Forum Download app Gifts
100% ADLERAUGE / Chapter 1: Code Blue

Read ADLERAUGE - Chapter 1 online

Chapter 1: Code Blue

1

CODE BLUE

Donwell mencengkram erat sudut meja kerjanya yang lebih sering ia sebut sebagai "meja suci" dimana tidak satupun dari segelintir kolega pemilik izin akses khusus memasuki ruang sakral di Adleruage -yang pernah tahu keberadaan meja itu- boleh menyentuhnya barang seinci pun. Meja suci itu ibaratkan brangkas senilai seratus miliyar dollar bagi Donwell, yang mana sebenarnya sangat masuk akal, terlihat dari berbagai barang canggih yang tersusun rapi di atas permukaan datar dengan kayu mahoni terbaik itu memang bernilai lebih dari sekedar sangat mahal.

Jadi kondisi Donwell saat ini bisa dibilang cukup memprihatinkan, mengingat sudut meja sucinya yang biasanya tanpa debu sebutir pun, kini terancam memiliki goresan dalam efek dari kuku jari telunjuk Donwell yang tumbuh agak panjang.

Kedua bola mata Donwell bergerak dengan kecepatan mengerikan saat membaca barisan kalimat pada layar dual-touch nya yang berharga, lagi dan lagi. Keringat dingin membanjiri keningnya, tapi ia terlalu sibuk bengong untuk menyadari bahwa butiran air yang keluar dari pori-pori kulit itu hampir menetes ke atas salah satu kertas diagram yang baru saja ia cetak beberapa menit lalu. Wajah pria berambut madu tersebut memucat seiring pikirannya berulang kali membaca jejeran huruf pembentuk kalimat petaka pada layar di depannya.

"Shit!" umpat Donwell seketika saat keterkejutan itu berakhir dan cengkraman mencemaskan pada meja sucinya mengendur. Goresan kuku berhasil dihindari, tapi badai yang berkecamuk dalam kepala Donwell malah membuatnya lebih gusar.

"Aku sudah katakan untuk tidak melakukannya, Axel. Sial, kau benar-benar orang paling merepotkan yang pernah ada!" gerutuan Donwell memenuhi ruangan kedap suara. Dengan kedua tangan terangkat menjambak rambut, ia terbebas dari kaharusan mengetik balasan walau hanya sesaat.

"Damn it!" Donwell mengumpat lagi sebelum jemari tangannya akhirnya berlabuh dan menari pada pendaran keyboard semu di atas meja suci.

Jika Axel sudah membuat keputusan, tidak ada yang bisa menghentikannya, Donwell sadar. Tapi yang terjadi kali ini benar-benar diluar dugaan pria itu dan apa yang bisa ia lakukan hanyalah mengirim balasan dengan kata "ya" di depan. Tidak ada yang lebih membuatnya merasa frustasi daripada ketidakberdayaan ini.

Tiga detik kemudian sebuah pesan balasan sudah terkirim kepada pria yang ia panggil Axel. Hanya terdiri dari dua kata dengan huruf cetak tebal pada kata kedua untuk menekankan bahwa Donwell berada dalam kondisi sangat marah pada sang penguasa Adlerauge itu, "Yes, BOSS."

Meninggalkan meja suci, Donwell berjalan ke arah dapur mini khusus dibangun untuk si gila IT yang selalu menghabiskan waktunya seharian bekerja di ruangan mewah tapi sangat tertutup dari jangkauan dunia luar. Ia mengambil satu kaleng soda lalu membukanya dengan tergesa, meneguk isi kaleng sampai habis tak bersisa hanya dalam sekali kedipan mata, lalu mengambil kaleng kedua tanpa pikir panjang. Pola hidup sehat-tanpa-soda-dan-kafein yang baru-baru ini ia terapkan terpaksa harus hancur karena saat ini ia jelas membutuhkan ketenangannya kembali lebih dari apapun.

