Forum Download app Gifts
75% Rasa Untuk Raisa / Chapter 15: BAB 15

BAB 15 - Rasa Untuk Raisa - Chapter 15 by Zubaidah_ZB full book limited free

Chapter 15: BAB 15

Raisa sudah salah membangun andrenalin Yuda yang notabenenya memang pembalap. Tapi Raisa menikmati bagaimana Yuda melajukan kecepatan di atas rata-rata, melewati mobil lainnya. Raisa sendiri menyukai balapan tidak namun dia sering memejamkan matanya bila berboncengan dengan Fairuz padahal kegilaan mengendarai antara dua lelaki itu sama.

"Udah sampai, rambutmu masih rapi." Yuda melepas seatbelt dan menyisir rambut ikal Raisa dengan dua jarinya.

"Iya dong, aku enggak mau jadi duta shampoo lain," canda Raisa mengusir kegugupannya, buru-buru dia memegang pintu mobil untuk keluar tapi lagi-lagi Yuda membuat detak jantungnya berpacu dua kali lebih cepat.

"Kamu tunggu di sini biar aku yang buka, my princess." Yuda lantas turun setelah mengedipkan matanya sebelah.

Raisa mencoba menyembunyikan wajahnya karena menjadi pusat perhatian para Siswa Antariosa. Hingga suara bel masuk menyeret langkah mereka menuju ke kelas masing-masing. Raisa melihat Bela, Kinta dan Arifah tersenyum menggoda dekat tangga. Yuda langsung mengapit lengan Raisa untuk berjalan bersama menuju kelas mereka di lantai dua. Ridho dan Rio sedari tadi memperhatikan keduanya di tepi beranda lantai dua. Mereka harap cemas kalau apa yang dilakukan Yuda semata hanya karena sebuah taruhan.

"Nanti istirahat kita ajak dia bicara, Dho."

"Iya, baru jalan dua minggu belum terlambat kalau Yuda mau ngebatalin ini. Gue punya andil di sini tapi Raisa pasti bakalan terluka banget sama Yuda. Lo nanti ajak Yuda ke taman belakang, ya."

Rio mengangguk mengajak Ridho untuk ke kelas.

***

Suasana kantin begitu riuh ketika Raisa memasukinya bersama Yuda juga teman yang lain. Saat suara bel istirahat berbunyi Yuda segera mengajak Raisa ke kantin dan menolak Rio untuk pergi ke taman. Seluruh perhatian dicurahkan lelaki itu kepada Raisa, bahkan ketika masih dalam proses belajar mengajar Yuda tampak memerhatikan Raisa, mengawasi perempuan itu.

Raisa merasa sedikit risih ketika di koridor tadi oleh bisikan siswa yang membicarakan dirinya dengan Yuda. Namun, Raisa mencoba abai dan kini duduk di samping Yuda menunggu pesanan mereka. Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click <a href="https://www.webnovel.com/book/rasa-untuk-raisa_20645147805316405/bab-15_55510359141827910">www.webnovel.com/book/rasa-untuk-raisa_20645147805316405/bab-15_55510359141827910</a> for visiting.

"Jangan dimasukin ke telinga apa yang mereka ucapin tadi ya, Raisa. Kamu enggak boleh stres. Aku kekasihmu hiraukan mereka yang iri karena enggak bisa sama aku yang ganteng ini," bisik Yuda terkekeh.

Raisa menginjak kaki Yuda yang membuat lelaki itu sedikit meringis lantai mengacak rambutnya. Bela, Arifah dan Kinta menggelengkan kepala mereka atas sikap kekasih yang terlihat begitu kekanakkan bagaikan orang yang baru pertama kali jatuh cinta.

Ridho dan Rio saling memandang satu sama lain mereka ingin mengajak Yuda berbicara secara tertutup tapi sedari tadi Yuda selalu menolak ajakan keduanya. Bahkan Rio bisa bertaruh kalau Yuda belum membuka line yang dikirimkan olehnya sejak pagi untuk bertemu di taman ketika istirahat tiba. Yuda sibuk melancarkan aksinya menarik perhatian Raisa.

