Forum Download app Gifts
10.39% Not a Cinder-Ella / Chapter 57: Lamaran

Read Not a Cinder-Ella - Chapter 57 online

Chapter 57: Lamaran

"Perhatian.. SEMUA..."

Teriakan Nancy langsung membuat semua orang yang berada di ruang rias melihatnya.

"Perkenalkan ini Ella, teman baru kalian. Dan Ella, selamat datang. Kuharap kalian tidak saling mencakar OK." Nancy tertawa lebar pada saat mengatakan lelucon yang tidak ada satupun yang ikut tertawa.

Ella telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan Nancy, sebagai pemula dia sudah banyak belajar dari para teman barunya. Lucy dan Liu, merupakan seniornya. Dan ternyata mereka menyambut ramah kedatangan Ella.

Hari demi hari, minggu demi minggu pun berlalu. Dan Ella banyak belajar dengan pekerjaan barunya. Nancy masih saja sering meneriaki Ella. Memberitahunya bagaimana dia melangkah, berjalan kecil dan cepat. Bagaimana dia harus melihat dan menoleh. Dan masih banyak lagi.

Sedangkan Calvin sudah disibukkan kembali dengan kegiatan rutinnya mengurus usahanya, dan Alfred bahkan sudah kembali bertugas di London. Dan intensitas pertemuannya dengan Ella semakin sering dilakukan.

Alfred tentunya memberikan perhatian dan dukungan pada pekerjaan baru Ella. Ella sendiri menjadi semakin yakin dengan perasaan Alfred pada dirinya.

Hingga Minggu siang itu, di hari liburnya setelah satu bulan penuh dengan jadwal pemotretan dan tur dari Agensi Nancy. Ella dapat bersantai meluangkan waktu bersama Alfred, di salah satu restoran Asia yang menyajikan chinese food yang cukup terkenal di kota London.

"Kau terlihat semakin kurus Ella." Ucap Alfred memperhatikan tulang leher Ella yang semakin menonjol.

"Nancy bilang, aku harus menurunkan berat badanku sebanyak tiga kilo. Sebulan kemarin aku melakukan diet ketat." Jelas Ella dan mulai memakan mienya dengan lahap.

"Ella.." Alfred memegangi tangan Ella dengan erat, membuatnya mendongak menatap wajah Alfred dengan serius. "mmm..?"

"Ella, kau tidak perlu bersusah payah untuk bekerja sebagai model. Kau bisa bekerja di tempat lain, aku bisa membantumu.."

"Alfred, kau tidak perlu khawatir padaku. Dan tenang aku baik-baik saja, Apa yang kau bawa?" Ella mencoba mengalihkan perhatian dan menunjuk pada tumpukan buku yang diletakkan di sudut meja makan mereka.

Alfred baru saja mau mengambil buku-buku miliknya, tapi Ella sudah lebih dulu mengambil semua tumpukan tersebut. Bukan buku-buku yang dikhawatirkan oleh Alfred, tapi ada hal lain yang ia tidak ingin Ella melihatnya.

"Lihat, siapa yang tidak pernah berhenti bekerja? Bahkan kau masih membaca semua buku kedokteran ini. Dan ini.." Ella terhenti dari ucapannya, karena ada hal lain yang langsung membuatnya membisu.

Sebuah undangan menjadi perhatiannya, undangan yang berkesan elegan dan mewah dengan sampul beludru merah yang tebal.

Tinta emas tertera di bagian tengah undangan, dan tertera sepasang nama yang Ella sangat kenal. Yaitu nama dari Edward Huxley dan Abigail Smith.

Alfred dengan cepat mengambil undangan tersebut dari tangan Ella, dan Ella mulai menunjukkan sikap canggungnya.

"Maafkan aku Ella, seharusnya aku buang saja saat aku menerima undangan ini."

"Kau akan datang?" Tanya Ella tiba-tiba, Alfred memandanginya dengan tatapan bingung.