Axel baru akan kembali empat setengah jam lagi jika tidak ada keterlibatan pesawat delay dalam jadwal penerbangannya, yang berarti empat setengah jam itulah waktu yang diberikan partner kerja sekaligus sahabat karibnya itu pada Donwell untuk mengatur ulang jadwal sebagian besar para Loth dan asistennya sehubungan dengan kabar sialan yang mendadak dikirim pria itu padanya. Padahal posisi Donwell di Adlerauge tidak ada hubungan sama sekali dengan pekerjaan ala sekretaris pribadi, tapi ia selalu saja tidak bisa menghindar dari keharusan menyusun jadwal semua orang setiap kali Axel memutuskan untuk mempersulit keadaan.

Tangan Donwell mengeluarkan digicall dari dalam saku celana, menyentuh layar hitam pipih berbentuk persegi seukuran kotak korek api yang terletak di atas telapak tangannya. Layar menyala dengan pendar cahaya redup sesuai setelan terakhir Donwell kemarin saat ia menggunakan benda canggih itu. Ia mengetuk layar sekali lagi–tepat pada icon berbentuk gagang telepon–sambil berjalan kembali menuju meja suci. Pendar cahaya dari digicall seolah menyebar lalu membentuk layar plasma tepat di depan wajah lelah Donwell. Ia dengan cepat menekan angka tujuh dari jejeran sembilan angka pada layar.

"Yo! Kukira kau tidak bakal memanggilku lagi hari ini. Ada apa Don?" wajah seorang wanita muda dengan potongan rambut yang nyaris terlalu pendek untuk wajah feminimnya, muncul di layar digicall Donwell. Wanita itu tidak terusik dengan ekspresi wajah Donwell yang mengerikan, sudah merupakan hal biasa untuknya melihat lelaki itu tampak stress berat, bagaimanapun, Donwell lah orang pertama yang harus selalu berhadapan dengan si brengsek menyulitkan macam Axel.

"Oh percayalah Sassi, aku juga tidak ingin. Tapi aku membutuhkanmu untuk memberitahu yang lain bahwa semua jadwal dibatalkan, dan semua orang harus sudah berada di CB05 pukul tujuh." Donwell segera memutuskan panggilan tanpa menunggu tanggapan Sassi. Ia hanya sempat melihat ekspresi kesalnya, tapi apa peduli Donwell toh lebih daripada wanita itu dia lah yang saat ini berada dalam posisi paling menyebalkan.

Vaxelios Adler adalah si jenius berumur dua puluh delapan tahun yang terlahir dengan wajah luar biasa tampan dan rambut semerah darah. Tubuhnya tinggi tegap dengan bahu bidang dan otot bisep yang mengagumkan. Donwell harus mengakui bahwa dilihat dari sudut manapun, teman dekatnya itu lebih dari sekedar sosok yang menarik, padahal ia melihat dari kacamata seorang pria. Sayangnya wajah sempurna seorang Vaxelios Adler sepertinya tidak di desain untuk tersenyum ataupun berekspresi lebih dari sekadar wajah datar dan tatapan intimidasi. Pria itu seperti makhluk langka yang diciptakan hanya untuk menjalankan otak cerdasnya setiap hari tanpa perlu menikmati setiap detiknya.

Awal mula pertemanan Donwell dengan Axel terjadi tujuh tahun silam. Kala itu, Donwell hanya pemuda enam belas tahun yang terlalu pintar untuk menyia-nyiakan begitu saja kemampuan IT-nya yang menakjubkan, sehingga ia memutuskan bergabung dengan kepolisian Hamburg sebagai informan rahasia. Akibat keputusannya tersebut, ia lebih sering mengurung diri di kamarnya dengan dua komputer pribadi diluar waktu-waktu tidak bergharganya sebagai siswa sekolah menengah atas dibanding berteman dengan siapapun.

