Forum Download app Gifts
100% URAKAN / Chapter 29: duapuluhenam

Read URAKAN - Chapter 29 online

Chapter 29: duapuluhenam

Di tengah jalan membelah jalanan tikus, Herma sedikit berbincang dengan Diana. Dia bukannya kepo, hanya saja dia tidak suka terbalut awkward moment berlarut-larut. Mulanya pembicaraan diawali dengan hal remeh-temeh seperti, "wah kalau rumah lu di kompleks X, lu anak sultan dong? Woa ... bisa nih traktir rakyat jelata seperti saya." Iya, serius Herma bilang begitu. Dia bahkan sengaja mengganti lu-gue nya menjadi saya-style hanya untuk menggoda Diana.

Untung saja Diana bukan wanita bertitik didih tinggi. Dia tertawa dan hanya memukulnya main-main sambil membalas, "apaan sih." Dan berikutnya mereka mulai berbicara hal-hal lainnya. Setidaknya perjalanan ini berwarna. Herma pun menikmati keasyique-an si Diana.

Jadi gaes, kesan pertama itu jangan dipercaya. Herma mengira Diana wanita sengak, ternyata ... tidak juga. Hanya saja, memang ada satu dua sisi yang membuat sisi ketusnya muncul. Seperti halnya ketika Herma tiba-tiba bertanya, "lu ada apa sama abang lu? Kok ketus begitu?" Eh perempuan ini langsung nyahut dengan, "abang?! Dia?! Orang pengecut kek dia abang gue?! Iyuuuh!" dong. Seketika Herma kicep. Oke, bukan topik yang pas sepertinya.

Akhirnya Herma membelokkan percakapan ke lain topik dan suasana yang sempat meruncing langsung lumer. Tapi percakapan mereka harus berakhir ketika Herma memasuki gerbang tinggi megah dari kayu. Matanya serupa anak kecil melihat permen ketika satpam mempersilakan mereka masuk lalu dia melaju di tanah berbalut rumput jepang yang tertata dan terpetak-petak di tengah bebatuan kecil dan membentang dari gerbang hingga ... bawah kubah raksasa pintu depan rumah.

Anjir! Sultan bener! Sultan yang niat sekali buat show off! Bukan pertama kali dia bertemu keluarga Sultan sih, noh si pantad gembul teman bermaik kelerengnya yang berdarah Ardanta juga tajir melintir ... tapi ... tapi mereka enggak seniat ini bikin rumah! Ha! Rumah Sean saja enggak ada satpamnya! Kenapa? Mindset-nya bonyok Sean itu ... kalau mau curi ya sudah curi saja ... nanti bisa beli lagi. Gitu.

Menurunkan Diana, Herma tersenyum kecil. Dalam hati dia berniat langsung balik. Hanya saja belum juga dia putar balik, motor Andre mendekat, berhenti di sampingnya, membuat Diana spontan melipir pergi. Sikap dinginnya jelas sekali berbeda dengan dia yang ramah selama diperjalanan tadi.

Herma mengerutkan kening melihat hal ini. Dan karena terlalu focus pada Diana ... dia sampai tak sadar menyanggupi Andre untuk mampir. Dia juga tak sadar tiba-tiba sudah masuk ke dalam rumah super mewah itu dan ... bertemu dengan dua orang wanita ayu. Satu dari mereka sedang duduk di atas sofa, mengelus puncak kepala Diana. Sementara yang satunya lagi sedang asyik minum dengan pakaian instruktur senam melekat di badan dengan tubuh bercucuran keringat.

Ebuset.

"Bun, Andre pulang," kata Andre sambil menghampiri wanita berambut hitam di sofa. Kedatangannya, seperti yang dapat Herma duga, memicu Diana untuk angkat kaki lalu melenggang pergi. Tapi sepertinya Andre biasa saja, karena dia mencium tangan wanita berlesung pipi dengan wajah kalem itu tanpa tunjukkan sedikit pun rasa sakit hati.

