Forum Download app Gifts
14.54% Another World I Be Here / Chapter 8: Bar Baru & Rumah Baru

Read Another World I Be Here - Chapter 8 online

Chapter 8: Bar Baru & Rumah Baru

Hanya membutuhkan waktu satu hari dalam pembuatan bar yang di lantai duanya dijadikan tempat tinggal Sema. Kasuvi memaksa untuk membuat tiga kamar tambahan, Sema pun menerimanya karena ia juga tidak tahu kenapa Kasuvi memintanya.

Penduduk di sekitar dan yang lainnya membantu Sema untuk membeli bahan-bahan makanan. Lalu, pengantar barang mengantar minuman-minuman berupa alkohol dengan kadar yang rendah sehingga akan aman-aman saja.

Kini, Sema menjadi pemilik bar dan Kasuvi menjadi pelayan dengan lokasi bar ini berada di dekat pusat kota yang cukup ramai.

* * * * * *

Di pagi hari yang damai, Kasuvi terbangun di kamarnya sendiri dan ruangan sebelah kiri merupakan ruangan Sema. Kamarnya berada di paling pojok dari pada ketiga kamar yang lain.

Ia beranjak dari tempat tidurnya dengan semangat pagi yang menyertai, membuka gorden kamar lalu cahaya mentari pagi masuk melalui kaca jendela.

Kasuvi segera merapihkan kasurnya seraya bersenandung, menghadap ke depan lemari yang kayunya tertempeli dengan cermin lalu membenarkan posisi hiasan yang ada di rambut di sebelah kanan mau pun kiri.

Kasuvi tidak terbiasa dengan pakaian yang lain kecuali dengan pakaian yang ia gunakan sehari-hari. Maka dari itu, Kasuvi memakai celemek putih agar masih dapat disebut pelayan dan dapat membantu Sema meskipun sedikit.

   "Baiklah ... sempoa."

Sahut Kasuvi seraya bercermin, dengan segera ia pergi dari ruangannya dan pergi ke ruangan sebelah yang merupakan kamar Sema. Berdiri di depan pintu, ia mengetuknya tiga kali.

Tetapi, dari dalam tidak ada jawaban apapun, karena rasa penasaran yang memasuki pikirannya. Kasuvi memegang gagang pembuka pintu, tetapi tidak terkunci dan terbuka begitu saja.

Ia melihat kamar Sema yang masih terbilang berantakan apalagi kasur yang baru saja dipakai Sema untuk tidur. Ia segera kembali menutup ruangan Sema lalu pergi ke lantai bawah untuk melihat keadaan pemandian.

Tetapi dalam hati, Kasuvi berniat untuk tidur di kasur bekas Sema meskipun sebentar.

Pemandian di bar ini terletak di pojokan lorong di lantai satu yang ada di bagian samping kiri bar. Kasuvi pergi ke tempat tersebut lalu membuka pintu geser pemandian yang tidak terkunci.

   "Mandi di pagi hari emang maknyus."

Sahut Sema seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk putih yang ia pegang dengan kedua tangan.

Perhatian Kasuvi hanya tertuju pada tubuh bagian bawah Sema yang terdapat Excalibur miliknya. Untungnya, Sema sudah menutupi Excaliburnya dengan mengikat handuk putih yang lain di tubuh bagian bawah.

Entah kenapa ... Kasuvi terlihat kecewa akan suatu hal.

   "Apa yang kau lakukan di sini?"

Tanya Sema dengan kesal dan kedua alisnya yang berkedut-kedut, tetapi Kasuvi malah menunjukkan wajahnya yang manis seperti tidak ada salah apa pun.

   "Eh ... aku hanya ingin mengintipmu."

Ucap Kasuvi dengan wajahnya yang imut, Sema ingin sekali menampolnya karena Kasuvi mengeluarkan sedikit air liur dari mulutnya.

   "Setidaknya bohong sedikit!?"

Kesal Sema dengan sedikit mengeraskan suaranya, Kasuvi baru menyadarinya lalu ia memikirkan dalam-dalam apa yang dikatakan Sema dengan kedua mata yang tertutup dan kedua tangannya disilangkan di perut.

