BISA DIBACA JUGA DI
KARYAKARSA: KOMOREBI
INNOVEL: BININYACHRISEVANS
ahesa menghela napas lega, saat lampu tanda operasi sudah padam. Seorang dokter mengabarkan operasi tulang bapak sukses. Mahesa langsung mengucap syukur berkali-kali dan mengucapkan terima kasih pada dokter yang telah mengoperasi bapak.
Setelah dari ruang operasi, bapak kembali beristirahat di kamar rawat. Mahesa terus menatap wajah bapak yang masih terlelap karena obat bius. Hingga lamunan Mahesa buyar oleh dering telepon ponselnya, dari Raga.
“Iya, Ga. Sukses kok. Setelah bapak sadar, gue langsung ke kelab. Iya, hah? Siapa yang nyariin? Duh, sumpah, Ga, gue enggak ngapa-ngapain dia. Gue beneran cuma nganterin dia. Lo bisa tanya satpam malam yang liat gue buka tasnya. Oke, setelah bapak sadar, ya?”
Mahesa memandang nanar ponselnya. Raga baru saja memberitahu bahwa pelanggan wanita yang semalam mabuk berat mencari Mahesa. Sejauh Mahesa mengingat, dia sama sekali tidak melakukan hal aneh atau kurang ajar dengannya. Malah sebaliknya, wanita itu yang tanpa izin memeluk lengan Mahesa.
Mahesa kembali menoleh pada bapak yang mengerang. Orang tua itu tersenyum melihat putranya yang senantiasa menunggunya. Sungguh, bapak sangat bangga dan bersyukur memiliki Mahesa dalam hidupnya.
“Tadi temen kamu yang telepon?”
Mahesa mengangguk.
“Bapak udah mendingan kok. Kamu berangkat kerja aja. Enggak enak sama temen kamu yang udah bantuin nyari kerjaan.”
Mahesa mengangguk, lalu setelah memastikan semua keperluan bapak ada dalam jangkauan, Mahesa bergegas pamit pergi. Sepanjang perjalanan, dalam kepala Mahesa, terus berputar banyak pertanyaan tentang pelanggan wanita yang semalam diantarnya pulang. Dalam hati, Mahesa juga takut jika dituntut karena hal-hal yang tidak dia lakukan, apalagi Mahesa sama sekali tidak memiliki bukti.
“Beneran, Ga, gue enggak ngapa-ngapain mbaknya.”
Raga mengerutkan keningnya melihat kepanikan di wajah Mahesa.
“Iya, gue percaya. Orang kayak lo mah, mana berani macem-macem. Lurus kayak bambu pokoknya.”
“Sialan, lo! Beneran ini, gue enggak bohong.”
“Iya-iya, santai aja, Sa. Pak Rudi yang ditelepon tadi, trus katanya tuh mbak-mbak nyariin orang yang nganterin ke apartemen. Emang lo beneran nganterin dia sampai apartemennya?”
Mahesa mengangguk.
“Udah gue bilang, tinggalin aja di depan.”
“Ya, gue kasihan sama dia. Subuh gitu kan dingin, Ga.”
“Lha, kalau kayak gini? Apa lo enggak malahan kepikiran?” Raga menata satu per satu gelas ke mini bar. “Salah satu aturan di sini biar enggak kena masalah, jangan pernah ikut pelanggan pulang.”
Mahesa menghela napas, tahu akan terkena sial seperti ini, lebih baik kemarin dia menuruti ucapan Raga.
“Udah, sana siap-siap. Bentar lagi mau buka. Ntar gue temenin lo kalau tuh mbak-mbak dateng.”
“Thank’s, Ga,” ucap Mahesa, lalu menuju dapur untuk membantu keperluan pembukaan kelab.
***
Sudah hampir tengah malam, tapi Mahesa belum mendapatkan panggilan ke ruangan Pak Rudi. Sepertinya wanita yang kemarin Mahesa tolong mengurungkan niatnya. Mahesa sedikit lega mendapati pikirannya itu, tapi tidak di detik berikutnya. Saat ekor matanya menangkap sinyal dari Raga untuk mengikutinya.
“Halo, lo yang namanya Mahesa? Yang nganterin gue pulang, kan?”
Mahesa mengangguk mendengar pertanyaan Indira.
“Kalau begitu, kami keluar dulu, Mbak,” pamit Pak Rudi seraya melangkah keluar meninggalkan ruangannya. “Raga, ayo! Kamu juga keluar dari sini.”
“Tapi, Pak—”
Raga mengatupkan kembali bibirnya dan melirik sekilas Mahesa yang menatapnya nanar, tapi tidak punya pilihan lain selain mengangguk, mengiyakan permintaan Pak Rudi.
“Gue Indira.”
