Forum Download app Gifts
100% Love In Time Travel - God Of Egypt / Chapter 18: Kekuatan Besar Ussermaatre – Kilat Iblis

Read Love In Time Travel - God Of Egypt - Chapter 18 online

Chapter 18: Kekuatan Besar Ussermaatre – Kilat Iblis

Sang Raja bukan lagi seorang raja seperti biasanya, dua senjata miliknya; cambuk dan juga pedang. Sudah membentuk sebuah tombak dengan mata pisau berwarna merah, yang sangat besar dan tajam. Cahaya merah masih menyelimuti, tidak hanya senjata tersebut, bahkan seluruh tubuh dari Ussermaatre.

Tubuh Sang Raja sudah betransformasi, wujudnya masih menyerupai manusia tentu saja. Akan tetapi dengan ukuran yang lebih besar, dua kali dari sebelumnya. Baju jirah berwarna perak, sudah menutupi hampir semua bagian tubuhnya.

Tepat dikepalanya, tertutup sebuah tameng yang kokoh tampak seperti penutup kepala, yang menyerupai sosok Dewa Anubis yang tersohor. Ussermaatre menatap keji kearah para Mothura yang semakin mendekat, dengan jumlah yang banyak dan membentuk lingkaran.

"Bersiap-siaplah!" Cam sang Raja, dan ketegangan semakin meliputi diantara mereka semua. Ussermaatre melangkah maju, tapi masih dalam batas aman. Senjata tombaknya ia hentakkan diatas tanah, kilatan cahaya berwarna putih keluar seketika dari dalam tanah. Seakan-akan sudah lama bersembunyi dari balik tanah tandus dan kering, dan semakin lama kilatan cahaya itu terlihat semakin banyak.

Bagaikan melihat petir yang muncul dari dalam tanah, dan bukan dari langit. Anehnya langit hari itu tiba-tiba dipenuhi oleh awan gelap, keadaan menjadi mencekam karena matahari tiba-tiba saja menghilang.

"Munthy! Buat perlindungan untuk kita! SEKARANG!" Suara Seqenenre menggelegar, bersamaan dengan guntur yang terdengar nyaring, hingga memekakkan telinga yang mendengarnya.

"Kau tidak akan bisa melakukan ini sendiri! Lukamu sudah cukup parah, dan kau sudah kehabisan ternaga!" Ucap Seqenenre khawatir dengan kondisi putrinya. "Tapi ayahpun juga tidak bisa melakukannya. Aku bisa mengatasinya ayah, kumohon... Percayalah." Munthy menatap dengan perasaan yakin.

Seqenenre menarik napasnya dengan panjang, dan ia pun mengangkat kedua tangannya yang merentang lurus kearah sampingnya. "Aku akan membuat mereka mundur untuk beberapa saat, kau bisa melakukan yang perlu kau lakukan saat ini, Yang Mulia Raja!" Ucap Seqenenre, dan sinar putih sudah berada dikedua telapak tangannya.

Sinar putih terurai panjang dari kedua tangan Seqenenre, lama kelamaan kedua sinar itu semakin memanjang, dan menyilang satu sama lain dan tampak menari lincah diudara. Kondisi menjadi gelap gulita, dan Mothura muncul lebih banyak. Bukan hanya puluhan, mungkin saja ratusan. Karena makhluk mengerikan itu sudah mengelilingi, ketiga mangsa yang tampak menggiurkan dan lezat.

Munthy sudah bersimpuh diatas tanah tidak jauh dari tempat dimana ayahnya dan Sang Raja berdiri, ia sedang merapalkan sebuah mantra perlindungan. Munthy bisa merasakan tanah yang ia pijak bergetar dengan kuat, menandakan kekuatan sang raja mulai membesar dan berbahaya.

Munthy mengusap kedua tangannya secara perlahan, dan kepulan asap berwarna biru segera saja muncul diantara kedua telapak tangannya. Semakin lama semakin membesar, dan sebelum Munthy tidak bisa mengendalikannya. Segera saja ia meletakkan kedua tapak tangannya, pada permukaan tanah yang masih bergetar.

