Forum Download app Gifts
0.9% Light Soul : Saga Of The Heir / Chapter 1: Dia Yang Terluka

Read Light Soul : Saga Of The Heir - Chapter 1 online

Light Soul : Saga Of The Heir original

Light Soul : Saga Of The Heir

Author: FierceHoneyBadger

© Webnovel

Chapter 1: Dia Yang Terluka

Kasur rusak, lemari tua, meja kecil di sebelah ranjang dan sebatang lilin kecil di atas meja tersebut menjadi furnitur yang terpajang di kamar gelap itu– meski tak gelap sebab adanya lilin kecil sebagai penerang. Jendela pun tampak usang, penuh debu dan jaring laba-laba.

Di atas ranjang itu berbaring pemuda yang lemah tak berdaya. Kepalanya terbalut perban, sama halnya dengan dada kirinya. Mata kiri pemuda itu pun tak luput dari luka– meski telah kering, namun dia tak akan dapat menggunakannya dalam waktu yang lama. Bisa saja mata kirinya buta selamanya.

Kelopak mata kanan pemuda itu perlahan terbuka, sorot remang cahaya lilin adalah yang pertama menyambutnya. Lalu, hal kedua yang dia lihat ialah sebuah kursi renta dari kayu yang telah lapuk.

"Dimana ini?"

Pemuda itu bertanya-tanya, tak tahu dia ada dimana sekarang. Dia gerakkan lehernya agar mata kanannya dapat melihat ke sekeliling. Hanya pemandangan kamar yang gelap dan kelam.

"Semuanya gelap... tak terang... "

Pemuda itu membatin, perasaan tak nyaman mulai menjalar dalam hatinya. Sudah sewajarnya manusia takut akan gelap, bukan? Apalagi jika kau menemukan dirimu sendiri terbangun dalam kondisi terluka dan berbaring di kamar gelap yang asing bagimu.

"Kenapa aku bisa ada disini?"

Pintu berderik kala pemuda itu tengah bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Langkah kaki terdengar memasuki kamar dan mendekat ke arah sang pemuda.

Dengan mata kanannya pemuda itu pandanf ke arah suara langkah kaki itu terdengar. Rupanya, seorang gadis Priest yang memasuki kamar sang pemuda.

"Sudah bangun, ya? Aku senang melihatnya."

Si gadis duduk di atas kursi yang ada di sebelah ranjang. Dia melipat tangan di atas paha sambil menebar senyum pada sang pemuda. Manis, itulah yang pertama kali terlintas di benak sang pemuda. Kala dia pandang mata Priest itu, sepasang manik biru terang lah yang dia dapati. Rambut sang Priest berwarna pirang, panjang se tengkuk.

"Namaku, Alvia Axelia, salam kenal."

Senyumnya tidak luntur saat memperkenalkan diri. Bukankah dia manis? Dipadu dengan lesung pipi di sebelah kanan, wajah Priest bernama Alvia itu amatlah cantik.

"Dimana aku?"

"Kau sekarang ada di bilik perawatan Tuan Eire. Kami menemukanmu pingsan di hutan seminggu yang lalu. Beruntung kami berhasil menyelamatkanmu, sebab luka-lukamu itu sangatlah parah. Sang agung masih memberimu kesempatan kedua."

"Seminggu? Kalian menemukanku di hutan?"

"Iya, begitulah." Alvia sadar raut pemuda itu kebingungan, " Lalu, kalau boleh kutahu siapa namamu?"

Si pemuda mengerjap beberapa kali, tatapannya terpaku kepada Alvia yang bertanya. Hening untuk beberapa saat mengisi jeda percakapan diantara mereka. Pemuda itu berusaha keras mengingat siapa namanya, namun usaha itu akhirnya sia-sia.

"Aku tidak ingat, " jawab si pemuda lesu.

Diam yang canggung terjadi. Si pemuda terhenyap linglung sedang Alvia mengernyitkan dahinya.

Sesaat dalam senyap, Alvia pun kembali melontarkan tanya.

"Apa kau mengingat kejadian sebelum kau pingsan?"

Pemuda itu menggelengkan kepalanya pelan.

"Oh, begitu rupanya," tutur Alvia.

Gadis itu pun membuat senyum dan berdiri dari atas kursi. Dia menangkupkan tangan lantas memejam. Tiba-tiba, sebuah cahaya hijau berpendar dari tangkupan tangannya dan memunculkan sebuah lingkaran penuh simbol-simbol unik di dalamnya.

Lingkaran itu adalah Sigil.

"Healing Magic: Rapid Recovery."