Rio tertawa pelan begitu juga dengan Ridho mereka tidak menyadari tatapan Bela yang menaruh rasa penasaran. Yuda masih sibuk mencoba menyuapi Raisa makan meski perempuan itu menolaknya. Sedangkan Arifah di tengah kesibukannya melahap semangkok bakso, tangan kirinya sibuk mengetik ponsel karena tengah berkiriman pesan dengan Alif. Hanya Kinta yang benar-benar serius dengan soto ayamnya.

"Yu!" panggil Rio kedua kalinya berhasil mengalihkan perhatian Yuda ke arahnya.

Yuda menaikkan sebelah alis menunggu Rio untuk mengutarakan tujuannya. Rio menyinggung Ridho sebelum akhirnya membuka mulut untuk melancarkan rencana dadakan dengan Ridho.

"Tadi Alif inbox katanya anak Sakti Bima mau tawuran sama SMA kita. Maksud gue SMA Samudera," ucapnya seserius mungkin agar Yuda percaya karena biasanya lelaki itu sangat tertarik dengan hal demikian.

"Eh? Alif ma-u ta-wuran?" nimbrung Arifah terkejut, "di-a kok enggak bilang apa-apa. Ini aku lagi SMS-an. Ah, Alif bohong sama aku katanya lagi makan tapi," lanjutnya dengan menekuk wajah. Rio tampak salah bicara meminta Ridho agar membantunya menjelaskan.

"Eh, dia emang enggak ikut kok, Fa. Mereka enggak bakal diperbolehin keluar." Ridho mengambil karena Rio tengah mengetik pesan kepada Alif.

Bela semakin penasaran apa yang sedang terjadi.

Yuda tidak menanggapi karena Raisa menyuruhnya untuk mengambil minuman. Ridho dan Rio menghela napas, gagal lagi usaha mereka untuk bisa mengajak Yuda berbicara.

"Kalau aku ikut tawuran, kamu perbolehin nggak?" ucap Yuda memecahkan keheningan mereka setelah sandiwara Rio dan Ridho sia-sia. Rio tampak kaget karena balasan Yuda. Memang lelaki itu selalu semangat dengan namanya tawuran.

Raisa mengelap mulutnya sebelum menghadap Yuda, seulas senyumnya mengembang.

"Kamu belum makan, kan?" ungkap Raisa menarik mangkok mie ayam milik Yuda yang belum tersentuh sama sekali.

"Makan yang banyak biar punya energi," ucapnya seraya bangkit, "aku ke kantor guru dulu ada perlu sama Bu Alisa."

Bela mendengus ketika Raisa sudah benar-benar menghilang dari pandangan mereka.

"Dia itu enggak larang juga enggak bolehin," tutur Bela, "tapi menurut gue dari kalimatnya tadi itu serupa sarkastik. Ya kalau lo tetep mau ikut tawuran, siap-siap deh seminggu dia nggak bakalan ngomong sama lo," paparnya disetujui Arifah yang memberitahu tentang kejadian tiga bulan lalu.

"Padahal kami cuma pergi ke pasar malam tapi karena besoknya kami ujian dan enggak dengerin dia yang ngelarang kita pergi, besoknya dia diemin kita sampai-sampai waktu kita mau nyontek dia kayak enggak kenal kami. Haha, gue cukup sekali buat lihat dia ngambek, nyerahlah gue," terang Kinta masih mengingat jelas bagaimana seminggu lebih mereka dicuekin Raisa.

"Kalian tau apa yang dia ucapkan pertama kali setelah berhari-hari cuekin kita. Dia bilang ... Kalau gue ngomong kalian juga enggak ngedenger, kan?"

Bela melanjutkan. "Tapi syukur waktu ekstralikuler dia udah enggak diemin kita lagi."

