Forum Download app Gifts
25% Tiga Cinta Wanita Biasa / Chapter 3: BAB 3

BAB 3 - Tiga Cinta Wanita Biasa - Chapter 3 by Ratna_Andia full book limited free

Chapter 3: BAB 3

(PoV Reza) Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click <a href="https://www.webnovel.com/book/tiga-cinta-wanita-biasa_20299451706152805/bab-3_56746951344971588">www.webnovel.com/book/tiga-cinta-wanita-biasa_20299451706152805/bab-3_56746951344971588</a> for visiting.

"Ah. Akhirnya aku dan Aya udah benar-benar putus. Kasihan juga dia kalau kelamaan aku gantung." kataku pada sosok wanita didepanku. Wanita itu bernama Cici. Dengan tinggi kurang lebih 165cm, badannya cukup berisi dengan kulit putih bersih. Dia berasal dari kota yang sama denganku dan melanjutkan studi dikota yang sama pula denganku. Lumayan lama aku berkenalan dengannya,sekitar 1thn kalau aku tak salah ingat. Dia anak orang kaya yang kemana-mana membawa mobil mewahnya sendiri. Dan dia menyukaiku.

Awalnya aku menolak karena aku sudah punya Aya. Meskipun kami jarang berkomunikasi dan jarang sekali bertemu, namun aku begitu menyayangi Aya. Akupun heran, bagaimana bisa aku menyayangi gadis seperti Aya, yang sebenarnya bukan kriteriaku. Namun memang rasa itu tak memandang rupa. Aku tulus menyayangi Aya.

Akhirnya karena setiap saat dan setiap waktu aku selalu bersama Cici, perasaanku ke Aya berangsur berkurang. Hingga akhirnya aku berselingkuh darinya selama hampir 6bln belakangan.

Berselingkuh memang bukan hal yang benar. Namun apalah dayaku. Aku tak bisa kesepian. Aku tak bisa tanpa perhatian. Aku butuh di perhatikan. Aku butuh cinta dan kasih sayang. Sedangkan Aya, dia sama sekali tak pernah mempedulikanku. Jangankan peduli, memulai obrolan dengan mengirim pesan atau meneleponku saja dia tak pernah.

Dia memang wanita kuno yang selalu menjaga gengsinya. Harus selalu lelaki dulu yang memulai. Itulah prinsip hidupnya.

Sedangkan aku adalah seorang lelaki modern yang masa bodoh dengan yang namanya aturan. Aku menyukai wanita yang agresif dan penuh semangat. Bukan wanita pendiam dan kutu buku seperti Aya.

Memang sih aku merasa beruntung mendapatkan kekasih yang pintar seperti dia. Membanggakan. Namun ada kalanya aku merasa bosan. Dan entah kenapa aku tak bisa begitu saja meninggalkannya meskipun aku bosan dengannya. Aku tak mampu memutuskan hubungan kami begitu saja.

Namun kali ini aku merasa kasihan kepadanya. Aku merasa aku sudah begitu menyakitinya. Dia wanita baik. Tak pantas jika terus aku sakiti terus menerus.

"Bukannya kamu sayang banget sama cewek itu ya Za? Sampai-sampai aku berkali-kali kamu tolak karenanya. Dan harus sabar jadi selingkuhanmu selama 6bln ini." sindir Cici.

"Untung kamu sabar ya nunggu aku. Jadi akhirnya kita bisa resmi pacaran deh." candaku kepadanya.

"Iyalah. Aku sabar nungguin kamu karena aku rasa aku yang paling pantas sama kamu. Aku dibandingin sama mantan kamu itu, ya bagaikan langit sama bumi. Lihat fotonya aja udah berasa bau apek. Apalagi kalau ketemu. Heran aja, cowok kayak kamu mau sama dia. Apa karena dia nggak laku, jadi kamu kasihan, atau gimana sih sebenarnya. Mau-maunya kamu pacarin dia." imbuhnya.

"Dia emang nggak terlalu cantik. Dia juga nggak kaya kayak kamu. Tapi ntah kenapa dia itu beda sama yang lain. Dia baik, pinter, dan sama sekali nggak neko-neko. Auranya positif. Banyak lelaki yang suka sama dia. Banyak yang ngejar-ngejar dia buat di jadiin istri. Banyak sainganku dulu buat dapetin dia. Ya wajar sih ya, karena dia memang wanita langka. Nggak perlu cantik dan kaya, dia bisa dapetin lelaki model kayak gimanapun. Tapi dia malah milih aku. Seneng sih waktu itu dapetin dia. Aku merasa menang dan rasanya udah nggak butuh apa-apa lagi pertama kali pacaran sama dia. Tapi lama-lama rasanya monoton. Dia terlalu baik. Aku nggak tahan." aku mengingat kenanganku bersama Aya.

"Kamu nyesel?" Cici menatapku.