Ussermaatre mengambil tombak yang menancap kuat pada permukaan tanah, dan itu ia lakukan berkali-kali pada beberapa titik. Setiap kali ia melepaskan tancapannya, saat itu juga kilatan cahaya putih muncul dari tanah. Bersamaan dengan itu gemuruh petir terdengar jelas, dan awan hitam sudah penuh mengelilingi langit biru yang seharusnya cerah.

Seqenenre masih terus membuat pertahanan, pada setiap Mothura yang ingin mendekat kearah mereka. Terus saja ia menggiring makhluk tersebut, agar bisa menjauh dari putrinya dan Sang Raja.

Seperti ketika ada salah satu Mothura yang hampir saja terlalu dekat dengan putrinya. Kilatan cahaya putih itu sudah melilit tubuh Mothura, kemudian melempar kearah Mothura lainnya yang berada dibelakang. Saat itu juga sinar putih yang ikut terseret bersama dengan makhluk tersebut, memperlihatkan didepan sana masih banyak Mothura yang terus saja berdatangan.

"Sial...! Yang Mulia Raja!" Ucap Seqenenre menatap kearah Ussermaatre, yang menusuk beberapa Mothura yang mendekat kearahnya sendiri.

"Jumlah mereka semakin banyak! Dan kita bisa saja kalah!" Seru Seqenenre. Dan ia kembali melilit dua Mothura, yang kemudian ia hantamkan pada Mothura lainnya yang berada pada barisan belakang.

Munthy sudah hampir selesai merapalkan mantra perlindungan, kepulan asap berwarna biru yang tadinya hanya segenggam tangan. Sudah menjadi besar, seperti sebuah gelembung udara yang mengembang. Warna biru yang terang, membuat penerangan dan memperlihatkan kondisi sekitar mereka yang masih mencekam.

"Bertahanlah! Hanya tinggal sedikit lagi, sampai Munthy sudah membuat perlindungan untuk kita." Ucap Ussermaatre, ia sedang melompat tinggi kearah belakang Seqenenre. Tombaknya sudah berhasil menancap permukaan tanah, dan tentunya kilatan cahaya putih itu kembali muncul dari dalam tanah yang masih bergetar kuat.

Munthy bangkit perlahan dengan kedua tangannya yang juga sudah ia angkat dan rentangkan, ia seperti sedang menjaga keseimbangan gelembung biru yang semakin besar. Dan mengurung Ussermaatre dan juga Seqenenre yang berada didalamnya.

Seqenenre sebelum benar-benar tertutup dengan lapisan gelembung biru, ia sudah berhasil membuat salah satu Mothura bergerak mundur, dan menghantam teman-temannya. Sang Raja pun sudah berada ditengah-tengah antara mereka.

"BERSIAPLAH!" Teriak Sang Raja kemudian dia menancapkan tombaknya dengan kuat.

Kilau cahaya masih terus saja menari-nari diantara mereka, awan gelap masih terus berada diatas mereka, bahkan Mothura pun mulai melayang cepat dan mendekat kearah gelembung biru tersebut. "Munthy!! Apa kau tidak apa-apa?" Tanya Seqenenre yang khawatir.

"Seqenenre...! Tetap pada pertahanan!" Sang Raja mengingatkannya.

Munthy tidak menjawab apapun, dia masih harus membuat gelembung biru bertahan kuat, dan agar tidak bisa ditembus dengan mudah. Akhirnya Seqenenre memalingkan wajahnya, dan lagi dia sudah memasang kuda-kudanya.

Energi yang besar timbul dari tubuh Seqenere, rambut panjangnya yang tersibak melayang ke berbagai arah. Erangan kuat keluar dari mulutnya, dan dia membuat putaran dengan kedua tangannya yang berada diatas kepalanya.

Sinar putih terang muncul setelah Seqenenre merapalkan sebuah mantra, tampak seperti sebuah pusaran angin yang semakin membesar dan mencoba membelah langit malam.

"Aaarrgghhh....." Erang Seqenenre ketika dia lebih mengeluarkan tenaga dalamnya.

