Forum Download app Gifts
100% Source of My Life / Chapter 3: CHAPTER THREE

CHAPTER THREE - Source of My Life - Chapter 3 by Pannacottaa full book limited free

Chapter 3: CHAPTER THREE

Ganiella merasakan aura yang tidak enak dari laki-laki yang berada di depannya, ia tidak tahu apa yang salah dengan Ashlan namun laki-laki itu seperti sedang dalam mood yang tidak baik. Ganiella mengingat-ngingat apa ia telah melakukan kesalahan? Tapi sepertinya tidak.

Ashlan berhenti mendadak membuat Ganiella yang sedang berpikir terdorong ke depan tanpa adanya persiapan apapun "Turun" Ashlan melepas helmnya lalu menoleh ke arah Ganiella yang berada di belakangnya. Ganiella kikuk, ia merasa ini belum sampai di flat mereka, namun Ganiella tetap menuruti ucapan Ashlan.

"Kita mau kemana?" Ashlan mengabaikan pertanyaannya, Laki-laki itu menaruh helmnya di atas tangki motor, lalu ia melihat Ganiella yang berdiri kaku masih dengan helm yang terpasang di kepalanya. Ashlan menipiskan bibirnya menahan tawa, melihat Ganiella seperti astronot yang terdampar karena helm kebesarannya, lalu Ashlan melepaskan helm dari kepala Ganiella dan menaruh helm itu di samping helm miliknya.

"Mau sampai kapan berdiri di situ?" Entah sejak kapan Ashlan sudah berada jauh di depan, membuat Ganiella tersadar dari rasa gugupnya dan berjalan menyusul Ashlan di depannya.

Ashlan memasuki sebuah cafe kecil dengan dekorasi-dekorasi ala anak motor yang didominasi oleh warna coklat dan hitam. Ganiella melihat laki-laki berambut coklat cepak dengan tindik di atas bibirnya dan badan besar yang dipenuhi tatto berjalan mendekat ke arah mereka membuat Ganiella bergidik ngeri.

"Woah...siapa gadis cantik ini?" Ashlan memutar bola matanya jengah melihat Billian yang mengabaikannya dan lebih antusias dengan keberadaan Ganiella di sampingnya, seperti sebelumnya Ganiella kembali bersembunyi di balik punggung Ashlan yang tanpa sadar membuat ia senang.

"Tenang, cantik aku tidak akan memakanmu" Billian menekankan kata memakanmu dengan menatap Ganiella menggoda.

"Mana pesananku" Ucap Ashlan membuat Billian mengalihkan pandangannya dari Ganiella yang masih bersembunyi di balik punggung laki-laki itu.

"Jadi ini mengapa pesananmu lebih banyak dari biasanya?" Billian menatap Ashlan jahil "Jangan banyak tanya, seperti perempuan saja" Billian mendengus mendengarkan ucapan ketus Ashlan dan mengambil pesanan laki-laki itu.

"Kalau kau tidak tahan dengan sikap Ashlan, hatiku selalu terbuka untukmu" Billian mengedipkan matanya sambil melirik ke arah Ganiella yang menatap takut-takut, sebelum memberikan beberapa kantung plastik pada Ashlan.

"Cih, perayu" Billian yang mendengar cibiran pelan Ashlan semakin menatap laki-laki itu jahil "Ada apa Ash, mengapa kau terlihat kesal, hm?" Ashlan benar-benar ingin menendang wajah sok tampan Billian yang sedang tersenyum penuh arti yang sangat menyebalkan untuk dilihat "Aku kesal? Tidak, jangan sok tahu"

Billian yang melihat itu mengeluarkan tawanya yang ia tahan saat melihat Ashlan yang buru-buru pergi begitu saja dengan Ganiella yang berlari kecil menyusulnya "Jangan lupa nanti malam!!" Teriak Billian lantang.

—————

"Kalian dari mana saja?" Pertanyaan Kayra menyambut kedatangan Ashlan dan Ganiella, pAshlan menaruh katung plastik yang berisikan makanan itu ke meja makan. Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click <a href="https://www.webnovel.com/book/source-of-my-life_17711649806607905/chapter-three_48819311984309174">www.webnovel.com/book/source-of-my-life_17711649806607905/chapter-three_48819311984309174</a> for visiting.

"Bengkel" Jawab Ashlan singkat, setelah itu laki-laki itu memilih menghilang menuju kamarnya.

"Ku kira kau pergi, karena aku tidak berpikir kalau Ashlan mau mengajakmu ke tempat bekerjanya" Ganiella bisa melihat kekhawatiran di mata abu-abu Kayra saat gadis itu menatapnya.