   "Ka-kalau begitu ... aku ingin melihat tubuhmu di pagi hari ini dari atas sampai bawah."

Kasuvi mengatakannya dengan pipi yang merah dan kedua tangannya memegang pipinya seperti malu-malu kucing. Sema semakin kesal dengan kelakuan dari Kasuvi.

   "Gak ada bedanya!?"

Kesal Sema dengan mengeraskan suaranya, napasnya mulai tersengal-sengal karena lelah meladeni guyonan dari Kasuvi. Ia meraih handuk yang ada di atas kepalanya lalu melemparkannya tepat ke wajah Kasuvi yang sedang tersenyum manis dengan kedua mata yang tertutup.

Karena Kasuvi merasakan bahaya dengan insting naganya, ia menahan handuk yang meluncur ke wajahnya dengan tangan kanan lalu melempar kembali handuk tersebut tepat ke wajah Sema dengan ditambah sedikit tenaga.

Handuk tersebut mengenai wajah Sema sampai-sampai ia sendiri yang terjatuh karena dorongan dari handuk tadi cukup kuat.

   "Sialan ... reflek macam apa itu ... "

Pikir Sema, Kasuvi yang menyadari tingkahnya segera masuk ke pemandian di ruangan berganti pakaian ini lalu membantu Sema untuk berdiri.

   "Kasuvi, bersiap-siaplah karena toko kita akan buka. Aku akan bersiap-siap dahulu di atas, sampai jumpa."

Ucap Sema seraya memberikan handuk yang menempel di wajahnya ke Kasuvi, ia pun segera pergi dari ruangan berganti pakaian pemandian ini dan berniat untuk memakai pakaiannya di kamarnya yang ada di lantai dua.

Suara dari pintu pemandian yang digeser pertanda Sema sudah pergi dari wilayah di sekitar pemandian.

Kasuvi hanya terdiam memandangi handuk putih yang tadinya sudah dipakai Sema untuk mengeringkan rambutnya. Perlahan-lahan namun pasti, Kasuvi berniat untuk mengendus handuk putih yang ia pegang dengan kedua tangannya.

*Sreek

Sema kembali lagi ke dalam ruangan berganti pakaian pemandian ini dengan kondisi seperti tadi dan mengambil kembali handuk tadi yang sudah siap diendus oleh Kasuvi.

   "Sepertinya tidak jadi setelah dipikir-pikir dulu."

Ucap Sema seraya menarik handuk putih yang ia pakai tadi dari genggaman kedua tangan Kasuvi yang pipinya sedikit memerah. Kasuvi menunjukkan ekspresi yang kecewa kepada Sema, namun ekspresi tersebut malah imut karena Kasuvi seperti ingin menangis dan mengembungkan pipinya.

   "Soutarou tidak adil ... "

   "Tidak adil di bagian mananya?"

   "Keadilan untuk berbagi handuk."

Ucap Kasuvi dengan ekspresi kesal dan pipi yang masih mengembung.

   "Tidak adil Ndasmu dan berbagi handuk itu menjijikan bego, kau tidak mau kan jika handukmu dipakai olehku mau pun sebaliknya."

Ucap Sema dengan kesal dan alis sebelah kanannya berkedut-kedut, Kasuvi malah menunjukkan ekspresi seperti malu-malu kucing dengan tangan kanan menutupi mulutnya.

   "Aku mau saja ... berbagi handuk dengan Soutarou."

   "Astaga ... kau ini kesurupan apa?"

* * * * * *

Bar milik Sema sudah buka, karena bar ini masih baru dan hanya dikenal oleh kalangan tertentu dan di daerah sekitarnya. Sema sebagai pemilik dan Kasuvi sebagai pelayan tetap bersemangat dalam pekerjaannya meskipun sepi pelanggan.

Ada banyak menu-menu makanan yang bisa dimasak oleh Sema, karena dia sudah terbiasa hidup sendiri di keluarganya. Keahlian dalam memasak dan bersih-bersih sudah tidak bisa dipungkiri lagi dengan bakat alaminya karena Jomblo ini tidak ada kerjaan lagi.

