menuju ke keningnya. "Jangan jalani kesulitan sendirian. Karena kamu masih punya Bunda, dan…" wanita itu memandang mata Ginnan dengan penuh penyesalan. "…harusnya aku mengadopsimu sendiri saja waktu masih sangat kecil. Ugh… tidak seperti ini. Kau terlalu dewasa untuk kukendalikan, Ginnan. Tapi aku sangat-sangat mencintaimu."

Ginnan pun mengerti apapun yang dikatakan wanita itu benar-benar nyata. Sorot matanya, gemetar di tubuhnya, ketakutan yang disebabkan oleh apa …

Hanya saja Ginnan sendiri tak mengerti, mengapa Bunda—bahkan Renji—menjadi sosok orang yang sangat ingin memilikinya sampai seperti ini?

Ada apa dengan dirinya?

Maksud Ginnan, selain dirinya memiliki ketampanan yang lembut (kalau tidak mau disebut cantik oleh sembarang orang), otak yang tak terlalu bodoh, dan sifat penurut meskipun sedikit keras… apa lagi yang mereka lihat?

Ginnan kadang ingin bercermin lama-lama karena hal itu. Namun, meski dia pernah melakukannya, rasanya sangat tolol sekali. Betapa tidak? Kenyataan memang beda jauh dari firasat buruknya selama ini.

Faktanya Ginnan tetap hanyalah seorang gigolo miskin, komikus gagal debut, dan lulusan S1 yang untuk makan dan hidup saja perlu menawarkan kelamin pada perempuan. Sejak saat itu, Ginnan tak ingin bermimpi terlalu tinggi. Dia takut jika impian adalah hal yang terlalu mewah untuk dirinya tanggung. Sebab, di dunia ini tak semua manusia lahir untuk menikmati angkasa layaknya burung elang yang tangguh. Beberapa dari mereka justru hanya menjadi bebek, atau ayam, bahkan ikan yang cocoknya hanya bersembunyi di dalam lautan.

Meskipun begitu, Ginnan sebenarnya sangat suka dengan dongeng-dongeng (mungkin karena Bunda sering membacakannya sebelum tidur) dia jadi sering masuk ke dalam dunia khayal tingkat tinggi begitu sudah terlelap dalam.

Haha—jangan tertawa, oke? Tapi Ginnan memang beberapa kali menjadi raja di dalam mimpi-mimpi heroiknya. Atau ksatria. Atau pahlawan. Bahkan pernah juga menjelma sebagai penyihir terhebat sepanjang masa yang dengan merapal satu mantra saja bisa menghancurkan gunung dan samudera.

Tak ada yang sanggup mengalahkan.

Villain jenis apapun takhluk di bawah kakinya, apalagi Ginnan ditemani oleh seorang lelaki bersorot mata tajam yang membawa tujuh pedang juga.

Ah!

Kalau mengingat-ingat soal itu, Ginnan jadi penasaran kenapa yang selalu di sisinya adalah lelaki? Sebab cerita raja atau protagonis hebat pada umumnya kan selalu dikaitkan dengan puteri cantik atau sejenisnya? Seperti memenangkan sayembara lalu menikahinya?

Pffft—hahahaha… apakah dirinya memang ditakdirkan menjadi gay sejak lahir bahkan dalam alam bawah sadar? Yang pasti lelaki itu selalu ada untuk menolongnya dalam situasi apapun.

Suatu hari Ginnan menggambar tokoh-tokoh dalam mimpinya di buku sketsa dengan outline kasar. Lalu dengan sepenuh hati, dia memikirkan alur komik macam apa yang cukup menggugah minat para pembaca, sebelum diajukan dalam lomba debutnya yang justru berakhir dengan skandal plagiarisme salah paham.

"Aku penasaran apa orang itu sebenarnya adalah kau, Ren?" tanya Ginnan. Dia bergumam sendirian, sementara Renji sudah lelap dalam tidurnya yang tak tenang. Pria itu mengigau sesuatu yang tak jelas beberapa kali, padahal biasanya tak begini. Apa yang sebenarnya dia pikirkan? Apa hal tadi benar-benar merasuk dalam dadanya sampai membuat kegelisahan sehebat ini?

Ginnan pun meneguk ludah dan meraih pipi Renji yang dihiasi titik-titik keringat. Dia memulasnya dengan bibir yang terasa kaku, lidah kelu, lalu menyatukan kening mereka dengan segenap perasaan yang terkumpul—

["Maaf, Ren. Untuk yang tadi kukatakan padamu,"] kata Ginnan dalam hati. ["Bisa tunggu aku sedikit lagi? Mungkin tanggal 5 Januari saja kita pulang. Haha… harusnya tahun baru tidak buruk untuk memulai sesuatu, kan. Semisal kekacauan fans loyalmu di Jepang?"]

Ginnan tidak ingat apa-apa. Tahu-tahu jam beker yang dipasang Renji sudah berdering pada pukul 7, pria itu sudah tak ada di sisinya, namun mendadak ada sepasang lengan yang mengangkatnya ke udara hingga wajahnya menabrak dada bidang juga—

DEG

"Ren?"