Dua tahun dijalani Donwell sebagai hacker paling dicari di Jerman, sampai akhirnya indentitasnya diketahui oleh kelompok pengedar narkoba paling berbahaya. Nyawanya bisa saja tidak tertolong andaikan seorang pemuda berambut merah tidak datang dan menghabisi para pengejar itu lebih dulu daripada hembusan nafas terakhirnya.

Satu jam setelah peristiwa berdarah tersebut, Donwell menemukan dirinya berbincang serius dengan si pemuda dan dua hari setelah itu ia sudah menginjakkan kaki di Okunoshima, Jepang.

Donwell cukup terkejut saat melihat bangunan-bangunan megah dengan keamanan tingkat tinggi yang memenuhi pulau terpencil yang kadang-kadang dikenal sebagai Rabbit Island tersebut. Dia pernah membaca arsip lama mengenai pulau Okunoshima, selama tahun-tahun Perang Dunia II digunakan sebagai tempat pabrik gas beracun Jepang. Karena kerahasiaan sangat penting –saat itu jepang baru saja menandatangani perjanjian yang melarang gas beracun dalam perang– Jepang menghapus pulau ini dari peta. Okunoshima memang telah di dekontaminasi setelah perang berakhir, namun Donwell tahu betul bahwa pulau ini masih menjadi salah satu pulau paling berbahaya di dunia karena enam kiloton gas mustard yang diproduksi di masa lalu. Jelas Donwell tidak pernah membayangkan bahwa pulau itu sudah dirubah menjadi tempat yang begitu menakjubkan untuk mereka para jenius yang haus ilmu pengetahuan dan teknologi rahasia.

Donwell memulai hari pertamanya di Adlerauge sebagai kantong tinju gratis hanya karena komentar tidak setuju yang ia lontarkan pada sebuah presentasi terbuka mengenai Prinsip Bergofsky. Keahliannya dalam algoritma sandi ternyata membawanya pada masalah baru setelah apa yang terjadi di Altona. Dan peristiwa yang lalu terjadi lagi, hanya saja kali ini Axel tidak melakukan pembunuhan apapun melainkan hanya memanggil para petinju dadakan itu ke kantornya. Tiga hari kemudian Donwell melihat ketiga penindasnya melangkah keluar dari gerbang depan dan tidak pernah lagi menemukan mereka disekitar Adlerauge setelah itu.

Dari sanalah pertemanan canggung Donwell dengan Axel berubah menjadi sebuah persahabatan aneh antara dua pemuda jenius yang lebih banyak terlibat pembicaraan serius alih-alih saling mengumbar tawa.

Satu tahun pertama, Donwell menghabiskan waktunya di Adlerauge dengan menyandang status sebagai siswa pelatihan. Memiliki kartu pengenal dengan kode Kelas Khusus pada Kartu Tanda Anggota (KTA)-sementaranya –yang berarti tergabung bersama segelintir pemula dengan potensi tinggi menjadi seorang Loth atau asisten– ternyata tidak membantu Donwell untuk naik status lebih cepat ketimbang yang lain. Kemampuannya dalam dunia IT sudah tidak perlu diragukan, tapi kekuatan fisiknya dalam pertarungan sangat menyedihkan sehingga ia terpaksa harus menerima jadwal latihan tambahan sebagai pengganti pengurangan kelas modern technology.

Donwell memutuskan datang ke Adlerauge bukan untuk menjadi orang yang menyedihkan, ia ingin mengasah kemampuannya dengan bergabung bersama orang-orang yang setara. Maka enam bulan berikutnya, Donwell berhasil lolos dengan nilai tes kecakapan lebih tinggi dari sebagian besar orang yang–pernah dan telah–menjadi anggota resmi Adlerauge. Ia bahkan langsung menjadi "orang beken" dikalangan pecinta IT.