Sudah ada 31 pelanggan yang datang ke bar milik Sema, cuaca yang membuat sengatan dari panasnya sinar mentari membuat gerah tempat ini. Sema ingin sekali belajar sihir es, tetapi ia hanya memiliki kualitas mana yang rendah dan terbilang sedikit sekali.

Kasuvi terlihat baik-baik saja dengan panasnya hawa yang ada di dalam bar ini. Kasuvi tersenyum kecil ketika Sema menanyakan alasan Kasuvi tetap baik-baik saja.

   "Aku menggunakan sebuah sihir anti panas, makanya hawa tubuhku tetap setabil dan tidak ada keringat sedikit pun yang menetes."

   "Huh ... begitu ya, entah kenapa aku ingin merasakannya."

Ucap Sema seraya melepas celemek yang ia pakai lalu dilemparkannya ke atas kursi kayu. Entah kenapa, Kasuvi menunjukkan ekspresi yang bahagia namun membuat Sema merasakan hal yang tidak wajar darinya.

   "Ara ... Soutarou ingin merasakannya juga, boleh kok ... Jilatilah tubuhku ini."

   "Tunggu sebentar!? Bukankah kita membahas tentang suhu tubuh yang stabil, kenapa nyasar ke situ!?"

Kesal Sema dengan menunjukkan ekspresinya yang kecut, Kasuvi terlihat kecewa dengan pipinya yang mengembung meskipun menunjukkan wajah yang imut.

*Kringg

Seorang pria yang memiliki warna rambut putih datang, pria tersebut dikenali oleh Sema. Vallhein, itulah namanya.

   "Yo ... bagaimana pekerjaanmu? Lancar?"

Tanya Vallhein seraya menghampiri Sema lalu duduk di depan Sema yang merupakan tempat duduk bagi pelanggan yang ingin minum-minum.

   "Hahaha ... baru hari ini aku buka, tidak mungkin ada banyak sekali pelanggan yang datang."

Penampilannya seperti biasa, ia memakai jubah hitam dengan hoodie yang dalamnya berwarna merah dan tangan kanan zirah Iblisnya masih terlihat keren di mata Sema. Namun, di tangan kanan Vallhein saat ini ... ia membawa pedang dengan ukuran yang sedikit lebar.

Pedang itu pun ia simpan di atas meja sebelah kanan agar tidak terlalu menghalangi.

Vallhein memesan minuman yang berupa limun dingin, suasana yang sedikit panas ini bisa dikurangi dengan minuman asam dingin apalagi dengan limun yang kini sedang dibuat oleh Sema di dapur.

Setelah satu menit berlalu, Sema kembali ke ruangan depan lalu menyuguhkan limun dingin yang ia buat dan dituangkan ke dalam gelas kaca.

Vallhein segera meminumnya dalam empat tenggakan sampai habis, menyimpannya kembali di atas meja lalu menghembuskan napasnya berulang kali.

   "Ada apa? Apakah kau akan menjelajah kembali?"

   "Ya, ke suatu tempat yang dipenuhi dengan Goblin. Aku berniat untuk menghabisi para Goblin bersama Goblin Slayer yang seluruh tubuhnya dilengkapi dengan zirah besi."

Ia pun memerintahkan Kasuvi agar istirahat sejenak karena hanya ada Vallhein seorang sebagai pelanggan mereka.

Kasuvi memesan air bening terlebih dahulu kepada Sema lalu duduk di samping Vallhein. Mereka berdua saling berkenalan, memulai pembicaraan yang santai dan itu membuat Sema tenang untuk menyerahkan Kasuvi sebentar kepada Vallhein.

Ia kembali ke dapur untuk menuangkan air bening ke dalam gelas kaca, kembali ke ruangan depan untuk disuguhkan kepada Kasuvi yang terlihat senang ketika berbicara dengan Vallhein.

Sema menyadari buku yang diberikan Vallhein kepadanya, ia pun menanyakan apa fungsi buku itu kepada Vallhein.

   "Oh ... kau sudah membukanya ya, selamat ... kau mendapatkan kutukan."