"Hm?"

Pria itu memindah tubuhnya ke sisi lain ranjang yang sudah rapi, menyelimutinya lagi hingga sebatas dada, dan bahkan mematikan AC agar tidak semakin membuat kulitnya beku—tunggu… kan mereka harus merayakan hari natal bersama Nana dan Ryouta? Lalu kenapa malah jadi begini?

"R-Ren?" tanya Ginnan panik. Dia langsung membuka mata lebar-lebar—namun seketika terpejam lagi karena keningnya dikecup pelan. "Hei, aku—kita harus bangun kan? Mama, Ayah—"

"Ssshhh… tidur saja," sela Renji dengan menepuk-nepuk dadanya. "Demammu bisa naik lagi kalau tetap keras kepala."

DEG

Apa?

Demam?

"Aku demam?" Ginnan menyentuh keningnya yang panas dan basah. "Ahh… sejak kapan?"

Renji menatapnya dalam. "Kemarin. Aku sudah merasa kesahatanmu menurun waktu cuci-cuci piring di dapur," kata pria itu.

"Lalu, perayaannya?"

"Hanya aku, Ibu, dan Ayah yang merayakan."

DEG

"M-Memangnya aku tidur berapa lama?"

Ginnan ingin duduk, tapi dia didorong lagi hingga terebah kembali.

"Sehari semalam, tidak bangun. Tapi jangan khawatir, demamnya sudah agak turun sekarang," kata Renji. Pria itu menekan punggung tangannya di leher Ginnan, dan Ginnan seketika menyadari bahwa alarm barusan berbunyi hanya karena belum disetel ulang. Sebab hari beda, tanggal beda, dan dirinya kini pun sudah menggunakan piama lain (Hei, kapan pria ini menggantinya?).

"Astaga… bagaimana dengan Mama dan Ayah? Aku harus minta maaf dulu ke mereka—"

"Sudah tidur saja," kata Renji. "Atau kau mau makan bubur dulu? Lagipula sudah terlanjur bangun."

"Ah…" Ginnan baru benar-benar sadar lidahnya terasa pahit setelah menjilat pelan bibirnya sendiri. "Iya, boleh. Tapi aku mau yang manis."

"Hm, kalau begitu tunggu sebentar," kata Renji. Pria itu langsung pergi meninggalkan Ginnan dengan ketertegunan. Dia tatap langit-langit yang mendadak terasa bergoyang itu. Ah, panas.

Dan kenapa sakitnya baru menyerbu sekarang, ya?

Drrt… Drrt…

Drrt… Drrt…

"Siapa?"

Ginnan pun menoleh ke ponselnya yang berada di atas nakas. Dia mengerjap, berusaha meraih beda itu, namun justru menjatuhkannya ke lantai.

Brakh!

"Halo?"

Suara wanita yang sangat Ginnan kenal.

"Y-Yuki-chan?" gumam Ginnan. Dia mencoba bangun, namun samasekali tidak bisa barang duduk sekali pun. Tangannya hanya menggapai udara. Dan dia menyerah hingga Renji kembali dengan nampan bubur dan mengambil benda itu dari lantai.

"Yuki?"

Ginnan mengangguk kecil. "Dia tidak pernah menghubungi lagi sejak kutinggal sakit di rusun," katanya. "Tapi, entah. Boleh aku mengangkatnya dulu?"

Renji justru mematikannya, "Tidak. Sampai kau makan malam dulu," katanya. Lalu mengembalikan ponsel itu ke laci yang dikunci.

Sial. Ginnan merasakan aura cemburu yang kuat mengambang di udara.

"Ugh, oke," katanya. "Tapi ambilkan lagi ya setelah ini?"

"Hm." Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click <a href="https://www.webnovel.com/book/mimpi-takdir-yang-hadir_20912473905975105/6-natal-yang-terlewat_56795467043887946">www.webnovel.com/book/mimpi-takdir-yang-hadir_20912473905975105/6-natal-yang-terlewat_56795467043887946</a> for visiting.

Ginnan pun membuka mulut saat Renji menyodorkan sesuap bubur untuknya.

Ah, sebenarnya apa yang ingin dikatakan Yuki? Ginnan benar-benar ingin tahu.


CREATORS' THOUGHTS
Om_Rengginnang Om_Rengginnang

Hayoloh ಥ‿ಥ

Apa yang akan terjadi?

next chapter
Load failed, please RETRY

Weekly Power Status

Rank -- Power Ranking
Stone -- Power Stone

Batch unlock chapters

Table of Contents

Display Options

Background

Font

Size

Chapter comments

Write a review Reading Status: C6
Fail to post. Please try again
  • Writing Quality
  • Stability of Updates
  • Story Development
  • Character Design
  • World Background

The total score 0.0

Review posted successfully! Read more reviews

Cost Coin to skip ad

You can get it from the following sources

  1. 1. Daily check-in
  2. 2. Invite friends invite now >
  3. 3. Vote for new stories Vote >
learn more >
Vote with Power Stone
Rank NO.-- Power Ranking
Stone -- Power Stone
Report inappropriate content
error Tip

Report abuse

Paragraph comments

login