Forum Download app Gifts
100% UGLY HUSBAND 2 (Season II) / Chapter 19: Chapter 18

Read UGLY HUSBAND 2 (Season II) - Chapter 19 online

Chapter 19: Chapter 18

Perjalanan pulang ke rumah, setelah pamit pada Rui membawa Albert menginap di rumah mereka, yakni Monika dan Nico. Dalam mobil Monika mengintip lewat kaca depan di belakang tempat duduk Albert duduk  hingga tertidur. Mungkin terlalu lama bermain dengan Nico di rumahnya.

Suasana di mobil pun kembali hening dan canggung, apalagi pertanyaan dari Rui sebelum mereka beranjak untuk pamit pulang. Rui terus menerus menggoda Nico dan Monika, bukan itu saja Rui juga berikan tips untuk Nico biar hubungan mereka langgeng.

Dari larut wajah Nico sendiri memerah karena perbuatan Rui tadi sore. Bagaimana tidak sikap Rui selain sifat kanak-kanakan, ternyata dia sangat suka mengerjai Nico. Selain saudara sepupu tidak terlalu dekat suka sikut menyikut. Monika bisa melihat jelas wajah malu-malu kucing dari Nico. Nico masih memikirkan kata-kata Rui beberapa menit yang lalu. Saat pamit pulang itu.

****

Dua jam yang lalu....

Sebelum pamit pulang ke rumah, Nico menunggu Monika keluar dari kamar Albert. Monika membantu berkemas pakaian karena mulai malam ini anak laki-laki itu menginap. Nico duduk di ruang tamu sambil main ponselnya. Di sanalah Rui berkesempatan duduk dan berbasa-basi.

"Kamu sangat beruntung memiliki Monika sebagai istrimu," ucap Rui, membuka percakapan kali pertama dari suasana kembali hening.

Nico menyudahi ponselnya, "Kamu juga," jawabnya ikut memuji.

Rui senyum tipis, kalau Nico jawab seperti itu. Suka sih, pada kenyataan tidak seindah kehidupan Nico. Aldo saja masih belum bisa mencintainya.

"Tapi kamu lebih beruntung, kamu tidak lihat sikap Monika pada putraku? Justru kamu harus bangga punya istri seperti dia, jangan terlalu kasar padanya. Susah dapatin istri penyabar seperti Monika," kata Rui melirih.

Nico tidak menunjukkan apa pun dari pujian Rui untuk Monika. Akan tetapi dia juga menyadari sendiri, ketika menerima telepon dari pembantu Rui, dari larut wajah Monika saja sudah terlihat jelas. Bahwa Monika peduli dan sayang pada Albert.

"Kamu tidak berencana untuk punya anak dari rahim Monika? Tidak ada salahnya 'kan? Mungkin dengan cara Albert menginap di rumah kamu, kamu berubah pikiran untuk Monika," nyinyir Rui mulai beri kesempatan menggombal.

Sorot kedua mata Nico menatap seram arah Rui. Rui tidak akan pernah takut pada sorotan matanya. Bukankah dari dulu sikap Nico memang seperti itu. Walau dia tidak tahu privasi seluruhnya. Setidaknya Rui masih ingat sifat-sifat gengsinya itu.

"Tidak perlu kamu mengatur, aku bisa lakukan," jawabnya asal, pada kenyataan Nico ingin sekali. Hanya dia tidak tahu cara merayu Monika untuk berhubungan badan. Seperti sosok Nico itu susah merayu apalagi romantis.

"Masa? Jadi saat menikah kali pertama dengan Monika, sudah berapa kali berhubungan badan dengannya? Di malam pertama kamu?" Rui mulai mengorek informasi soal pernikahannya.

Nico semakin merah pada wajahnya, kalau dia ingat lagi saat menikah dengan Monika. Untuk hubungan badan, tidak pernah sama sekali. Karena pertama kali itu, dia baru kenal Monika dari perjodohan dan berkenalan itu pun singkat. Maka dari itu Nico terlihat tidak bisa paksa untuk melakukan hal itu.

Sebaliknya dengan Monika juga, walau Nico tahu masa lalu istrinya. Bukan berarti dia jijik sama tubuh Monika.

"Atau belum pernah sama sekali?" tebak Rui lagi, semakin merah dan mematung Nico. Dia tidak bisa mengelak, kalau sudah ketahuan dia memang belum pernah melakukan hubungan badan dengan istrinya sendiri.

Rui terkekeh geli  saat melihat wajah Nico yang begitu tegang itu. "Tidak perlu tegang seperti itu, Nico! Aku bisa maklumi. Mungkin pertama kali waktu menikahi Monika, kalian belum saling kenal. Wajar sih itu sudah tidak heran lagi. Tapi, tidak apa-apa lah. Setidaknya kamu sudah mulai ada rasa simpati dan rasa cinta sama Monika, kan?" cemooh Rui beri segala pertanyaan pada Nico.