“Maaf, sebelumnya, Mbak. Saya bukannya bermaksud lancang, kurang ajar, dengan mengantar Mbak Indira pulang. Saya cuma—”
“Gue tahu. Gue ke sini bukan untuk urusan itu.” Indira bangkit dari duduknya, mengambil sebuah paper bag di sofa dan memberikannya pada Mahesa. “Udah di-laundry. Gue ke sini mau kembaliin jaket.”
Setitik rasa lega hadir di dada Mahesa mendengar kalimat Indira, tapi kemudian rasa lega itu kembali direnggut darinya, bersamaan dengan Indira menarik kembali paper bag dan mengatakan bahwa dirinya perlu bantuan Mahesa.
“Kalau saya bisa, pasti saya bantu, Mbak.”
“Lo pasti bisa, kok.”
“Katakan, Mbak.”
“Nikah sama gue.”
“Ya?”
“Nikah sama gue.”
“Maksudnya, Mbak?”
“Lo tahu siapa gue, kan?”
Mahesa mengangguk. “Mbak Indira?”
Indira menggeram gemas mendengar jawaban polos Mahesa. “Maksud gue, kerjaan gue. Lo tahu, kan?”
Mahesa menggeleng, membuat Indira melotot tak percaya. Indira mengambil ponsel di tasnya, lalu mengetik namanya sendiri di mesin pencari, kemudian menyodorkan ponselnya untuk Mahesa.
Mahesa membaca dengan saksama artikel di ponsel Indira. Ah, Indira ternyata seorang selebritis, lebih tepatnya model, yang sesekali menjadi kameo di film atau FTV.
“Di sini katanya Mbak Indira mau nikah. Terus kenapa malahan sekarang ngajak saya nikah? Memangnya calon suaminya Mbak, ke mana?”
Indira mengambil kembali ponselnya. Lalu duduk dengan menyilangkan kaki di sofa.
“Tunangan gue kabur.”
“Hah? Terus kenapa saya yang—Mbak kan artis, pasti media tahu—”
“Media enggak ada yang tahu siapa tunangan gue. Mereka tahunya gue mau nikah doang.”
“Kalau gitu, batalin saja, Mbak. Masih ada waktu, kan?”
“Kalau segampang itu, gue juga mau. Masalahnya, mau ditarok mana muka gue? Belum lagi bokap gue bisa kumat jantungnya.”
“Tapi kenapa saya, Mbak? Maksud saya, Mbak cantik, artis, pasti banyak yang mau gantiin posisi jadi tunangan Mbak, kan?”
“Justru saking banyaknya itu, gue jadi enggak percaya mereka beneran cinta sama gue atau enggak. Laki-laki yang dulunya bilang cinta aja, bisa ninggalin gue gitu aja, kok.”
“Maaf, Mbak. Tapi saya enggak berani.”
Mahesa tersenyum kecil, lalu berbalik hendak melangkah meninggalkan Indira saat wanita itu menawarkan sesuatu yang sangat dibutuhkan Mahesa saat ini.
“Berapa? Lo minta berapa buat jasa lo ini? Gue bakal bayar lo dengan harga tinggi.”
Mahesa menoleh. Dia tidak munafik, Mahesa sangat membutuhkan uang untuk kesembuhan bapak saat ini, meskipun kemarin dia sudah mendapatkan gaji dimuka untuk biaya operasi bapak. Namun, jika dia menerima tawaran Indira, bukankah itu berarti dia harus membohongi banyak orang, termasuk bapak? Lalu, apa Mahesa tega menggunakan uang yang ditawarkan Indira untuk membiayai pengobatan bapak nanti? Batin Mahesa berperang.
“Gue denger, lo minta gaji dimuka buat bayar pengobatan bapak lo?”
Mahesa mengangguk.
“Gue bisa bantu biaya pengobatan itu. Sampai sembuh, bahkan bapak lo bakalan dapet fasilitas kesehatan yang lebih baik. Gimana?”
“Tapi—”
“Tentu saja selain itu, lo juga dapet duit bulanan dari gue. Lo masih boleh kerja di sini buat ngelunasi gaji dimuka lo juga. Atau lo bisa kerja di kantor papa gue?”
“Kalau misal … ini misal ya, Mbak.”
Indira mengangguk, tapi dia tidak bisa menyembunyikan ekspresi dan senyum kemenangan yang sempat mampir di wajahnya. Indira mulai berhasil membujuk laki-laki di hadapannya ini.
“Katakanlah saya setuju. Lalu bagaimana dengan orang tua Mbak Indira. Meski media tidak tahu siapa tunangan Mbak, saya yakin orang tua Mbak adalah sebaliknya.”
“Lo tenang aja, tanggal nikahan masih dua minggu lagi. Selama itu, lo bisa kenalan sama keluarga gue, begitu juga sebaliknya. Kita sama-sama menyakinkan orang tua kita, kalau kita emang udah kenal lama.”