Banyak hal yang membuat Donwell amat terpikat pada organisasi keagenan non-pemerintah terbesar sekaligus paling penuh rahasia itu, padahal pengetahuannya terhadap Adlerauge baru ia dapatkan setelah bertemu dengan Axel. Semua teknologi canggih dan kesempatan penelitian science –legal maupun ilegal– yang ditawarkan tempat itu benar-benar bagai surga dunia bagi orang dengan otak seperti Donwell. Lebih dari itu, ia juga merasa sangat terpikat pada sahabat misteriusnya. Well bukan dalam artian romansa, karena Donwell masih meneteskan air liur jika ada wanita telanjang di depannya, tetapi lebih pada rasa penasaran akan kemampuan Axel yang tinggi; baik dalam kecerdasan otak maupun kekuatan fisik. Apalagi pria itu sudah menduduki posisi sebagai master of Loth –sekaligus Herr, menggantikan sang ayah– diusia muda bahkan jauh sebelum Donwell bertemu dengannya.

Selama empat tahun menyandang gelar Zweite-Loth atau biasa disingkat z-loth, sebagai kapten pada divisi utama Adlerauge Science & Technology (AST), Donwell masih belum benar-benar bisa memacahkan teka-teki rumit mengenai kemisteriusan Axel. Yang berhasil dia pahami hanya sahabatnya itu adalah pribadi yang paling tidak bisa dibantah, memiliki kemampuan analisis yang brilian, cenderung marah jika jam kerjanya diganggu, dan sangat tidak suka bila ada yang tidak mematuhi peraturan-peraturan yang telah ia terapkan di Adlerauge –menjelaskan alasan pengusiran tiga petinju dadakan pada hari pertama Donwell bergabung; tidak dibenarkan melakukan pelecehan dan kekarasan terhadap sesama anggota dengan alasan apapun tanpa mendapat wewenang dari para Loth. Lebih dari itu yang Donwell ketahui mungkin hanya jiwa kepemimpinannya yang mengalahkan sang kakak dan ketegasannya yang sudah memasuki tahap haus darah. Ia mendapati bahwa Vaxelios Adler tidak pernah ragu dalam membunuh mangsa-mangsanya.

Lamunan Donwell terputus saat ia menyadari seseorang baru saja melewati pintu geser kantor utama divisi AST dan bergabung dengannya di dalam ruangan.

"A, Takeru! anata wa modotte imasuka? –Oh, Takeru! kamu sudah kembali!" Donwell berjalan mendekati pria berperawakan Japanese kental dengan tubuh menjulang beberapa senti melewati tinggi Donwell.

"Hai, sodesu –ya, begitulah. Kebetulan sekali saat Sassi menghubungiku, aku sudah di depan gerbang jadi kuputuskan untuk langsung kesini. Kasus yang biasa?" tanya Takeru Hiromasa dengan segaris senyum di bibir. Tidak ada seorang pun dari keenam Loth –diluar sang master of Loth sendiri– yang tidak mengerti arti dari panggilan mendadak dengan kode biru yang diberikan Donwell.

"Yah bisa dibilang begitu, walaupun kali ini bisa kukatakan lebih berbahaya daripada semua yang pernah dia lakukan." Donwell menghela nafas berat, tidak mengindahkan kekehan pria tiga puluh dua tahun yang baru saja duduk di salah satu kursi pada mini bar-nya.

Sebelum keduanya sempat melanjutkan pembicaraan, pintu bergeser lagi dan kali ini pemuda dengan mata biru lah yang melangkah memasuki ruangan. "Donwell, sir. Aku mendapatkan pesanmu," kata pemuda itu dengan sikap formal pada Donwell, tidak menyadari kehadiran seseorang selain sang kapten di dalam ruangan tersebut. Donwell mengangguk kecil tanpa repot-repot mengingatkan kembali pada asistennya itu untuk berhenti bersikap terlalu formal.

"Aku perlu kau untuk mempersiapkan CB05, dan hubungi semua asisten-utama Loth untuk hadir juga dalam rapat pukul tujuh," katanya. Pemuda itu berbalik dan berjalan meninggalkan ruangan setelah mengangguk sopan, masih tidak menyadari keberadaan Takeru yang duduk dengan posisi santai, kaki kanan menyilang pada kaki kiri.