"Andre bawa temen Andre, Namanya Herma. Her, sini!" Andre memanggil Herma. Tanggap, lelaki itu buru-buru mendekat dan mengikuti apa yang Andre lakukan—mencium tangan wanita ini. Namun hal yang tak terduga terjadi berikutnya, perempuan yang rambutnya digelung di belakang ini ... menangkup wajahnya. Lalu telaten dia merabanya mili per mili. Herma nyaris menepis tangan wanita yang dipanggil Andre 'bunda' ini, tapi tak jadi karena entah sejak kapan ... tangan Andre menggenggam jemarinya.

"Pemuda yang tampan ... teman kuliah juga, Ndre?" tanya sang Bunda seraya menarik tangannya. Herma mengerjap bingung melihat hal ini, hanya saja belum juga dia bertanya apa yang melintas di pikirannya pada Andre, wanita ini menjawab, "iya nak, benar. Saya tak bisa melihat ..." membuat Herma mematung sesaat dan mengatakan maaf dengan tanpa sadar. Yang seketika dibalas tawa canggung oleh wanita ayu itu.

Namun sebelum suasana tak enak ini makin berlanjut, Andre menyelamatkannya. "Dia teman Andre di sini Bun. Hehe. Sudah ya Bun, mau Andre ajak ke kamar," kata Andre sambil menarik Herma dan mencium pipi sang Ibunda.

Berikutnya mereka menghampiri wanita yang kini duduk manis di meja keramik sambil menyeka keringat. "Tumben lu inget rumah, Ndre," kata wanita bermanik jenaka yang sama persis dengan milik Andre.

"Ya sekali-sekali. Gue kan masih sayang mamah," balas Andre seraya cipika cipiki wanita ini. Dan perkenalan akan Herma pun dilakukan. Tapi di sini, Herma tidak cium-cium pipi, dia hanya berikan salaman formal biasa. Lalu bersama, mereka bergeser ke kamar Andre. Herma tak tahu bagaimana cara menolak dan berujung ... oke lah. Ikuti aliran air mengalir saja!

Tapi ketika dia menaiki tangga dan melihat ke dinding besar yang membentang di antara percabangan anak tangga, Herma mematung. Di sana terdapat ceruk berisi lukisan dengan lampu menyorot wajah-wajah mereka yang ada di gambar. Herma langsung tahu ini portrait keluarga. TAPI! TAPI!! Lelaki di tengah yang diapit dua wanita yang dia kenal adalah ... adalah ...

FU*K!

Drama apa pula ini?!

Mengerang, Herma memalingkan muka. Perutnya melilit menyadari fakta dengan api apa ayahnya bermain! Hanya saja, ketika dia melihat sisi kanan lelaki itu ... tepatnya ke sisi kanan wanita ayu yang Andre panggil 'Bunda' ...

Untuk kedua kalinya Herma menahan nafas. Di antara semuanya ... satu lukisan lampunya padam. Lukisan ini sepertinya diambil dari foto ijazah, ekspresi 'dia' yang dilukis terlalu kalem dan kaku, lalu matanya ... kosong. Tatapannya ... hampa. TAPI BUKAN ITU MASALAHNYA! Lelaki yang paling muda di antara lukisan yang ada ini memiliki rema yang dikuncir asal ini ... adalah ...

"Dia abang gue," sebuah suara melantun di samping Herma, membuanya terkejut dan sedikit melompat. Ketika dia menoleh, Diana yang kini hanya berbalut tanktop pink dan hotpants sedang berdiri di sisinya. Mata coklat jernihnya memandang gambar di sana dengan sendu.

"... abang?" Sanksi Herma bertanya. Matanya lurus memandang wajah Diana. Dan makin dipandang akhirnya dia tahu mirip dengan siapa Diana ini ...

