Tuhan Yang Maha Ghosting
Andi, seorang pemuda berusia 28 tahun yang tinggal di kamar kos sempit di pinggiran kota besar tahun 2026, sedang berada di titik terendah hidupnya. Sudah tiga tahun menganggur, utang menumpuk, dan ibunya sakit parah, ia menemukan sebuah aplikasi bernama Doa Digital yang menjanjikan “hubungan langsung dengan Tuhan” lengkap dengan centang biru dan notifikasi “Tuhan sedang mengetik...”.
Awalnya penuh harapan, Andi mulai mengirim doa setiap malam pukul 02.14 — meminta pekerjaan, biaya operasi ibunya, jodoh, hingga rezeki mendadak. Setiap pesan selalu terkirim dengan centang biru sempurna, tapi tidak pernah ada balasan. Centang biru itu perlahan menjadi simbol harapan sekaligus siksaan yang membuat Andi semakin bergantung.
Seiring waktu, doanya berubah menjadi negosiasi, janji, bahkan makian. Ketika ibunya meninggal karena tidak mampu menjalani operasi, Andi jatuh ke dalam jurang kemarahan dan keputusasaan. Ia mulai memaki Tuhan di aplikasi, minum minuman keras murahan, dan mengisolasi diri di kamar kos yang semakin pengap. Teman-temannya menjauh, dan hidupnya terasa seperti chat yang tak pernah dibalas.
Puncaknya terjadi pada suatu malam ketika Andi, dalam keadaan mabuk berat, mengetik pesan paling jujur seumur hidupnya: “Kalau Engkau memang ada, balaslah sekali saja. Satu kata pun. Jangan ghosting terus. Aku manusia, aku butuh kepastian.”
Untuk pertama kalinya, muncul notifikasi “Tuhan sedang mengetik...”. Setelah menunggu lama, balasan yang datang hanya sebuah kalimat singkat yang dingin: “Tuhan telah membaca pesanmu.”
Balasan itu menjadi titik balik. Andi menghapus aplikasi tersebut, belajar menerima bahwa Tuhan memang Maha Segalanya — termasuk Maha Ghosting. Ia tetap menjalankan ibadah, mencari nafkah, dan berbuat baik, tapi kini dengan iman yang lebih dewasa: tidak lagi mengharapkan balasan langsung, melainkan tetap percaya meski merasa ditinggalkan.
"Tuhan Yang Maha Ghosting" adalah cerita tentang perjalanan seorang manusia dari harapan naif menuju penerimaan pahit-manis, tentang doa yang tak terbalas, dan tentang bagaimana Tuhan mengajarkan iman bukan melalui keajaiban, melainkan melalui keheningan yang paling dalam.