Forum Download app Gifts
10.09% Doomsday Pillars (Indonesia) / Chapter 32: Jimat Matahari

Jimat Matahari - Doomsday Pillars (Indonesia) - Chapter 32 by Avan full book limited free

Chapter 32: Jimat Matahari

Kondisi kali ini akan lebih menguntungkan untuk Alex. Ia mengenali area ini lebih baik, Goa gelap dan lorong - lorong kecil akan membuat sulit untuk lawannya menggunakan senapan dan memudahkannya untuk bertarung jarak deakt.

Satu hal yang paling penting adalah Alex tidak perlu harus melindungi Aria, Cindy dan Professor John. Mereka telah masuk ke ruang rahasia yang tidak mudah untuk ditemukan, kalaupun ada yg berhasil masuk, Aria ada disana, Alex tidak perlu terlalu khawatir tentang mereka.

Kuil reruntuhan ini dipisahkan menjadi beberapa area; pertama, labirin sederhana yang berakhir di ruang pertama, yang kedua adalah lubang yang diciptakan oleh gempa bumi yang mengarah ke lorong sempit sepanjang 500 meter menuju ruang besar, dan terakhir, ruang rahasia.

Alex tidak berencana membiarkan mereka mencapai ke ruangan besar. Dia berencana untuk menyelesaikan semuanya di ruangan pertama. Mengahbisi mereka di ruangan ini mungkin bukan hal yang sulit, namun Alex perlu mengusahakan agar sebanyak mungkin dari mereka untuk hidup, Alex memiliki rencana untuk mereka.

Alex saat ini sedang menunggu musuh di ruangan pertama, kira - kira ruangan ini sebesar ukuran dua lapangan basket. Dia berdiri di dekat celah yang mengarah ke ruangan besar. Saati ini, Alex merasa tidak khawatir sama sekali, golem itu sendiri dapat dengan mudah mengalahkan mereka.

Tidak lama kemudian, Alex mendengar suara langkah kaki. Seperti yang diharapkan, mereka tidak akan menyerah begitu saja. Alex benar-benar mempertanyakan siapakah orang-orang ini.

Satu demi satu mereka berjalan ke ruangan pertama, Alex dan kelompok Nazi akhirnya kembali saling bertemu, tetapi belum ada dari mereka yang mengambil tindakan. Alex hanya menunggu dengan sabar sampai mereka semua masuk dalam ruangan.

Pertama, Alex melihat Robert, kemudian secara mengejutkan, pria dengan kemeja putih itu ada di sana, dan dia tampak tidak terluka. Ini menimbulkan kecurigaan pada Alex dan memberinya lebih banyak alasan untuk menangkap mereka.

Robert adalah yang pertama berbicara,

"Mr. Alex, saya sudah pernah ke reruntuhan ini berkali-kali sebelumnya, saya jamin tidak ada jalan keluar lain selain melewati lorong dibelakang saya ini, jangan mempersulit dirimu sendiri, kalian semua telah terjebak."

Pria dengan kemeja putih itu kemudian menambahkan,

"Mr. Alex, kami sangat tertarik dengan Anda, Serahkan semua barang Anda dan ikut dengan kami. Kami juga sangat tertarik dengan golem batu yang Anda miliki, dan juga pada artefak apa pun yang Anda temukan di reruntuhan ini."

"Maksudmu golem ini?"

Alex memanggil golem dan semua orang tiba-tiba menjadi tegang.

Lelaki berbaju putih sekarang akhirnya melihat golem itu dari dekat, dia tiba-tiba merasa terintimidasi oleh tubuh besarnya. Walaupun merasa tertekan olehnya, namun dia benar-benar tertarik untuk melihat artefak ini dan dia sangat menginginkannya.

"Serahkan golem itu dan aku akan membiarkanmu meninggalkan tempat ini."

"Bagaimana dengan yang lainnya?"

"Hanya kamu saja."

"No deal!"

Tiba-tiba golem itu berlari ke depan dengan sangat cepat menuju grup. Golem itu memiliki kecepatan Mortal Realm tingkat akhir, Dia bisa bergerak lebih cepat dari Alex.

"!!!"

Kelompok itu terkejut dan dengan cepat menembaki golem sambil melompat ke samping.

Ting! Ting! Ting!

Peluru hanya memantul dari tubuh golem itu. Peluru tidak efektif melawannya.

BAAAAMMMMM !!!!

Golem itu mendarat di tengah area dekat pintu masuk kamar pertama. Golem itu langsung menabrak Robert dan dia mati seketika ...

Alex paling membenci tipe pria bermuka dua sepertinya. Alex memerintahkan golem untuk menjadikannya sasaran pertama, menabraknya sementara mengamankan pintu masuk. Sekarang tidak ada satupun dari mereka yang bisa keluar dari reruntuhan ini.