"Kehilangan aja sih lebih tepatnya. Tapi kalau untuk balikan lagi, rasanya memang kita udah nggak cocok. Aku lelaki yang suka mainin wanita. Sedangkan dia bukan tipe wanita yang bisa di mainin. Ya udah lah nggak usah dibahas. Yang penting kan aku jadi milik kamu sekarang. Utuh, tanpa kurang. Hehe." balasku sambil menyenggol lengannya.

"Jadi aku bisa kamu mainin gitu maksud kamu?" tanyanya penuh selidik.

"Nggak, Sayang. Sensitif banget sih. Udah ah jangan di bahas lagi. Kita cabut aja gimana?" kataku.

"He'em. Ya udah yuk ah kita makan, aku laper." kata Cici. Tangannya langsung menarikku masuk kedalam mobilnya dan mengajakku ke restauran bagus tempat dia biasa makan malam. Untung saja dia begitu mempercayaiku. Jadi dia percaya begitu saja dengan apa yang aku katakan.

Cici memang sangat royal denganku. Selama bersamanya, dia selalu membelikanku hadiah, sekalipun aku tak pernah memintanya. Bahkan aku tak pernah boleh mengeluarkan uang sedikitpun ketika dia mengajakku makan. Pasti selalu dia yang membayar.

Dia juga selalu mengantarkanku pulang pergi dari kos ke kampus tempatku kuliah. Bahkan, dia juga selalu memberiku tumpangan setiap kali aku pulang ke kampung halaman.

Awalnya aku risih dengan perilakunya yang seperti itu. Karena aku seorang lelaki yang punya harga diri. Namun lama kelamaan aku mulai terbiasa. Apalagi setelah tahu bahwa orang tuaku lebih cenderung menyukai Cici yang kaya raya dibanding dengan Aya.

Akhirnya aku putuskan untuk melepaskan Aya. Meskipun dengan berat hati.

Malam hari selepas aku pulang makan malam bersama dengan Cici, kurebahkan badanku diatas kasur tanpa ranjang dikamar kos ku. Rasanya ingin sekali aku coba untuk segera memejamkan mata, karena ragaku yang terasa lelah setelah seharian beraktifitas. Namun aku tak bisa. Entah kenapa wajah Aya selalu menghantuiku.

Aku memang sangat menyukai Cici. Namun hatiku tak bisa aku bohongi. Kehilangan Aya terasa sangat menggangguku.

Semenjak awal berpacaran, aku sudah membayangkan untuk bisa membina rumah tangga dengannya. Aku begitu yakin kalau dia mampu membuatku bahagia.

Bisa dibilang kalau Aya adalah cinta pertamaku. Meskipun banyak sekali gadis cantik yang mengejarku dulu, namun tak ada satupun yang menarik perhatianku.

Namun aku tak bisa berbuat apa-apa. Semenjak ibuku tahu kalau aku berpacaran dengan Aya, beliau marah sejadi-jadinya. Aku tak di bolehkannya bertemu dengan Aya sama sekali. Jika aku masih membangkang, ibu tak mau lagi membiayai kuliah ku.

Karena saat ini aku masih membutuhkan orang tua ku, mau tak mau aku harus tetap memilih menurut kepada mereka daripada harus mempertahankan hubunganku dengan Aya. Meskipun tak bisa dipungkiri kalau hatiku sakit harus berpisah darinya.

Sempat aku bertanya pada ibuku, apa alasannya beliau begitu membenci Aya. Beliau menjawab kalau Aya tak sepadan dengan kami.

Aya memang bukan orang kaya. Dia anak seorang petani. Namun bapaknya juga merangkap menjadi pegawai kelurahan. Jadi keluarganya juga termasuk keluarga yang di hormati di kampung kami.

Bagiku pribadi tak masalah dengan status sosial Aya karena aku mencintai Aya apa adanya. Lagipula keluargaku, yang meskipun kami berkecukupan, kami bukan tergolong keluarga konglomerat seperti keluarga Cici. Biasa saja.

Aku pernah mencoba meyakinkan ibuku sebelum akhirnya aku menyerah. Namun nampaknya ibuku memang terlalu membenci Aya. Hingga aku berpikir kalau bukan hanya status sosial yang membuat ibuku tak merestuiku dengannya. Sepertinya ada hal besar lain yang membuat ibuku seperti itu kepadanya. Entah.

***


next chapter
Load failed, please RETRY

Weekly Power Status

Rank -- Power Ranking
Stone -- Power Stone

Batch unlock chapters

Table of Contents

Display Options

Background

Font

Size

Chapter comments

Write a review Reading Status: C3
Fail to post. Please try again
  • Writing Quality
  • Stability of Updates
  • Story Development
  • Character Design
  • World Background

The total score 0.0

Review posted successfully! Read more reviews

Cost Coin to skip ad

You can get it from the following sources

  1. 1. Daily check-in
  2. 2. Invite friends invite now >
  3. 3. Vote for new stories Vote >
learn more >
Vote with Power Stone
Rank NO.-- Power Ranking
Stone -- Power Stone
Report inappropriate content
error Tip

Report abuse

Paragraph comments

login