"Aku rasa tidak perlu..."

"Aku akan datang bersamamu, Boleh?" Pernyataan Ella langsung membuat Alfres terdiam dan terheran.

"Ella, Apa yang sedang kau pikirkan?? Dan kenapa kau ingin datang. Lagi pula ini hanya akan membuatmu..."

"Alfred, kumohon aku akan baik-baik saja. Tapi kalau kau tidak mau akupun tidak akan memaksamu" Ella menunjukkan wajah sedihnya.

"Baiklah, tapi aku tidak ingin kau justru semakin sedih pada saat disana."

"Alfred, aku dan Edward sudah tidak memiliki perasaan seperti dulu. Karena itu aku harus memastikannya." Ella berusaha meyakinkan. Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click <a href="https://www.webnovel.com/book/not-a-cinder-ella_13184655005990605/lamaran_37708781899007840">www.webnovel.com/book/not-a-cinder-ella_13184655005990605/lamaran_37708781899007840</a> for visiting.

Alfred menghela nafasnya, dan menunjukkan rasa kesalnya. Ella memperhatikan Alfred yang sedang mencari-cari sesuatu dalam saku jasnya. Ella mencoba mengintip apa yang Alfred sedang genggam dalam tangannya.

Alfred bangkit dari duduknya, dan Ella masih terus memperhatikan pria tersebut. Mata Alfred saat ini tampak berbinar-binar menatap wajah Ella.

"Alfred..?" Tanya Ella.

Tidak sampai disitu, Alfred melangkahkan kakinya dan kali ini ia berada di samping Ella yang masih duduk di kursinya. Alfred langsung saja berlutut dihadapan Ella, sebuah senyum manis terhias di wajahnya.

"Alfred, apa yang sedang kau lakukan? Kau membuat kita menjadi pusat perhatian." Ella lebih menggarangkan wajahnya dan semakin bingung, karena Alfred masih belum mau berdiri.

Tapi Alfred masih saja terus tersenyum dan berdeham kecil sebelum ia menjawab pertanyaan Ella.

"Ella, Apa kau tau selama ini, aku selalu berusaha untuk terus berada di sampingmu. Aku berharap bisa menjadi seseorang yang berharga di hatimu." Alfred semakin melebarkan senyumnya, dan kali ini ia menyodorkan tangan yang tadi ia genggam dengan erat.

"Apa maksudmu Alfred?" Tanya Ella sambil sedikit menahan nafasnya, karena dia melihat sebuah kotak kecil berwarna hitam. Alfred pun membuka kota kecil tersebut, dan Ella langsung tidak percaya dengan apa yang ia lihat.

Sebuah cincin tersemat dalam kotak tersebut. Alfred masih saja terus berlutut, dan semakin memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Tangannya yang satu lagi memegangi tangan kanan Ella.

"Ella, Ella amber. Apakah kau mau menerima lamaranku? Apakah kau bersedia menjadi pendamping hidupku, baik suka ataupun sedih." Tanya Alfred berusaha bersikap romantis dengan sebuah senyuman yang memperlihatkan rasa sayangnya pada Ella.

***

Entah apa yang membuat Ela menerima lamaran Alfred, bahkan ia saat ini berpikir bahwa ia terlalu muda untuk menikah. Tapi mengapa ia merasa yakin Alfred adalah pria yang baik dan dapat menjadi pendampig hidupnya. Ella berharap ia tidak menyesali keputusannya.

Ella masih menatap cincin di jari tengahnya, sebuah permata biru terhias di bagian tengah cincin yang sudah melingkar di jarinya. Ella menghela nafasnya, karena terpikir dengan perkataan Alfred. Ia pun kembali tersenyum memandangi cincin yang sudah tersemat di jarinya.

Malam itu Ella tidur dengan nyenyak, sebut saja ia terlalu bodoh ataupun terbuai malam itu. Karena ia merasa seperti seorang putri yang sudah menemukan pangerannya. Walaupun tanpa ia sadari, semua ini hanyalah sebuah permulaan petualangan cintanya.