"Bocah itu tidak pernah berubah," celetuk Takeru saat Donwell memberikan sekaleng soda padanya. "Jangan tersinggung hanya karena dia tidak merasakan kehadiranmu," tanggap Donwell sekenanya.

"Bukan itu maksudku. Aku malah senang sekali kalau kemampuanku yang satu itu masih tanpa cacat. Sikap formalnya itu yang menggangguku, padahal dia masih bocah."

Donwell tidak mengindahkan gerutuan Takeru. Sudah menjadi hal yang biasa baginya. Pria yang sangat suka bersikap santai itu memang tidak pernah absen mengomentari sikap asisten-utama Donwell sambil memasang wajah protes berat, padahal gerutuannya hampir melulu berisi kata-kata yang sama. Donwell kadang tidak ingat kalau Takeru jauh lebih tua darinya, pria itu terlalu kekanak-kanakan untuk berusia tiga puluh dua tahun dan terlalu easy going untuk menyandang gelar Vierte-Loth kapten divisi bagian dari Adlerauge Clandestine Service (ACS); Infiltration Clandestine Service (ICS) –divisi penyusupan.

"Kau tahu dia masih bocah, tapi tetap mengharapkan hal lebih darinya," celetuk Donwell sambil lalu. Orientasi seksual salah satu teman dekatnya itu memang sudah bukan rahasia lagi bagi Donwell, mengingat beberapa tahun silam ia sendiri yang menjadi objek interest sang partner kerja. Untungnya Donwell tidak punya penyakit homophobic, jadi setelah ia menolak mentah-mentah pria Japanese itu, dia tidak merubah sikap ataupun risih untuk menjalin pertemanan dengannya.

"Nah, diluar ketidakfleksibelanmu dalam urusan hati, kau selalu peka dengan masalah percintaan orang lain, Hewitt."

Tatapan mata Donwell menajam tatkala nama depannya disebut-sebut. Ia selalu tidak suka jika ada yang memanggil dengan nama itu alih-alih nama keluarganya. Well, siapa juga pria dewasa dengan tingkat kecerdasan jauh diatas rata-rata yang tidak benci dipanggil "little smart one" huh? Donwell jelas keberatan, terlebih lagi jika namanya disebut dengan menggunakan intonasi seperti yang Takeru lakukan.

"Jangan panggil aku Hewitt!"

"Dan aku tidak 'selalu peka' kau saja yang terlalu mudah ditebak, seperti membaca buku yang terbuka."

"Die Sanitäter, kau mengingatkanku kenapa aku dulu jatuh cinta padamu." Senyum jahil Takeru mengembang, ia tahu betul Donwell paling tidak suka digoda.

"Berhenti bertingkah menjijikan Takeru. Atau kau harus terpaksa berurusan dengan kepalan tanganku."

Melirik sekilas pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya, Donwell mendapati jarum pendek sudah mengarah diantara angka enam dan tujuh sedangkan jarum panjang tepat berada pada angka delapan. Kurang dari setengah jam lagi, batin Donwell. Ia mendekati meja suci, mengecek layar dual-touch nya yang ternyata masih dalam mode aktif, segera saja pria dengan tinggi enam kaki tersebut menyentuh tombol kecil pada ujung keyboard plasma-nya. Keyboard semu itu perlahan menghilang, hanya menyisakan tabung lonjong seukuran genggaman tangan di sisi kanan dual-touch. Otomatis mengaktifkan sistem keamanan sandi hasil rancangan Donwell pribadi.

Sekalipun Saaltech–julukan kantor utama divisi AST–termasuk dalam tiga ruangan dengan keamanan paling tinggi di ADASHDE (Adlerauge Das Hauptgebäude) –gedung utama Adlerauge, Donwell harus selalu waspada terhadap kemungkinan penyelundup yang ingin melakukan penyadapan pada komputer dual-touch nya. Karena jika sedikit saja isi komputer super canggih dengan dua layar plasma sentuh itu berhasil dibajak, maka kemungkinan Adlerauge mengalami keruntuhan lebih besar dari kemungkinan matahari terbit pukul 6.24 pagi.