Beberapa anggota kelompok yang menyaksikan adegan ini tiba tiba merasa putus asa ... kecepatan dan kekuatan monster ini jauh melebihi ekspetasi mereka

"Menyebar! Bidik pria itu! Bukan golem!"

Alex melompat mundur dan mundur melalui pintu masuk ke jalan menuju ruangan sebelah.

Pria kemeja putih mengirim setengah dari anak buahnya untuk menunda golem dan mengirim setengah lainnya untuk mengejar Alex.

Situasi di ruangan pertama menjadi tidak menguntungkan baginya. Dia tidak cukup bodoh untuk tinggal di ruangan pertama untuk dibantai oleh golem itu, dia dengan cepat mengikuti kelompok yang mengejar Alex.

Sebelum dia memasuki jalan turun, dia menyempatkan diri untuk menoleh ke belakang dan melihat beberapa anak buahnya yang dia pesan untuk bertahan sudah berjatuhan. Peluru tidak mampu untuk melakukan kerusakan terhadap golem.

Tetapi, ketika dia akan memasuki pintu masuk ke ruangan sebelah, dia kembali terkaget melihat seorang anggota yang lain sudah terkapar di tanah di depannya dan mengerang kesakitan, dia bergegas untuk masuk dan kembali melihat lebih banyak anak buahnya sudah terbaring di tanah. Tidak lama kemudian, dia merasakan sesuatu yang bergerak menuju ke arahnya.

SHHHH ...

Dia berkelit. benda yang terbang Itu adalah sebuah batu kerikil, dia melihat sekeliling dan melihat bahwa sebagian besar orang yang masuk sudah jatuh ke tanah. Alex mengambil batu batu kecil di lantai dan melemparkannya ke arah mereka. Alex kemudian bergegas maju untuk pertempuran jarak dekat.

Bila Alex berhasil mendekat, akan sulit bagi mereka untuk menggunakan senapan mereka. Dan ternyata hanya dalam waktu kurang dari 10 detik, semua 12 anak lawannya telah terbaring di tanah.

Sekarang hanya ada merka berdua di jalan sempit itu, lebih banyak batu dilemparkan kepadanya.

SHHH ... SHHH ...

Dia menghindari batu-batu itu lagi, tetapi ketika dia melihat kembali ke arah Alex, dia langsung berusaha untuk menembak dengan senjatanya... namun

BANG ...

sebuah pukulan kerjas menghantam badannya yang langsung membuatnya jatuh ke tanha... Dia mencoba untuk berdiri dan menatap sosok yang mendekatinya... dia mencoba untuk berpikir tentang apa yang baru saja terjadi ... Dia baru memyadari bahwa orang ini berlari kedalam lorong bukan untuk menyelamatkan diri namun dia sengaja memancing mereka. Hanya dalam beberapa detik saja, semua orangnya berhasil di kalahkan, dia tidak menyangka bahwa pria bernama Alex ini jugalah seorang monster. Dia tiba-tiba merasa menyesal dengan keputusannya untuk mengejar dengan terburu-buru ...

Perlahan Alex berjalan mendekatinya.

"Menarik ... Sepertinya kamu pun memiliki artefak pada dirimu ..."

Alex memeriksa pakaian pria itu dan menemukan sesuatu. Di bawah kemeja putihnya, ada artefak baju pelindung tingkat rendah.

Alex berusaha meningat jenis dari artefak ini pada kehidupan sebelumnya..

"Kalau tdk salah Artefak ini hanya bisa melidungimu dua kali sehari. Mari kita tes."

BAMM ...

Alex memukul kepalanya dan dia pingsan ... Sekarang semua musuh seharusnya sudah berhasil dikalahkan.

Alex mengumpulkan mereka semua dalam satu barisan. Golem ditugaskan untuk mengawasi mereka sementara Alex memanggil Aria dan yang lainnya untuk bergabung dengannya. Aria kembali heran bahwa Alex hanya butuh beberapa menit untuk menyelesaikan situasi.

Cindy berkata, "Haruskah aku menelepon polisi?"

Alex menjawab, "Ini bisa menjadi masalah internasional, serahkan saja ini padaku."

Kemudian dia menyuruh Aria untuk membawa profesor dan Cindy kembali ke kota. Dia juga mengatakan bahwa dia akan menyusul mereka nanti ... Aria merasakan bahwa Alex berusaha menyembunyikan sesuatu darinya, tetapi dia tetap mengikuti perintahnya.