***

"Pagi Lucy.. Hai Liu.." Sapa Ella dengan riang, ia sudah dengan cepat berjalan di ruang ganti. Lucy dan Liu memandang dengan curiga, sapaan Ella yang terlalu ramah.

"Hmmm... Ella ada apa denganmu?" Lucy terhenti dari kegiatan dandannya, sedangkan Liu memicingkan matanya yang kecil dan sekarang ia terlihat seperti sedang tertidur.

"Anak baru ini terlalu banyak tingkah." Sindir Liu, dan mulai kembali ke cerminnya merapikan alisnya yang terlalu tebal.

"Dimana Nancy?" Tanya Ella, dan Lucy langsung saja menatap ke arah Liu. Dan Liu pun menggeleng dengan perlahan. "Ada apa?" Tanya Ella lagi.

Belum pertanyaan Ella terjawab, pintu ruang ganti mereka terbuka dengan lebar dan kasar. Seorang wanita yang Ella kenal, menatap sinis padanya. Tangannya sudah menunjuk ke arah Ella, sebelum mulut wanita itu bersuara dan meneriaki Ella.

"Jadi KAU!!!" Ucap Miranda dengan kesal.

Lucy langsung saja berdiri tegak dan bertolak pinggang, Dan tidak lama Nancy sudah muncul dari balik punggung Miranda.

"Miranda kau sudah tidak ada urusan lagi disini!!" Lucy dengan lantang meneriaki Miranda.

"Miranda kuperingatkan kau sekali lagi!! Atau aku akan segera memanggil keamanan untuk menyeretmu keluar!!" Nancy mulai mengancam.

"Nancy, kau memecatku hanya karena DIA!!" Tujuk Miranda ke arah Ella. Dan Ella masih saja bersabar dengan tunjukkan tersebut.

"MIRANDA!! Aku memecatmu karena, sudah banyak kerugian yang kau timbulkan akibat ulahmu sendiri!! DAN Ella tidak ada hubungan apapun dengan kondisimu saat ini!!" Ucap Nancy kesal.

"Kau sendiri yang menempatkan dirimu dalam masalah, kalau saja kau tidak banyak membuat masalah di agensi ini. Aku akan terus mempertahankamu Miranda." Nancy mengucapkan lebih nyaring lagi.

Miranda berjalan menubruk Lucy dengan keras yang memandanginya dengan amat kesal. Mata Miranda bertatapan langsung dengan Ella. Kedua mata itu saling menatap tanpa berkedip.

"Aku kenal kau!! Ya... kau adalah gadis di toko buku tersebut. Ella... Ella bukan namamu. Ron selalu saja menyebutmu. Dan apa sekarang kau puas Ella?? setelah Ron bahkan kau mengambil pekerjaanku." Ucap Miranda.

"Haa?? Apa kau sudah sinting!! Aku tidak mengambil Ron ataupun pekerjaanmu!" Jawab Ella dengan tegas. Seorang petugas keamanan sudah muncul, dan langsung saja memegangi lengan Miranda. Mencoba memaksa Miranda untuk ikut dengannya.

"LEPASKAN!!! Aku bisa keluar sendiri!!"

"Dan Kau Nancy!! Aku akan menuntutmu. Lihat saja NANTI!!" Ancam Miranda dan dengan kesal akhirnya ia pun keluar dari ruang ganti tersebut.

Mereka semua pun bisa bernafas dengan lega, melihat Miranda sudah pergi dan tidak berada dalam ruangan tersebut. "Ella.." Ucap Nancy, "Ya..?"

"Temui aku diruanganku, dan kalian (Nancy menunjuk ke arah semua modelnya) berganti pakaianlah. Terus latihan, INGAT Pagelaranku harus terlihat sempurna, jangan sampai gaunku terinjak oleh hak kalian." Ucap Nancy.