Semua data top secret dengan berbagai kode kepentingan memang sudah menjadi tanggung jawab Donwell sejak empat tahun terakhir selaku kapten divisi AST. Belum lagi seluruh informasi rahasia yang masuk untuk dianalisis dari berbagai Negara serta keamanan menyeluruh di Adlerauge, semuanya tergantung pada kecakapan Donwell dalam menjalankan tugasnya. Untuk itulah sang Germane selalu memastikan seluruh alat elektronik yang berada di atas meja sucinya –komputer dual-touch, flashroll, dan detracker– dalam keadaan tersandi sebelum ia melangkah keluar dari Saaltech.

Donwell berjalan beriringan dengan Takeru sambil melakukan pembicaraan ringan ala teman lama yang beberapa minggu terakhir saling disibukkan oleh pekerjaan masing-masing. Lorong ADASHDE yang sepenuhnya tertutup dengan dinding beton dan banyak kaca anti peluru di beberapa bagian, sore itu hening. Selain sebagai gedung utama, ADASHDE memang kerap disebut juga gedung terisolir karena hanya orang-orang tertentu saja yang dapat masuk ke dalamnya. Apalagi pada keadaan istimewa seperti saat ini, dimana para Loth dan asisten-asistennya sedang disibukkan projek pembuatan senjata baru dengan kerahasiaan tingkat tinggi, gedung mewah sekaligus sakral itu menjadi lebih sepi pengunjung.

Beberapa kursi pada sisi meja panjang dalam ruangan dengan kode CB05 sudah ditempati empat orang berseragam resmi, berwarna biru gelap dengan badge perak membentuk huruf "A" rumit di dada sebelah kanan sebagai lencana jabatan. Keempatnya berdiri dan mengangguk hormat pada Donwell dan Takeru yang baru saja bergabung dalam ruangan meski tanpa pakaian kebesaran mereka yang berwarna merah nyaris hitam dengan badge "L" emas.

Setelah melempar tatapan penuh arti sekilas pada asistennya dan mendapat anggukan ringan, dengan sekali lambaian tangan Donwell, para Asisten-utama itu kembali duduk di tempat masing-masing. Takeru berjalan menuju kursinya yang biasa dan mendaratkan bokongnya beberapa detik sebelum Donwell.

Rapat baru dimulai sepuluh menit kemudian, saat jarum panjang flash-c tepat berpendar mengarah pada angka dua belas. Jam tujuh tepat. Sudah ada tambahan enam orang, dua diantaranya mengenakan seragam biru gelap seperti keempat Asisten-utama.

"Kukira kita tidak akan mengusik mainan NSA?" kata seorang pria dengan rambut dikuncir sembarangan. Wajahnya agak terlihat menakutkan mengingat ada sebuah bekas luka besar di sebelah kanan wajahnya yang memanjang dari sudut bawah mata hingga rahang, ditambah lagi lima buah anting bejejer di telinga kirinya. Pria itu memakai jaket denim biru gelap dipadu dengan kemeja lusuh hitam bertuliskan "death" besar di tengah. Beberapa saat lalu ia terlihat bosan, tapi sekarang matanya berkilat tajam dan alisnya nyaris bersatu dalam satu garis lurus.

Donwell menghela nafas berat, sudah tahu akan ada pertanyaan retoris seperti itu yang disuarakan di ruangan ini, mengingat hubungan "tidak terlalu menyenangkan" mereka dengan organisasi pemerintah Amerika yang mengatasi segela sesuatu mengenai dokumen rahasia dan pertahanan nasional.