Mahesa terdiam mendengarkan tiap kata yang keluar dari bibir merah Indira. Melihat keterdiaman Mahesa, Indira semakin gemas. Sedikt takut jika bujukannya tidak berhasil. Indira sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa agar tetap menikah.
Pilihan membatalkan pernikahannya yang masih dua minggu lagi, memang sempat dia pikirkan. Namun, mengingat papa dan mama yang begitu menginginkan Indira segera berumah tangga—karena mantan tunangannya adalah tipe husband material banget—membuat Indira menyetujuinya.
Bermain kucing-kucingan dengan media selama lima tahun berpacaran dengan Adrian bukanlah hal yang menyenangkan. Papa, mama, dan Olive hanya bisa mengelus dada, melihat gaya berpacaran Indira yang lebih sering menghabiskan waktu di dalam apartemen bersama mantan tunangannya daripada pergi jalan-jalan. Bahkan Olive sampai tidak habis pikir, bagaimana Indira bisa tahan?
Dan saat rasa kasihan mereka memuncak, akhirnya mama menginginkan pernikahan Indira terjadi. Bagi Indira, dia tidak masalah untuk nanti-nanti saja menikah, toh, dia sedang meniti karirnya. Tapi tidak dengan mantan tunangannya yang langsung menyetujui usul mama. Namun, lihat kenyataannya, lelaki pengecut itu akhirnya pergi begitu saja meninggalkan Indira yang kebingungan.
Mahesa dan jaketnya yang tiba-tiba muncul di hadapannya, menjadi harapan Indira untuk tidak mengecewakan papa dan mama. Setidaknya untuk beberapa tahun pernikahan yang akan Indira dan Mahesa setujui.
***
“Lo masih waras, kan?”
Olive menyambar segelas air di hadapannya, menatap tak percaya pada Indira yang malah terlihat tak acuh.
“Lo pikir nikah itu gampang? Bohongan lagi!”
“Ya gimana lagi? Gampanglah, ntar gue tinggal kenalin Mahesa ke papa sama mama. Terus ntar Mahesa juga ngenalin gue ke bapaknya.”
“Wait! Mahesa? Mahesa yang mana ini?”
Indira mencebik. “Mahesa yang kemarin lo lihat pagi-pagi di sini.”
Olive menutup wajahnya dengan sebelah telapak tangannya, menggeleng tak percaya, lalu memijat pangkal hidungnya. Dia tidak mengerti dengan jalan pikiran Indira yang ingin menikahi pemuda yang baru saja dikenalnya. Bahkan pemuda itu kerja di kelab malam! Olive tidak bisa membayangkan berapa banyak konferensi pers yang harus dia jadwalkan untuk Indira, jika wanita yang kini asyik bermain ponselnya, benar-benar menjalankan rencananya.
“Gue tanya sama lo. Siapa nama lengkapnya Mahesa?”
Indira menatap Olive, lalu menggeleng.
“Rumahnya? Kerjanya selain di kelab? Keluarganya?”
Indira lagi-lagi menggeleng, sedangkan Olive langsung memijat pelipisnya.
“Bagus! Lo enggak tahu apa-apa tentang dia, tapi mau nikahin dia?”
“Siapa bilang gue enggak tahu apa-apa tentang dia?”
Kali ini Olive yang menatap penasaran pada Indira.
“Ini.” Indira mengangkat ponselnya ke depan wajah Olive. “Gue punya nomor teleponnya kok.”
“Dir—”
“Udah, lo tenang aja. Lo cukup urusin tentang gosip di media, kalau-kalau nama mantan sialan itu tiba-tiba nongol di artikel bareng gue.”
Olive menghela napas berat.
“Ayolah, Live. Kita udah berapa lama kenal sih? Bukannya lo manajer artis paling kece?”
“Dir, syuting FTV lo yang judulnya Kepentok Cinta Kang Cilok, udah kelar, kan? Ini kehidupan nyata, nikah kontrak, nikah bohongan, atau apapun itu namanya yang kemudian berakhir happy end, happily ever after, itu cuma ada di teve.”
Indira tergelak mendengar ucapan Olive. Sahabat sekaligus manajernya ini memang sangat sayang pada Indira. Bahkan Olive yang seumuran dengannya ini, menganggap Indira sebagai kakak perempuan yang tidak pernah Olive punya, begitu juga dengan Indira—karena mereka sama-sama anak tunggal. Indira tidak akan protes dengan kecemasan yang Olive tunjukkan saat ini, tidak ada yang salah.
“Memangnya apa sih yang bisa terjadi dalam sebuah pernikahan bohongan yang cuma bakal gue jalanin bareng Mahesa selama tiga tahun?”
“Hah?! Terus? Ntar setelah tiga tahun, kalian cerai?”
Indira mengangguk. “Mahesa setuju kok. Dan dia bilang, dia yang bakalan ambil peran tukang selingkuh.”
“Sinting kalian berdua!”
***