Nico lebih baik memilih untuk diam, diam lebih bagus. Bukan berarti dia tidak menyimak setiap cemoohan dari Rui, saudara sepupu paling menyebalkan.

"Terserah kamu saja, ejek terus sesuka mu!" Nico mulai kesal pada Rui.

Rui pun berpindah duduk lebih dekat dengan Nico, bukan maksud merayu. Hanya bisikan kecil untuknya. Mungkin akan ampuh.

"Mungkin lebih ampuh untuk lakukan hubungan itu, dengan ini!"

Sejak kapan Rui memegang sebuah bubuk putih di kemasan plastik rapi itu. Nico melirih horor, ya dia tahu Rui punya segala akal untuk bisa berikan apapun agar dia tetap mau melakukan itu. Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click <a href="https://www.webnovel.com/book/ugly-husband-2-(season-ii)_16698175906004505/chapter-18_49760269257208176">www.webnovel.com/book/ugly-husband-2-(season-ii)_16698175906004505/chapter-18_49760269257208176</a> for visiting.

"Dengan cara ini, aku yakin kamu akan ketagihan lakukan pada Monika. Mau sampai kapan menunggu, kasihan orang tua Monika pasti sudah menanti kehadiran seorang cucu. Apalagi nenek Gwen juga sudah tidak sabar melihat cicitnya lahir dari rahim Monika," lanjut Rui berbicara kemudian terdengar suara pintu kamar Albert, mereka berdua pun keluar di sana.

Monika mengangkat tas pakaian milik Albert, tidak lupa dengan mainannya. Semua perlengkapan Albert tidak ada lagi tertinggal. Apalagi Albert juga sudah rapi dan wangi. Albert pun melepas tangan dari genggaman Monika berlari menuju arah Rui.

"Mama, Albet sudah mandi, wangi lagi!" serunya kemudian. Rui pun mengusap rambut putranya yang masih basah itu.

"Waaah, wangi dan ganteng! Ingat di rumah Tante Monik jangan nakal, ya!" Rui mengingatkan pada putranya. Dengan badan lurus Albert pun mengangkat satu tangannya seperti hormat bendera.

"Siap Mama!" Rui senang melihat putranya kembali cerah. Nico pun bangun dari duduk bersiap pamit pulang.

Rui pun mengantar mereka bertiga ke depan rumah, Albert masuk ke mobil Nico. Kemudian Monika memasukan tas ke belakang mobil. Nico pun bersiap untuk beranjak dari rumah Rui.

"Ingat yang aku katakan tadi!" Rui berteriak membuat Monika pun menoleh. Nico tidak menggubris.

Jendela di mana Albert duduk, Albert melambai tangan pada Rui. Rui juga membalas melambaikan tangan setelah mobil Nico pun keluar dari halaman rumahnya.

[... ]

Sampai di rumah mereka sendiri, Nico dari tadi melamun tidak jelas. Membuat Monika memanggil namanya beberapa kali. Monika capek panggil terus, ujungnya Albert memukul pahanya hingga Nico tersentak kaget.

"Om!"

"Ya!" Nico pun melirih arah Albert. "Om melamun saja! Yuk, Om!" ajak Albert dari tadi sudah di depan pengemudi tersebut.

Monika sudah dua kali bolak-balik keluar masuk dari rumah membawa barang Albert dan juga milik suaminya. Nico pun segera turun dan ikut masuk ke rumah. Rumah akan semakin ramai bertambah satu penghuni yaitu Albert sendiri. Albert sudah bersorak memanggil Santi dan Herman, orangtua Monika. Mereka berdua sangat senang dihadirkan oleh seorang anak laki-laki dari mana.


next chapter
Load failed, please RETRY

New chapter is coming soon Write a review

Privileged

More Privileged Chapters

Download the app and become a privileged reader today! Come take a sneak peek at our author's stockpiled chapters!

Download

Weekly Power Status

Rank -- Power Ranking
Stone -- Power Stone

Batch unlock chapters

Table of Contents

Display Options

Background

Font

Size

Chapter comments

Write a review Reading Status: C19
Fail to post. Please try again
  • Writing Quality
  • Stability of Updates
  • Story Development
  • Character Design
  • World Background

The total score 0.0

Review posted successfully! Read more reviews
Send Gifts
Gifted
Thank you for your generous gift.

Cost Coin to skip ad

You can get it from the following sources

  1. 1. Daily check-in
  2. 2. Invite friends invite now >
  3. 3. Vote for new stories Vote >
learn more >
Vote with Power Stone
Rank NO.-- Power Ranking
Stone -- Power Stone
Report inappropriate content
error Tip

Report abuse

Paragraph comments

login
Report inappropriate content
error Tip

This's an experimental test for reading assistance in case.

We highly recommend you to enjoy the beauty of the original words.