Ella mengikuti Nancy yang sudah berjalan cepat didepannya, ruang kerja milik Nancy tidak seperti ruang kerja pada umumnya.

Ruangan itu sangan luas dan hanya ada dua meja panjang berukurang sedang ditambah sebuah kursi kerja, sofa panjang berwarna hitam yang berbentuk L diletakkan disudut ruangan.

Ruangan kerja yang luas tersebut, dipenuhi dengan rancangan baju yang menempel dibanyak patung manekin. Rancangan baju yang masih terlihat mentah dan belum disempurnakan oleh Nancy.

Nancy juga meletakkan rak buku besar, yang berada bersebelahan dengan sofa L tersebut.

"Duduklah Ella." Perintah Nancy dengan sopan.

"Kau tau apa yang membuatku menendang Miranda keluar dari agensiku?" Tanya Nancy sambil mengambil gelas yang berisikan cairang berwarna kuning cerah. Ella menggeleng menjawab pertanyaan Nancy.

"Anak itu memiliki bakat yang bagus, tapi tidak dengan tingkah lakunya. Terlalu dominan dan egois, pemabuk, dan selalu berkelahi dengan teman-teman modelnya. Ditambah lagi pada saat ia putus dengan kekasihnya Ronald Mateo, anak itu semakin liar dan susah diatur." Nancy menunjukkan ekspresi jijik bercampur kesal.

"Ohh.. maaf Ella, kau menjadi mendengar keluhanku, Sudah hampir dua jam aku berdebat dengannya di ruangan ini. Entah mengapa, aku seperti merasakan kehadirannya masih ada disini." Nancy bergidik seraya bangkit dari duduknya.

Ella memperhatikan Nancy yang mengarah ke meja kerjanya, dan sedang mencari-cari sesuatu. "Ahh ini dia." Ucap Nancy memegangi sebuah kartu nama.

"Ini janjiku padamu Ella." Nancy memberikan kartu nama tersebut pada Ella. Ella memperhatikan sebuah nama, tertera nama Sarah Jhonson. Tapi anehnya tidak ada no telpon yang tertera, hanya sebuah nama dan alamat email.

Ella bahkan membalikkan karu nama yang ia pegang, berharap ia bisa menemukan nomor Sarah. "Tidak ada nomor telpon?" Ucap Ella bingung.

"Kau hanya bisa menghubunginya lewat email." Jawab Nancy.

"Apa kau yakin, alamat email ini masih aktif?" Tanya Ella, dan Nancy mengangguk cepat, "Kapan kau terakhir kali menghubunginya?" Tanya Ella lagi.

"Mmm.. sepertinya tujuh bulan lalu. Aku mengiriminya email, mencoba mengajaknya bekerja sama. Dan dia menolak." Ucap Nancy dengan yakin dan pasti. Ella pun kembali mengamati kartu nama tersebut, masih berpikir apakah ini akan berhasil.


next chapter
Load failed, please RETRY

Privileged

More Privileged Chapters

Download the app and become a privileged reader today! Come take a sneak peek at our author's stockpiled chapters!

Download

Gifts

Gift -- Gift Received

Batch unlock chapters

Table of Contents

Display Options

Background

Font

Size

Chapter comments

Write a review Reading Status: C57
Fail to post. Please try again
  • Writing Quality
  • Stability of Updates
  • Story Development
  • Character Design
  • World Background

The total score 0.0

Review posted successfully! Read more reviews
Send Gifts
Gifted
Thank you for your generous gift.

Cost Coin to skip ad

You can get it from the following sources

  1. 1. Daily check-in
  2. 2. Invite friends invite now >
  3. 3. Vote for new stories Vote >
learn more >
Vote with Power Stone
Rank NO.-- Power Ranking
Stone -- Power Stone
Report inappropriate content
error Tip

Report abuse

Paragraph comments

login
Report inappropriate content
error Tip

This's an experimental test for reading assistance in case.

We highly recommend you to enjoy the beauty of the original words.