Sahut Vallhein dengan wajahnya yang kalem dan tidak terjadi apa-apa, Sema pun menanggapinya dengan anggukan tapi tidak dipikir-pikir terlebih dahulu.

   "Oh ... begitu ya ... kutukan!?"

Panik Sema seraya menggebrak meja yang ada di depannya, Vallhein menanggapinya dengan kalem agar suasana di bar ini tidak makin suram.

   "Tenang saja, kutukan itu tidak ada bahayanya sama sekali, tetapi jika kau dapat menggunakan buku yang aku berikan ... niscaya kau akan mendapatkan suatu hal dan itu bisa saja jodohmu."

   "Serius?"

   "Tentu saja."

Sema dan Vallhein saling bertatap mata, karena menyadari tekad dari Vallhein dalam ucapannya yang bukanlah kebohongan belaka. Mereka berdua saling bersalaman dengan tangan kanan, Kasuvi yang duduk di samping Vallhein hanya minum air bening seraya memandangi dua pria Jomblo yang ada di hadapannya.

   "Vallhein, kita harus pergi."

Suara pria tua datang dari pedang yang dibawa oleh Vallhein.

   "Baiklah, kalau begitu ... aku harus pergi."

Vallhein beranjak dari tempat duduknya lalu meraih pedang miliknya dengan tangan kiri yang ia tempatkan di atas meja. Ia pun berterima kasih kepada Sema lalu berbalik badan kemudian melangkahkan kakinya untuk pergi dari bar ini.

   "Vallhein ... "

Panggil Sema ketika Vallhein sudah memegang gagang pintu keluar bar, ia berbalik badan lalu melihat wajah Sema yang sedikit panik.

   "Ada apa?"

   "Kau lupa bayar woi!"

Seru Sema yang ngegas, Vallhein memikirkannya sebentar lalu ia sadar bahwa ia belum bayar minuman yang tadi. Vallhein meminta maaf kepada Sema karena ia tidak bisa membayarnya dengan alasan tidak punya uang.

Sema menghela napas dengan wajahnya kalem, ia merogoh saku celana sebelah kanan lalu melempar satu koin emas kepada Vallhein menggunakan tangan kanan.

Vallhein menangkap koin emas itu dengan tangan kanan, ia menerimanya dengan senang hati atas pemberian uang dari Sema.

   "Aku harap kita dapat bertemu kembali."

   "Tentu, jika kita berdua masih hidup."

Mereka berdua saling bertatapan mata, senyuman kecil berupa perpisahan di antara mereka dijadikan tanda bahwa disaat ada pertemuan pastinya ada perpisahan.

   "Soutarou ... ada sebuah kasus mengenai perdagangan budak, pergilah ke wilayah timur yang ada di Archdale ini. Kau akan menemukan sesuatu yang menarik."

Vallhein pergi dari bar seraya mengucapkan hal tersebut, Sema hanya menanggapinya dengan anggukan kepala lalu memandangi pintu bar yang tertutup.

   "Wilayah timur Archdale ... aku akan pergi atas saran darimu, Vallhein."

To Be Continue


next chapter
Load failed, please RETRY

Privileged

More Privileged Chapters

Download the app and become a privileged reader today! Come take a sneak peek at our author's stockpiled chapters!

Download

Batch unlock chapters

Table of Contents

Display Options

Background

Font

Size

Chapter comments

Write a review Reading Status: C8
Fail to post. Please try again
  • Writing Quality
  • Stability of Updates
  • Story Development
  • Character Design
  • World Background

The total score 0.0

Review posted successfully! Read more reviews
Send Gifts
Gifted
Thank you for your generous gift.

Cost Coin to skip ad

You can get it from the following sources

  1. 1. Daily check-in
  2. 2. Invite friends invite now >
  3. 3. Vote for new stories Vote >
learn more >
Vote with Power Stone
Rank NO.-- Power Ranking
Stone -- Power Stone
Report inappropriate content
error Tip

Report abuse

Paragraph comments

login
Report inappropriate content
error Tip

Get More Coins

Please switch to the pop-up to complete the payment.

This's an experimental test for reading assistance in case.

We highly recommend you to enjoy the beauty of the original words.