"Iya. Abang. Kandung," tersenyum sedih, Diana menjulurkan tangannya ke dalam lukisan. Dia usap gambar itu perlahan. "Tapi dia dibunuh ... hanya karena seseorang dengan Ibu yang lebih penting di hati ayah, lari dari masalah ..." Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click <a href="https://www.webnovel.com/book/urakan_15745732606939805/duapuluhenam_47512745905545143">www.webnovel.com/book/urakan_15745732606939805/duapuluhenam_47512745905545143</a> for visiting.

"Eh?" Herma tak paham. Dia mengerutkan kening.

"Abang nggak pernah salah. Tapi karena bunda hanyalah ... hanyalah orang biasa ... ketika ayah disuruh memilih anak siapa yang dipertahankan di suatu masalah padahal katanya kondisinya saat itu sedang banyak masalah, tentu lelaki mata duitan macam dia akan memilih anak mama," Diana bercerita, tawa sedikit meluncur dari bibirnya. Tawa yang sarat akan jijik, benci dan kesal mendalam. "Padahal bukan abang yang mencintai pada awalnya. Bukan pula dia yang 'belok' dari awal. Tapi kesalahan ... dilimpahkan semua padanya ..."

Herma terdiam. Dia tercenung. Matanya membelalak. Dia sepertinya paham akan kemana cerita ini. Shit! Terlalu tegang, dia sampai tak sadar jika dia menahan napas.

"Gue saranin lu hati-hati sama temen lu, bang! Bisa-bisa saat dia udah dapetin lu dan lu lagi sayang-sayangnya ... lu dibuang kek sampah! Semuka dua itulah temen lu," desis Diana sebelum dia melengkungkan senyum sinis dan berbalik badan, pergi.

Senyum sinis yang Herma tahu untuk siapa ketika dia menoleh ke sisi lainnya.

Di atas sana ... tepatnya di lantai dua ... Andre melihat dan mendengar ini semua. Wajahnya ... sedih? Berduka? Sakit hati? Tapi dia tak menyangkal. Bahkan dia hanya berikan senyuman hampa.

Pelan, Herma menapaki tangga, bergerak ke arah Andre.

Satu-dua-tiga anak tangga.

"Gua anak dari pelakor yang menghancurkan kehidupan rumah tangga seseorang," adalah apa yang Andre katakana, lirih. Ucapan santai yang tentu tak sesantai itu. Mengatai ibunya sendiri pelakor? Anak durhaka macam apa dia?! Tapi memang itulah kenyataannya!

"Ketika ada bintang yang menanjak naik, kesuksesan di depan mata, pelakor pasti tergoda untuk meraih bintang itu, kan?" melanjutkan kata, Andre memutus tautan pagutan mata. Dia menengadah. Wajahnya tampak memikirkan masa lalu. "Tapi orang yang dia goda ... tak ingin melepaskan keluarga yang dari awal mau terseok bersama di awal dia meniti kariernya. Apakah masalah?"

Herma bungkam. Dia terus mendaki dan menatap lurus lelaki yang kini mulai memandangnya lagi.

--Empat-lima-enam anak tangga.

"Masalah tentu saja. Karena pria itu punya putra yang lebih tua." Jeda terjadi, Andre tertawa. Tawanya hambar. "Gue adalah penerus Hendra Corp karena gue menggulingkan kandidat terkuat, menjebaknya dalam drama."

--Tujuh-delapan-sembilan.

"Gua bilang cinta ke dia. Pepet terus sampai dia membalas cinta yang salah ini, bongkar di depan papa dan playing victim dengan 'paaa ... abang mau perkosa Andre~'." Andre terkekeh. Bibirnya melengkung. Senyuman terlukis. Senyuman miris.

Sesak. Duka. Luka. Mereka merajah wajah meski tawa merekah.

--Sepuluh-sebelas-dua belas.