"Terakhir kali aku cek memang begitu, tapi rupanya Adler memutuskan hal yang sebaliknya," kata Donwell sambil menahan geram saat menyebutkan panggilan resmi Axel. Sang pria berkuncir seketika menggeleng gusar, antara bersimpati dengan sang z-loth dan dirinya sendiri, mengingat pada pertemuan terakhir sebelum Axel meninggalkan Okunoshima, pria itu sudah menerima ketidaksetujuan Donwell tentang rencananya.

"Tunggu sebentar, apa maksudmu dengan 'mainan NSA' Adam? Aku tidak ingat pernah mendengar hal ini sebelumnya." Kali ini yang bersuara adalah salah satu dari dua orang wanita dalam ruangan. Ia masih mengenakan sweater rajut berwarna emerald yang ia pakai saat tadi menerima panggilan Donwell. Rambut pendeknya tertata rapi dengan poni depan menutupi sebagian keningnya.

Donwell bertukar lirikan lelah dengan Adam, merasa bodoh karena lupa bahwa pembicaraan mengenai NSA (National Security Agent) hanya dihadiri mereka berdua dan Axel. Tidak ada anggota Loth lain yang sempat diberitahukan hal ini mengingat Axel membahasnya begitu tiba-tiba tanpa mengadakan rapat tertutup seperti yang biasa dilakukan pria itu.

Sembari mendesah pelan, Donwell mengutip ulang pembicaraan–atau lebih tepat disebut perdebatan–terakhirnya dengan Axel mengenai salah seorang agen kunci NSA yang mendadak menghilang saat sedang menjalankan tugas lapangan dua bulan lalu. Donwell juga secara singkat mereka ulang bagaimana Axel berhasil mendapatkan informasi mengenai keberadaan wanita itu dan–dengan seenaknya–memutuskan pergi untuk memastikan kebenaran informasi yang didapatnya.

"Jadi yang kau maksud dengan kode biru itu adalah Adler sedang dalam perjalanan kembali dari God-knows-where lengkap bersama wanita yang sedang kita bicarakan ini?!" teriak Sassi agak histeris sambil menggelengkan kepalanya seolah berharap hal itu dapat merubah kenyataan yang ada. Semua orang tahu betul kalau ada batas keras berupa garis baja antara Adlerauge dan NSA dalam mencampuri urusan satu sama lain. Masing-masing lebih suka tidak diganggu dengan hal apapun meski melibatkan campur tangan FBI, bahkan PBB.

"Kau pasti bercanda."

"Yeah, aku memang orang yang humoris kan." Donwell mendengus kasar.


Load failed, please RETRY

New chapter is coming soon Write a review

Privileged

More Privileged Chapters

Download the app and become a privileged reader today! Come take a sneak peek at our author's stockpiled chapters!

Download

Weekly Power Status

Rank -- Power Ranking
Stone -- Power Stone

Table of Contents

Display Options

Background

Font

Size

Chapter comments

Write a review Reading Status: C1
Fail to post. Please try again
  • Writing Quality
  • Stability of Updates
  • Story Development
  • Character Design
  • World Background

The total score 0.0

Review posted successfully! Read more reviews
Send Gifts
Gifted
Thank you for your generous gift.

Cost Coin to skip ad

You can get it from the following sources

  1. 1. Daily check-in
  2. 2. Invite friends invite now >
  3. 3. Vote for new stories Vote >
learn more >
Vote with Power Stone
Rank NO.-- Power Ranking
Stone -- Power Stone
Report inappropriate content
error Tip

Report abuse

Paragraph comments

login
Report inappropriate content
error Tip

Get More Coins

Please switch to the pop-up to complete the payment.

Earn Rewards Earn Rewards

Earn rewards

by completing the missions

Complete daily missions to get rewards.

Learn more about the rules
  • 1. Reward frequency has been adjusted! Receive a reward once you complete two minutes of reading!
  • 2. Rewards adjusted! Earn points reading to exchange for Amazon Gift Cards! Coins that never expire! More rewards to come!(The above rewards are only available on the app.)

This's an experimental test for reading assistance in case.

We highly recommend you to enjoy the beauty of the original words.