"Lebih baik kita makan" Ganiella mengangguk lalu membantu Kayra memindahkan makanan ke dalam piring dan menatanya.

"Apa dia tidak makan?" Tanya Ganiella ragu-ragu, Kayra tersenyum singkat "Biarkan saja nanti kalau ingin dia juga keluar"

Ganiella tahu jika Ashlan belum makan sejak siang, apalagi laki-laki itu bekerja. Dalam hati Ganiella bertanya apa ia tidak merasa lapar?

Kayra yang melihat Ganiella hanya diam menunduk memegang tangan gadis itu "Ada apa?"

Ganiella mengangkat wajahnya dengan ragu-ragu ia berucap "Apa aku boleh memanggilnya?" Meskipun Kayra tinggal berdua dengan Ashlan namun mereka jarang makan bersama meskipun terkadang Kayra sudah mengajaknya tapi Ashlan selalu menyuruhnya untuk makan duluan "Kami sudah biasa seperti ini namun tidak ada salahnya kan mencoba?"

Ganiella bangun dari duduknya dan melangkah ke arah pintu bercat biru tua, ia memberanikan diri untuk mengetuk pintu itu, tidak ada jawaban. Kini Ganiella mengetuk lebih kencang yang membuatnya tanpa sadar mendorong pintu itu dan tubuhnya oleng ke depan, membuat tubuhnya menabrak sesuatu yang keras, tidak lebih tepatnya wajahnya menempel di dada telanjang seseorang. Dan seseorang itu ialah Ashlan.

Sontak seluruh wajah Ganiella merah padam ditambah saat matanya melihat Ashlan yang hanya terbalut handuk disekitar pinggangnya dan rambutnya yang basah. Air tetesan dari rambut laki-laki itu sempat mengenai pipi Ganiella saat gadis itu mendongakkan wajahnya. Ashlan menyeringai melihat betapa merahnya wajah Ganiella saat ini dan dari jarak sedekat ini membuatnya bisa melihat lebih dalam mata biru yang selalu menjebaknya.

Ganiella merasa waktu seakan berhenti saat bibirnya merasakan bibir Ashlan yang mengecupnya dengan pelan setelah itu lama kelamaan menjadi sebuah lumatan-lumatan menuntut, tidak hanya itu bibir laki-laki itu juga mengigit kecil bibir bawah Ganiella gemas membuat kaki Ganiella seperti jelly kalau saja Ashlan tidak memeganggi pingangnya mungkin ia sudah terbaring dengan kaki yang mati rasa.

"OH MY....." Ashlan segera menjauhkan bibirnya saat mendengar teriakan terkejut Kayra yang berdiri di depan pintunya. Kini tatapannya beralih ke arah Ganiella yang terkejut dengan tangan yang memegang bibirnya yang sedikit membengkak.

"Sialan!" Ashlan mengacak rambutnya frustasi, ia kehilangan kendali dirinya. Sekali lagi ia melirik ke arah Ganiella yang belum menujukkan ekspresi apapun kecuali terkejut "Maaf" Ashlan mendorong Ganiella keluar dari kamarnya lembut, setelah itu ia menutup pintunya keras.

"Idiot, kau membuatnya terkejut sial!" Tidak tahu apa yang dipikirkan Ashlan saat itu namun yang pasti saat ia melihat mata biru Ganiella yang juga menatapnya muncul dorongan kuat yang membuatnya ingin mencium gadis itu. Kelembutan bibir itu dan tubuh Ganiella yang terasa pas dipelukkannya berputar di otak Ashlan dan hal yang membuatnya semakin frustasi ialah ia ingin menyicipi kelembutan bibir gadis itu

Lagi.


next chapter
Load failed, please RETRY

New chapter is coming soon Write a review

Weekly Power Status

Rank -- Power Ranking
Stone -- Power Stone

Batch unlock chapters

Table of Contents

Display Options

Background

Font

Size

Chapter comments

Write a review Reading Status: C3
Fail to post. Please try again
  • Writing Quality
  • Stability of Updates
  • Story Development
  • Character Design
  • World Background

The total score 0.0

Review posted successfully! Read more reviews

Cost Coin to skip ad

You can get it from the following sources

  1. 1. Daily check-in
  2. 2. Invite friends invite now >
  3. 3. Vote for new stories Vote >
learn more >
Vote with Power Stone
Rank NO.-- Power Ranking
Stone -- Power Stone
Report inappropriate content
error Tip

Report abuse

Paragraph comments

login