Beberapa menit kemudian di dalam ruang pertama, ada 16 pria berbaris dan diikat. Sebagian besar pria yang menghadapi golem meninggal selama pertarungan. Perlahan, satu demi satu mereka semua bangun. Pria dengan kemeja putih terbangun terakhir dan melihat semua orangnya diikat di sebelahnya. Pria di depan mereka menatap mereka dengan tenang. Situasi ini sepertinya tidak akan berakhir baik untuk mereka.

"Bagus, sekarang semua orang sudah bangun. Aku butuh informasi. Dan aku hanya akan membebaskan orang yang menjawab pertanyaanku. Mudah, kan?"

Orang-orang itu menatapnya dengan pandangan menentang, tetapi Alex terus maju dan bertanya,

"Pertanyaan pertama, ceritakan tentang organisasi tempatmu bekerja?"

"PHHUIII ...."

Seorang pria di dekat Alex meludah ke tanah dan berkata,

"Kami tidak takut mati."

"Jawaban yang salah..." Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click <a href="https://www.webnovel.com/book/doomsday-pillars-(indonesia)_14156110505505805/jimat-matahari_39636312487165271">www.webnovel.com/book/doomsday-pillars-(indonesia)_14156110505505805/jimat-matahari_39636312487165271</a> for visiting.

Alex mengambil sesuatu dari cincin penyimpanannya ... Ini adalah artefak barunya, Jimat Matahari

Alex memasukkan setetes darahnya ke dalamnya, artifak itu sedikit mengeluarkan sinar. Setelah memasukkan setetes darahnya ke jimat, dia bisa merasakan energi jimat itu di dalam dirinya. Sama seperti golem, manusia dapat berinteraksi dengan artefak secara telepati, ia sekarang dapat memahami apa fungsi jimat. Jimat Matahari ini adalah salah satu artefak kelas menengah yang sangat unik.

Alex dapat merasakan bahwa jimat saat ini sendang dalam kondisi tersegel, dan untuk mengaktifkan jimat itu, ia membutuhkan sesuatu ... Rasa haus akan kehidupan ..

"Persis seperti yang aku dengar."

pikir Alex

Alex sudah tahu keberadaan jimat ini di kehidupan sebelumnya. Jimat ini dapat mengeluarkan energi cahaya dengan kondisi tertentu. Cahaya ini kemudian dapat diserap dan dikondensasi menjadi kristal yang dapat menyembuhkan penyakit apa pun atau menyembuhkan orang yang sekarat kembali ke kehidupan.

Alex berharap jimat ini akan menjadi solusi untuk menyelamatkan putrinya dari wabah akhir jaman. Tetapi ada satu persyaratan unik sebelum dapat diaktifkan, jimat membutuhkan pengorbanan nyawa manusia. Alex bisa merasakan keinginannya untuk menyerap korbannya. Sepetinya ini ada hubungannya dengan mengapa Aztec melakukan banyak pengorbanan manusia untuk menyembah Dewa Matahari mereka, Huitzilopochtli.

Alex kemudian mendekatkan jimat itu. Dia menempatkannya di dahi pria itu dan kemudian tiba-tiba, kilatan cahaya keluar dari jimat. Pria itu merasakan hidupnya disedot ke dalam jimat tersebut...

HHHmmmm ...

Pria itu bahkan tidak punya tenaga untuk berteriak. Tubuhnya menjadi kurus, wajahnya menjadi keriput, rambutnya memutih ... Semua ini terjadi dalam waktu kurang dari tiga detik.

Pria itu jatuh ke tanah.

GEDEBUK...

Mati...

"!!!"

15 orang lainnya yang melihat ini tiba tiba menjadi pucat ...

"Sekarang, siapa yang punya jawaban yang lebih baik?"


CREATORS' THOUGHTS
Avan Avan

mohon maaf kmrn sedak sibuk sekali sehingga bolong 1 chapter. Chapter yang ini sedikit lebih panjang dari biasanya..semoga suka

next chapter
Load failed, please RETRY

Gifts

Gift -- Gift Received

    Weekly Power Status

    Rank -- Power Ranking
    Stone -- Power Stone

    Batch unlock chapters

    Table of Contents

    Display Options

    Background

    Font

    Size

    Chapter comments

    Write a review Reading Status: C32
    Fail to post. Please try again
    • Writing Quality
    • Stability of Updates
    • Story Development
    • Character Design
    • World Background

    The total score 0.0

    Review posted successfully! Read more reviews

    Cost Coin to skip ad

    You can get it from the following sources

    1. 1. Daily check-in
    2. 2. Invite friends invite now >
    3. 3. Vote for new stories Vote >
    learn more >
    Vote with Power Stone
    Rank NO.-- Power Ranking
    Stone -- Power Stone
    Report inappropriate content
    error Tip

    Report abuse

    Paragraph comments

    login