Ussermaatre mengatupkan kedua tangannya, membentuk segitiga. Dengan tombaknya yang sudah berubah warna mengeluarkan kilau cahaya merah yang besar. Hawa panas sudah dirasakan baik oleh Munthy ataupun Seqenenre.

Berbeda dengan Ussermaatre tubuh Sang Raja terangkat sedikit, dan ia mulai menunjukkan kemampuan besarnya yang sebenarnya juga berbahaya untuk dirinya sendiri.

Ussermaatre ikut merentangkan kedua tangannya lurus, menghadap langit gelap yang terpecah, Kilatan cahaya putih yang muncul dari tanah, dan sedang menari-nari disekitar mereka. Seakaan-akan terpanggil, dan mengikuti kearah langit gelap yang terbelah.

Tidak lama muncul sesuatu yang lebih menyilaukan, cahaya emas yang keluar dari permukaan langit gelap yang pecah akan kekuatan Seqenenre. Tampak seperti petir, dan tidak hanya satu sumber, tapi banyaknya titik petir emas yang terus bermunculan di langit gelap.

Kilatan cahaya putih merentang lurus mengikuti petir emas, yang memanggil dan membuat ikatan. Dan saat ini hampir seperti melihat sinar laser, dengan jumlah banyak dan mulai menegang.

"RASAKAN KALIAN MAKHLUK TERKUTUK!" Seru Ussermaatre, kedua tangannya yang berada diatas kepalanya, sudah ia gerakkan dan menghadap kearah para Mothura.

Kilatan cahaya putih dan petir emas sudah menyatu, membetuk tali yang merentang dari permukaan tanah hingga ujung langit. Mereka bisa bergerak sesuai dengan arahan pemilik yang memanggilnya, dan tentu saja tidak memandang bulu, dengan siapa KILAT IBLIS itu akan membunuh mangsanya.

Kalau bukan karena gelembung biru yang dibuat dengan mantra pertahanan, mungkin mereka bertiga sudah dengan rela memberikan nyawa mereka pada Kilat Iblis.

Kilat Iblis itu sesekali membentuk sosok iblis dengan dua tanduk yang sangat menyeramkan, dihadapan para Mothura, Kilat Iblis tidak tampak takut. Raungan yang seram dan menggema, muncul sebelum mereka melahap para Mothura dengan satu kali terkaman.

Bahkan kumpulan Mohtura yang banyak, dengan mudah dikalahkan dengan satu kali sayatan yang langsung membelah tubuh mereka menjadi dua bagian. Sampai akhirnya para Mothura menghilang, dan kembali menjadi butiran debu hitam yang memudar di udara.


CREATORS' THOUGHTS
Sita_eh Sita_eh

halo semua...dukung Author selalu ya...

comment, rate, dan reviewnya...

terimakasih

salam LITT^_^

next chapter
Load failed, please RETRY

New chapter is coming soon Write a review

Privileged

More Privileged Chapters

Download the app and become a privileged reader today! Come take a sneak peek at our author's stockpiled chapters!

Download

Weekly Power Status

Rank -- Power Ranking
Stone -- Power Stone

Batch unlock chapters

Table of Contents

Display Options

Background

Font

Size

Chapter comments

Write a review Reading Status: C18
Fail to post. Please try again
  • Writing Quality
  • Stability of Updates
  • Story Development
  • Character Design
  • World Background

The total score 0.0

Review posted successfully! Read more reviews
Send Gifts
Gifted
Thank you for your generous gift.

Cost Coin to skip ad

You can get it from the following sources

  1. 1. Daily check-in
  2. 2. Invite friends invite now >
  3. 3. Vote for new stories Vote >
learn more >
Vote with Power Stone
Rank NO.-- Power Ranking
Stone -- Power Stone
Report inappropriate content
error Tip

Report abuse

Paragraph comments

login
Report inappropriate content
error Tip

Get More Coins

Please switch to the pop-up to complete the payment.

This's an experimental test for reading assistance in case.

We highly recommend you to enjoy the beauty of the original words.