"Terus karena nyokap gue putrinya pejabat negara, duitnya banyak dan saat itu papa butuh duit karena Hendra corp yang gunjang-ganjing ... gua yang dia pilih dong," Andre terkekeh berikutnya. Tapi matanya tampak berkabut. Dia ingin menangis. "Si Anak sah berusaha menjelaskan, dia berusaha menerangkan, tapi papa tutup telinga. Baginya saat itu, harta lebih penting daripada anak. Tergulinglah sudah saingan terbesar gua. Ditendang. Keluar dari KK atas apa yang tidak dia lakukan." Tawa maniak meluncur dari bibir Andre. Tangannya terentang. "Karena siapa? GUA! Karena apa? KARENA GUA MENJERATNYA DAL—"

Seruan Andre terpotong ketika tiba-tiba Herma yang telah berdiri di lantai yang sama dengannya, menjulurkan tangan, merengkuhnya. Andre membelalak. Napasnya tercekat. E-eh?

"Her, lep—" Dia berusaha mendorong tubuh anak STM ini kemudian. Namun ayal, Herma justru makin menguatkan dekapannya. Lalu ketika Andre berusaha lepas, kuat Herma mendesis, "lu jangan pura-pura, bujang! Muka lu bukan muka antagonis!"

Desisan yang langsung membuat Andre terhenyak, dan hanya mampu terbata berceletuk, "h-ha?"

"Itu pandangan orang lain yang nggak mau denger cerita dari lu, kan?" Tandas Herma seraya membawa kepala lelaki yang lebih tinggi itu ke perpotongan lehernya. Dia elus surai hitam lurus di sana.

"G-gu—"

"Hilih kintil, lu jan banyak bacot. Diem aje lu, aktor gadungan!" Seru Herma sambil terus mengelus surai Andre. Andre ingin protes. Dia ingin menjawab. Tapi inginnya hancur tatkala sebuah suara, lirih berbisik, "bukan. Lu bukan orang jahat." Dia membeku bahkan. Matanya membelalak.

Pelan, penuh kasih Herma belai puncak kepala Andre. Dan semakin intens dia lakukan ini, semakin Andre gagal menunjukkan kegarangannya. Herma bisa melihat tubuh di dekapannya perlahan bergetar.

Menarik napas dalam, dia berbisik kemudian, "semua ini hanya karena cinta bersemi di saat yang salah. Dan orang tua ... selalu merasa benar atas anak-anaknya."

Keheningan membalut kemudian. Mereka bertahan dalam posisi ini untuk sesaat.

Dan di sini ...

Terkelibat rasa di hati Herma ...

Untuk menopang sebagian beban lelaki yang selalu tertawa ini.

Memang benar. Kadang yang tertawa, tak selamanya yang paling bahagia.

.

.

[]


CREATORS' THOUGHTS
Deelnefire Deelnefire

Creation is hard, cheer me up!

next chapter
Load failed, please RETRY

New chapter is coming soon Write a review

Privileged

More Privileged Chapters

Download the app and become a privileged reader today! Come take a sneak peek at our author's stockpiled chapters!

Download

Weekly Power Status

Rank -- Power Ranking
Stone -- Power Stone

Batch unlock chapters

Table of Contents

Display Options

Background

Font

Size

Chapter comments

Write a review Reading Status: C29
Fail to post. Please try again
  • Writing Quality
  • Stability of Updates
  • Story Development
  • Character Design
  • World Background

The total score 0.0

Review posted successfully! Read more reviews
Send Gifts
Gifted
Thank you for your generous gift.

Cost Coin to skip ad

You can get it from the following sources

  1. 1. Daily check-in
  2. 2. Invite friends invite now >
  3. 3. Vote for new stories Vote >
learn more >
Vote with Power Stone
Rank NO.-- Power Ranking
Stone -- Power Stone
Report inappropriate content
error Tip

Report abuse

Paragraph comments

login
Report inappropriate content
error Tip

This's an experimental test for reading assistance in case.

We highly recommend you to enjoy the beauty of the original words.