Alvia menaruh tangannya di atas dada si pemuda. Dari dalam sigil Alvia lalu keluar sebuah aliran cahaya yang masuk ke dalam tubuh pemuda tersebut. Sensasi hangat nan nyaman dapat dirasakan olehnya, seakan-akan tubuhnya terbungkus selimut yang tebal.

"Apa ini?"

"Ini adalah sigil penyembuhanku. Tenang saja, nikmati sesi penyembuhan ini."

Jawab Alvia mengumbar senyumnya yang memikat. Ah, apakah terlalu banyak senyum yang dia lontarkan? Rasanya, tidak terlalu banyak.

Beberapa saat kemudian Alvia selesai melakukan penyembuhannya. Dia menarik tangannya dan spontan sigil miliknya pun tertutup.

Si pemuda masih terbius dalam sensasi hangat dari mantra penyembuhan Alvia. Dia terpesona, dia menegakkan badan dan melihat ke arah kedua tangannya.

"Woah... "

Si pemuda merasakan perubahan besar di tubuhnya. Sekarang, dia merasa jauh lebih baik dari sebelumnya. Tubuhnya tak terasa linu dan nyeri lagi, energinya pun serasa pulih kembali. Itu membuatnya agak sedikit bersemangat. Si pemuda memutar-mutar pergelangan tangannya dan tersenyum bahagia karenanya.

"Hebat, aku tidak merasakan sakit lagi."

"Terima kasih, aku turut bahagia melihatmu yang kembali sehat bugar seperti ini."

"Woah, nona Alvia. Kau baru saja melakukan hal yang mengagumkan barusan."

"Aku baru saja mempraktekkan sihir, tuan. Itu bukanlah hal yang spektakuler atau semacamnya. Semua orang di dunia punya kemampuan ini, tuan."

"Benarkah?"

"Iya, dan kau pun juga memilikinya."

"Woah... sihir, ya?"

Alvia melihat pemuda yang hilang ingatan itu seperti seorang anak kecil. Ini adalah sesuatu yang wajar tentunya mengingat sang pemuda kehilangan sebagian besar memorinya.

"Bagaimana kalau kita jalan-jalan keluar kamar?"

"Tentu, aku mau."

"Kalau begitu ikuti aku."

Alvia beranjak dari kamar diikuti oleh si pemuda yang tubuhnya masih terlilit kain perban. Ada sedikit bercak merah di bagian rusuk kiri bawah serta pelipis kiri dekat mata. Itulah luka yang menbuat mata kirinya buta untuk saat ini.

Saat hendak membuka pintu Alvia sadar akan sesuatu dan menoleh ke belakang. Si pemuda pun merasa kebingungan. Alvia berbalik dan sedikit mengumbar tawa kecil.

"Kau tidak memakai alas kaki?"

Pemuda itu melihat ke bawah. Benar saja, kakinya telanjang tanpa alas kaki. Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click <a href="https://www.webnovel.com/book/light-soul-saga-of-the-heir_17743596605654905/dia-yang-terluka_47630110181880564">www.webnovel.com/book/light-soul-saga-of-the-heir_17743596605654905/dia-yang-terluka_47630110181880564</a> for visiting.

"A-ah, maaf."

"Tidak apa-apa."

Alvia berjalan ke sisi ranjang, dia berjongkok dan merogoh ke kolong ranjang yang tertutupi kain sprei. Si pemuda hanya memperhatikan dengan wajah bingung. Akhirnya, Alvia mengambil sepasang sendal dari kolong ranjang. Dia segera memberikannya kepada pemuda tersebut.

"Ini, pakailah."

"O~oh, baiklah."

Pemuda itu dengan sigap memakai sandal yang Alvia berikan.

"Begini lebih baik," ujar Alvia. "Sekarang, ayo pergi."


next chapter
Load failed, please RETRY

Privileged

More Privileged Chapters

Download the app and become a privileged reader today! Come take a sneak peek at our author's stockpiled chapters!

Download

Batch unlock chapters

Table of Contents

Display Options

Background

Font

Size

Chapter comments

Write a review Reading Status: C1
Fail to post. Please try again
  • Writing Quality
  • Stability of Updates
  • Story Development
  • Character Design
  • World Background

The total score 0.0

Review posted successfully! Read more reviews
Send Gifts
Gifted
Thank you for your generous gift.

Cost Coin to skip ad

You can get it from the following sources

  1. 1. Daily check-in
  2. 2. Invite friends invite now >
  3. 3. Vote for new stories Vote >
learn more >
Vote with Power Stone
Rank NO.-- Power Ranking
Stone -- Power Stone
Report inappropriate content
error Tip

Report abuse

Paragraph comments

login
Report inappropriate content
error Tip

This's an experimental test for reading assistance in case.

We highly recommend you to enjoy the beauty of the original words.