"Rio, lo SMS Alif, bilang gue enggak ngikut kali ini," kata Yuda seraya bangkit, "Alif sama Rijal dan lain juga enggak perlu ikut, biar anak Sakti nunggu di luar," lanjutnya keluar dari kantin menuju kantor guru untuk meminta maaf sama Raisa. .

Rio menghela napas beratnya. Dia bahagia melihat Yuda berubah baik tapi hatinya tidak bisa mengeyahkan rasa kekhawatirannya tentang permainan mereka yang tengah dijalankan oleh Yuda. Dia berharap Yuda menghentikan taruhan ini sebelum semua terlambat.

"Udah bel, yuk ke kelas," ajak Bela kepada kedua temannya sedangkan Rio dan Ridho membayar pesanan mereka dan mengatakan akan menyusul nantinya.

-Sampai kapan aku hanyalah bayangan yang selalu menunggu kamu menatapku lebih lama- .

***

Raisa mengetuk pintu pelan sambil memberi salam hingga suara Bu Alisa menyuruhnya masuk barulah dia melangkahkan kaki ke dalam di mana di kursi sofa bewarna cokelat tua yang masih tampak baru, sosok Atha tanpa kacamata—sejak dua hari lalu itu tengah mengulas senyum ke arahnya. Raisa dipersilakan duduk di samping Atha.

"Jadi Ibu bakal langsung ke to the point saja ya, biar kalian tidak telat masuk kelas,'' buka Bu Alisa menyunggingkan senyum yang masih bisa membuat mata lelaki di luar sana terpesona karena wajah awet mudanya meski sudah menginjak umur tiga puluh. Sayangnya, Bu Alisa belum memiliki pasangan mungkin karena masih betah menjadi single.

"Ibu memilih kalian berdua untuk ikut debat di Nasional High School. Atha sudah menyetujuinya dan ibu harap kamu juga menyetujuinya, Raisa. Bu Jasmine selaku guru bahasa juga merekomendasikanmu. Sudah seharusnya kamu menunjukkan bakatmu. Ya, selain kamu bisa ikut di olimpiade Fisika dan Biologi ibu rasa kamu juga mampu di bidang ini,'' ungkap Bu Alisa menatap penuh harapan pada Raisa yang tampak berpikir. Raisa menoleh pada Atha yang mencoba menyakinkannya.

"Baiklah, Bu, saya akan coba," jawab Raisa pada akhirnya. Toh, selama ini dia juga sudah sering mengikuti perlombaan, tidak ada salahnya sesekali mencoba sesuatu yang baru.

Raisa memang tidak banyak bicara tapi pesoal debat dia sangat jago. Setiap ada prestensasi kelompok dia sering menjadi pembicara tak terkalahkan dalam menjawab pertanyaan mereka yang sebagiannya terlihat sedang ingin menjatuhkan Raisa.

"Baiklah, kalau begitu kalian bisa kembali ke kelas. Perlombaannya seminggu lagi, nanti kalian pulang sekolah mampir ke perpus dulu, ibu bakal nitip bahannya pada petugas.''

Atha bangkit pamit ke kelas, begitu juga dengan Raisa.


next chapter
Load failed, please RETRY

Gifts

Gift -- Gift Received

    Weekly Power Status

    Rank -- Power Ranking
    Stone -- Power Stone

    Batch unlock chapters

    Table of Contents

    Display Options

    Background

    Font

    Size

    Chapter comments

    Write a review Reading Status: C15
    Fail to post. Please try again
    • Writing Quality
    • Stability of Updates
    • Story Development
    • Character Design
    • World Background

    The total score 0.0

    Review posted successfully! Read more reviews

    Cost Coin to skip ad

    You can get it from the following sources

    1. 1. Daily check-in
    2. 2. Invite friends invite now >
    3. 3. Vote for new stories Vote >
    learn more >
    Vote with Power Stone
    Rank NO.-- Power Ranking
    Stone -- Power Stone
    Report inappropriate content
    error Tip

    Report abuse

    Paragraph comments

    login